Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia – Caranya?


Aku Cinta Film Indonesia – Film Yang Bagaimana?

Setiap kita, pada dasarnya, menyukai film, apapun jenis genre-nya. Baik itu kartun, animasi, aksi, petualangan, misteri, horor, termasuk film bertema reliji atau agama dan budaya. Namun, pertanyannya, film seperti apa yang telah atau kita tonton itu? Lantas, seberapa jauh film bisa berpengaruh pada hidup kita? Kenapa pula sebuah film wajib dikaji terlebih dahulu oleh pakar kebudayaan dan sastrawan sebelum diedarkan ke khalayak pemirsa Indonesia?

Tulisan saya berikut ini diniatkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya memang bukan termasuk ke dalam pihak-pihak yang bisa membuat film dan memproduksinya. Walaupun demikian, sebagai salah seorang penikmat, sekaligus pengkritik film, saya tentu sedikit banyak mengerti akan apa yang baik dan bagus mengenai sebuah film. Berangkat dari latar belakang saya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris (sekarang, Ilmu Budaya) di Universitas Andalas, dan saat ini (yakni pada saat saya menulis tulisan ini) sedang studi di Amerika, dengan bidang Bahasa Inggris, konsentrasi pada Komposisi: Budaya, Sastra, dan Bahasa, maka setidaknya ada sebuah kewajiban bagi saya untuk berbagi ilmu dengan pembaca blog saya ini tentang Tips Membuat Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia. Melalui tulisan ini, saya akan membahas sedikit banyak kaitan antara Film dengan Budaya, serta antara Film dengan Alam Bawah Sadar pemirsa. Konsep yang akan saya gunakan untuk membahas Topik ini berkaitan dengan Teori Alam Bawah Sadar yang diajukan oleh Sigmund Freud. (Bagi mahasiswa sastra dan psikologi, pasti telah mengenal teori ini). Teori-teori berat sengaja tidak saya jabarkan di sini karena tujuannya bukan untuk memaparkan suatu konsep yang rumit, namun menjelaskan upaya yang benar dan baik perihal membuat film bertema agama dan budaya di Indonesia dengan bahasa yang sesederhana mungkin, mengingat tidak semua pembaca Indonesia yang paham bila saya cas cis cus dengan Bahasa Asing di sini.

Film — Konteks — Pemirsa

Sebuah film, dianggap dan dinilai sebagai sebuah “teks”. Dalam ilmu Kajian Media, teks bisa bersifat semua yang kita lihat dan baca serta dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan Film, di dalam Film, yang kita tonton itu, termuat di dalamnya sebuah Konteks. Konteks berfungsi sebagai bingkai, atau wadah di mana film tersebut diproduksi dan diedarkan serta dikonsumsi sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran bagi pemirsa. (Kalau hanya sekedar Hiburan, kan sudah ada Musik dan Lagu, ya toh?) Dengan demikian, keberadaan Pemirsa juga bisa mempengaruhi Konteks di mana Film tersebut akan ditayangkan. (Ingat lho, biaya membuat Film itu tidak sedikit, jadi jangan jadikan kegiatan ini sia-sia). Kaitan antara ketiga unsur ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, sebab tanpa keberadaan Pemirsa, Film akan menjadi sia-sia; dan tanpa sebuah Konteks, Film bisa menuai berbagai macam permasalahan karena keberagaman tipe dan macam pemirsa. Di Indonesia, pemirsa kita bermacam-macam. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kaitanya dengan pembuatan film bertema agama dan budaya, tentu Pemirsa di sini adalah orang-orang yang erat kaitannya dengan agama dan budaya di mana Film tersebut diproduksi. Logikanya, Film yang dibuat sebaiknya sejalan dengan Sifat dan Karakter Pemirsa atau Penonton di Indonesia agar Film tersebut Menarik dan Layak untuk ditonton serta dapat dijadikan Media Pembelajaran bagi generasi muda untuk berfikir akan nasib bangsanya ke depan kelak. Jika kita lihat ke Indonesia, terdapat berbagai macam unsur kebudayaan yang ada, tersebar dari Aceh hingga ke Merauke. Mengenai Agama, terdapat pula Lima Agama di Indonesia: Islam, Nasrani, Katolik, Hindu dan Buddha. Sebagai orang Indonesia, kita sebaiknya sadar akan keberadaan penganut agama ini. Oleh sebab itu, yang perlu kita pertahankan adalah keberlangsungan akan kerukunan umat beragama di negara kita. Sebuah Film yang bertema Agama, wajib untuk tidak menyinggung agama apapun. Sebuah Film yang bertema Budaya, wajib untuk bisa merepresentasikan budaya yang disampaikan dengan seksama, agar tidak ada pihak-pihak di Indonesia yang merasa terintimidasi atau merasa terancam, apalagi jika Film tersebut berkaitan dengan komunitas marjinal yang ada di negara kita.

Penulis — Sutradara — Produser

Peran penulis, sutradara, dan produser sangat erat dan penting fungsinya bagi proses pembuatan sebuah film. Mengenai penulis, siapa pun bisa menjadi penulis. Pertanyaannya, penulis yang bagaimana? Pertanyaan yang sama juga jatuh kepada sutradara dan produser. Sebuah pertanyaan kritis yang timbul dari benak saya adalah: “Apa prinsip, visi, dan misi serta niat sutradara dan produser sebelum memprakarsai sebuah pembuatan film? Apa latar belakang mereka secara pribadi? Film-film apa saja yang telah mereka produksi? Apa komentar dan kritik dari pemirsa mengenai Film yang mereka produksi?” Saya mengamati bahwa pada dasarnya, pemirsa Indonesia, tidak mencermati atau mempertanyakan siapa individu yang termasuk ke dalam tiga unsur ini. Penulis yang sejati, ketika karyanya di-film-kan, pasti akan sangat terharu, namun, dia tentu akan wanti-wanti, apakah karyanya bisa “diwakili” dan “terwakili” di layar lebar atau tidak. Alasannya, banyak juga kenyataan di mana Pemirsa kecewa menonton Film Layar Lebar yang diangkat dari Novel karena banyaknya bagian cerita yang dipotong. Alhasil, itu akan merugikan kandungan makna Novel si Penulis. Sutradara, pada dasarnya, adalah individu yang memotori dan meracik sebuah film menjadi menarik dan berdaya guna. Baik atau tidaknya penilaian Pemirsa mengenai Film-nya, itu termasuk ke dalam tanggung jawab Sutradara. (Kenapa? Baca terus, ya?) Sementara Produser, atau mungkin bisa juga disebut Sponsor, bertanggungjawab perihal Pembiayaan Film, meski Produser juga tertarik kepada Profit atau Untung dari Film. Di titik Produser ini, perlu juga dilihat, ingin mendapat untungnya tersebut berupa apa? Apakah dengan cara menghalalkan segala upaya untuk meraih untung? Menghindari sisi kemanusiaan?

Film Asing — Lebih Laku — Banyak Ditonton (Film Indonesia?)

Kita sadar kalau Film kita tidak semuanya yang laku di pasaran per-film-an internasional. Ada yang bagus, tapi juga tidak sedikit yang kurang bagus. Sementara, kita sering tergiur dengan lakunya film luar, bahkan terkadang, bisa mengalahkan posisi film tanah air kita. Kita juga ingin film kita mengalami hal yang sama. Lantas, kenapa bisa laku? Wajar saja laku, karena faktor bahasa di film tersebut dan faktor budaya pemirsa internasional serta selera pemirsa internasional.

Mengenai bahasa, tidak selalu film yang laku di dunia internasional itu mutlak menggunakan bahasa Inggris, namun, dengan menggunakan bahasa Inggris, setidaknya cakupan jumlah pemirsanya menjadi lebih luas. Faktor budaya juga mempengaruhi bagaimana sebuah film dinilai di mata dunia internasional. Karena budaya Indonesia yang cukup “kontras” dengan budaya “luar”, wajar film Indonesia sedikit terasa berbeda nuansanya bagi pemirsa internasional. Ujung-ujungnya ini berkaitan dengan selera pemirsa internasional. Tidak mutlak pemirsa internasional suka film yang berbau kekerasan atau animasi yang penuh intrik serta dibarengi dengan kualitas video dan audio yang bagus. Namun, unsur seperti ini sudah sangat menunjang untuk menjadi sebuah film yang bagus. Sebuah film drama yang bertema keluarga saja bisa laku keras di pasaran karena menginspirasi bagi mereka. Kenapa? Karena film yang laku keras tersebut memberikan inspirasi kepada pemirsa sesuai konteks kebiasaan dan “selera” hidup di mana mereka berada. Kalau kita menonton film Hollywood, misalnya, konteks alur ceritanya dibangun dari sudut pandang orang Amerika. Sementara, film Bollywood, juga mewakili bagaimana orang India mewakili berbagai macam cerita yang diinspirasi dari kultur mereka sehari-hari. Bagaimana dengan kita? Apakah film kita sudah mewakili keberagaman budaya kita? Apakah film kita masih berorientasi profit? Kaitannya dengan Agama dan Budaya, film-film Hollywood dan Bollywood juga memiliki tema Agama dan Budaya, tapi tentu sesuai konteks Amerika dan India. Namun, apakah kita melulu meniru bagaimana orang lain membuat film? Lantas, apa yang menjadi ciri khas film kita? Nah, pada titik ini, kita kaitkan dengan selera pemirsa Indonesia secara garis besar. Saya masih ingat ketika rekan kuliah saya dulu bilang begini, “Hollywood itu identik dengan pistol, sex, dan teknologi. Bollywood itu identik dengan nyanyi, tari, dan aneka masalah sosial di India. Kalau Jepang, ada Samurai. Kalau China, dengan Ninja” Sementara, Film kita? Banyak ide yang bisa dijadikan film. Cuma, dari mana ide tersebut? Dan, apa ide tersebut baik atau jahat? Itu dulu, baru pikirkan soal profit. Kalau Film menarik, ada unsur pembelajaran di dalamnya, dan unsur audio-visualnya mendukung, siapa sih yang tidak akan menonton? (Lho, kok bisa gitu? Kan harus nonton dulu?) Kan ada sinopsis, dear one… Kan bisa baca sinopsis itu.

Film — Novel

Banyak film-film besar yang diangkat dari Novel. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Anda pasti sudah tahu akan hal ini. Pertanyaannya, apakah mutlak novel yang laku keras bisa laku pula setelah di-film-kan? Belum tentu. Apakah novel yang biasa-biasa saja bisa membuat filmnya laku keras? Bisa jadi. Seperti argumen saya di atas, sebuah Film, laku atau tidak, bergantung kepada Konteks dan Pemirsa. Kalau Film nya sudah menawarkan kontroversi bagi Pemirsa, saya khawatir akan keberadaan Sutradara dan Produser. Mereka bisa dipertanyakan oleh Pemirsa, dan itu tentunya adalah hak Pemirsa. Novel, pada dasarnya, sama dengan Film, cuma perbedaannya terletak pada cara kita “mengonsumsinya”. Untuk Novel, kita seringkali membangun imajinasi dari susunan kata yang ditulis oleh penulis novel tersebut. Sementara Film, kita hanya duduk, diam, dan menerima apa yang disuguhkan secara visual. Nah, pada bagian ini, manakah yang lebih berbahaya? Novel atau Film? Jawabnya, Film. Mengapa? Jika kita analogikan dengan Makanan, Film sama dengan Makanan Cepat Saji. Tersedia dengan cepat kepada kita. Kita tidak punya andil di dalam “menyaringnya” kecuali setelah “dikonsumsi” terlebih dahulu. Sementara Novel, bagus atau tidaknya jatuh kepada pembaca dalam skala individu, bergantung kepada sejauh mana Imajinasi si Pembaca di dalam memahami karya yang dibacanya. Sementara Film, sekali ditayangkan di layar lebar, ratusan Pemirsa akan mengonsumsinya ke dalam alam bawah sadar mereka. Apa yang digunakan oleh akor dan aktris di film tersebut, akan secara tidak sadar ditiru oleh Pemirsa, seperti Anda, apalagi kalangan anak Remaja yang belum bisa menyaring akan apa yang mereka lihat dan “konsumsi” dari sebuah Film. Coba sekarang saya tanya, “Sebutkan artis paling cantik di Indonesia menurut Anda? Artis Pria Mana yang Paling “Hot”? Film Mana yang Membekas di Hati Anda?” (Tulis Jawabannya di Komentar Bawah ini ya?)

Film Indonesia — Moral Bangsa

“Lagi-lagi, Moral. Bisa enggak sih kita tuh berhenti ngomongin soal Moral? Masalah bangsa tuh udah lebih banyak dari ini”, protes salah satu mahasiswa saya waktu saya mengajar Cross Culture Understanding (Pemahaman Antar – Budaya). Jawab saya, “Oh, Tidak Bisa. Bukankah Indonesia itu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, juga karena bobroknya Moral? Dalam Islam, bukankah Moral itu yang namanya Akidah dan Akhlakul Karimah? Dan bukankah Moral itu berkaitan dengan Pancasila?” Alasannya begini: “Moral, tidak berbentuk, dan abstrak, alias tidak bisa dilihat. Tuhan pun tidak bisa dilihat. Tidak suka membicarakan Moral, berarti tidak suka akan keberadaan Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita. Bukankah Agama itu fungsinya untuk menjadikan manusia lebih manusia?”

Apa kaitannya dengan Film? Pengalaman saya ketika saya mau berangkat ke Amerika, saya menonton film Hollywood, mulai dari yang ada “esek-eseknya” dengan yang banyak adegan perkelahian serta yang penuh dengan nuansa science dan teknologi. (Anda tahu kok, yang mana aja). Nah, ketika saya sampai ke Los Angeles, terus ke Atlanta, dan kemudian ke Detroit, terus singgah ke Minneapolis, dan St. Louis, saya perhatikan kok kehidupan di Amerika itu jauh sekali dengan apa yang disampaikan oleh Film-nya ya? Memang sih, film tidak mencerminkan dunia nyata. Saya tahu itu. Namun, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah saya “disuguhkan” secara tidak sadar untuk melihat Amerika itu bagaimana, terutama perihal “selera film” mereka, dan unsur-unsur budaya lainnya, seperti gaya bicara dalam Bahasa Inggris, cara memakai baju, dan berbagai macam kebiasaan hidup sehari-hari. Ketika saya lihat yang nyata, kok berbeda? Ternyata kehidupan di Amerika Serikat itu lebih kompleks daripada yang saya bayangkan (karena saya belajar Topik ini di negara tersebut). Nah, ketika saya sudah berada di Amerika, baru jelas “konteks” film Hollywood tersebut. Saya pun mengerti akan “selera” orang Amerika Serikat dengan “selera” orang Indonesia berbeda dari segi dimensi psikologis, sosial, dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Ingat, Konteks Film berkaitan dengan Siapa Pemirsa dan Latar Belakang Film tersebut ditayangkan. Bagaimana kalau itu terjadi dengan Film Indonesia? Kita punya Film Berbau Hantu, Pocong, dan Kuntilanak (dominan), apa kita mau orang luar itu menilai kehidupan kita dari sana? Kita malah akan menjadi generasi paranoid. Bukannya takut kepada Sang Pencipta Alam (Allah SWT), malah takut ke Hantu, Pocong, dan Kuntilanak. Bayangkan kalau Film kita tidak mencerminkan Moral Bangsa kita, atau tidak mengajarkan Moral yang baik-baik, apa jadinya bangsa kita di mata dunia? Meski sih, banyak “penyakit-penyakit” yang perlu diperbaiki sana-sini, nggak cuma “Film”, namun, setidaknya, membuat Film yang mendidik dengan baik dan benar kan termasuk salah satu upaya untuk kita agar bisa membawa kita ke upaya kemajuan Indonesa yang baik dari segi aspek spiritual (di mana aspek ini memang kurang di berbagai belahan dunia). Kepekaan Penulis, Sutradara, dan Produser sangat diperlukan dalam hal ini. Contohnya? Banyak yang bisa dijadikan Film. Tinggal, kejelian Penulis, Sutradara, dan Produser membaca keinginan Pemirsa Indonesia (yang jumlahnya Jutaan) jika ingin Film-nya laku keras, bukan sekedar membuat Film yang diniatkan mendapat Profit, namun isinya biasa-biasa saja, malah membuat kontroversi. Itu kan, sia-sia, namanya. Di mana letak etika perfilman kalau begitu?

Film Asing — Politik dan Ideologi

“Wah, apa pula ini? Berat kali kata-kata kau, bah!”, katanya. Kataku, “Kalau begitu, kapan kamu mau belajar?” Oke, sekarang kita lihat ke Film Asing dan apa kaitannya dengan Politik dan Ideologi. Kok bisa? Seperti yang saya jelaskan di atas, sebuah Film diproduksi dan dipengaruhi oleh “konteks” di mana Film tersebut akan diproduksi, ditayangkan, dan diedarkan. Logikanya, jika Suhu Politik dan Ideologi di negara di mana Film tersebut dibuat tidak kondusif, besar kemungkinan Film yang akan ditayangkan berisi kritikan terhadap negara itu sendiri, namun perlu juga diingat, di Indonesia sudah ada Badan Perfilman Indonesia tidak? Di negara lain, mereka memiliki konsep “hukum” mereka sendiri, yang cukup berbeda dengan kita. Misalnya, konsep kebebasan atau “freedom”. Dinamika kehidupan mereka juga berbeda dengan kita, yang seringkali dinamika ini dipengaruhi oleh kultur mereka yang turun temurun, kemudian iklim, kondisi geografis, dan pengaruh budaya baru dari imigran yang ingin menjadi warga negara di negara tersebut. Namun, ketika kita lihat proses disetujuinya sebuah Film untuk layak edar ke publik, kita lihat dulu, konteks “mengapa” film tersebut bisa layak edar. Kita lihat film Hollywood, apakah mereka memproduksi film setelah mencermati budaya negara lain? Kan tidak. Bollywood? Apakah mereka memperhatikan budaya Pemirsa dari negara lain? Kan tidak. Boro-boro. Mereka tentu juga punya “selera” mereka masing-masing. Selera ini pun dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi politik dan ideologi di mana mereka tinggal dan dibesarkan. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Itu sebabnya, ketika kita menonton film buatan luar negeri, kita cenderung menikmatinya sebatas menikmati, meski pada hakikatnya, cara kita berfikir dan memutuskan sesuatu dalam hidup, juga bisa dipengaruhi oleh apa yang kita “lihat”. Salah satunya, ya, dari Film. Mungkin saat ini kita sekedar menonton saja sebuah Film, tapi coba ketika seseorang menyebut sebuah kata saja yang berkaitan dengan Film yang kita tonton tersebut, apakah pikiran kita otomatis ingat kepada “sesuatu”? Lalu, apa bedanya dengan Iklan, coba? Bagaimana Iklan di Indonesia? Bukankah Film juga bisa digunakan sebagai Media Informasi Politik dan Ideologi melalui Alam Bawah Sadar? Kalau Anda ke Mall, misalnya, Anda cenderung membeli Produk yang ada Iklannya, atau sekedar beli-beli doank? Penonton awam mungkin tidak “ngeh” akan hal ini sebab ketika menonton Film, tidak dilandasi dengan pengetahuan yang ada, sekedar menonton, atau on the surface. Bagi penonton aktif dan kritis, dia seringkali suka mempertanyakan: “Kenapa begitu?; Kok bisa sih?; atau Maksudnya apa Film ini?” Biasanya, yang kritis seperti ini tentu yang memiliki Wawasan di dalam Memahami Film dan mendalami Makna Film tersebut dibuat. Kalau kita bisa menikmati sebuah Film, sekaligus meng-kritisi nilai-nilai yang ada di dalamnya, Kenapa tidak? Sebagai penonton Kritis, tentu sudah kewajiban kita untuk berbagi makna apa yang kita peroleh dari Film yang kita tonton. Bisa jadi penonton lain sekedar nonton doank, dan kita tahu jelas makna Film-nya secara positif dan negatif?

Film Indonesia — Mencerdaskan Bangsa

“Bangsa Indonesia sudah cerdas, kok, mereka udah tahu apa yang mereka lihat dan kerjakan”, kata seseorang pada saya. Saya jawab, “Waduh, jangan percaya. Kalau percaya, berarti elo sama aja dengan enggak mau maju, dan mendekati sifat Ujub, bangga diri, yang akhirnya enggak membawa elo ke mana-mana, selain menjadi stagnan, atau itu-itu aja. Akhirnya, elo dan bangsa elo kagak bakal mau belajar, karena sudah ngerasa cerdas”. Sekarang, kita kembalikan ke Film kita. Apa perlu Film itu harus mencerdaskan bangsa? Lalu bagaimana Film yang mencerdaskan bangsa itu? Begini, tadi di atas kita kan sudah membahas mengenai kaitan antara Konteks dan Pemirsa, sekarang, kita lihat kepada konsep kata “cerdas”. Menurut saya, Cerdas itu tidak sama dengan Pintar. Seseorang yang memiliki nilai Matematika misalnya, berarti ia Pintar di dalam Matematika. Seperti saya misalnya (ceilah), saya bisa Berbahasa Inggris, itu namanya Pintar Berbahasa Inggris (meski saya akui, Bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat kayak native speakers itu. Lol.). Cerdas itu, menurut saya, bisa menggunakan Ilmu yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang ada dan yang sedang dihadapi dengan benar dan baik tanpa ada penyesalan di kemudian hari. Coba kita lihat ke bangsa kita? Masalah macam apa yang enggak ada coba? Banyak kan? Nah, apakah kita mau Film Indonesia juga menciptakan masalah baru di tengah-tengah pemirsa?

Bukankah Cerdas namanya jika melalui Film kita menyajikan ke Pemirsa Indonesia akan sebuah Masalah atau Realita yang ada (bukan dari masalah pengalaman pribadi seseorang yang seringkali bias dan terlalu subjektif), lalu kita sampaikan sebuah Solusi akan permasalahan yang ada dengan bingkai agama dan budaya Indonesia yang baik dan benar, bukan dibuat-buat. Perlu diingat, Solusi yang diberikan harus dari sudut pandang agama dan budaya kita, bukan dari apa yang baik dan bagus menurut Sutradara dan Produser. Jika tidak, itu tadi, bisa melanggar Konteks, dan pada akhirnya Pemirsa akan merasa terintimidasi dan tersinggung dengan penayangan Film tersebut. Sekali Film dibuat, sekalipun dihapus, akan ada-ada saja pihak yang mengait-ngaitkan Film tersebut dengan konsep-konsep ini itu, yang pada akhirnya akan membuat beberapa kelompok masyarakat akan termarjinalkan. Lebih dalam dari ini, kita lihat ke bangsa kita. Tidak semua orang yang pernah mengelilingi Indonesia, itu Fakta. Nah, ini juga bisa dijadikan Film, bukan melulu soal Agama dan Budaya saja, bisa juga bertema tentang Alam Indonesia, agar orang Indonesianya lebih peduli lagi dengan alamnya. Kerja sama antara Dinas Pariwisata dengan Dunia Perfilman Indonesia, juga oke kan? Selain Film seperti ini memuat Realita Alam Indonesia, Film ini juga akan bernilai jangka panjang bila ditonton oleh generasi Indonesia yang mempelajari Karya Seni bangsanya nanti di tahun-tahun mendatang. Bisa jadi ada mata kuliah berjudul “Perfilman Indonesia”, ya ‘kan? Apakah orang Bali pernah ke Padang, misalnya? Apa yang mereka ketahui tentang kehidupan di Padang, misalnya? Apakah orang Bandung, pernah ke Jayapura, misalnya? Masih banyak kan yang bisa dijadikan bahan materi menjadi Film?

Berikut ini beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepada Penulis Film, Sutradara, dan Produser. Poin-poin ini masih sederhana, namun saya berharap untuk bisa dipertimbangkan dengan seksama.

Sebelum Membuat Film

  1. Pahami Karakter dan Budaya Bangsa dengan Secermat-cermatnya – Ingat Pemirsa : “Siapa Penonton Karya Saya?”, misalnya.
  2. Hindari Membuat Film yang Terlalu Banyak Adegan “Panas” (kalau perlu tidak ada) – Ingat, Industri Pornografi tidak akan pernah berhenti karena itu buatan negara lain, jadi tidak penting kalau Film Indonesia menyuguhkan hal yang serupa. Film Indonesia harus lebih kreatif dari ini. Jangan menyuguhkan hal yang biasa jadi murahan.
  3. Cari Inspirasi dari Kisah-Kisah Orang Indonesia yang Sukses dan Berhasil dalam Hidupnya. Itu lebih Nyata. Sebab, sudah ada Solusinya pada Mereka. – Ingat, Film yang Baik itu adalah Yang Menginspirasi kepada Kemajuan dan Kebaikan, bukan menyisakan Tanda Tanya, di mana Tidak Semua Pemirsa yang Berfikir dengan pola dan struktur yang sama. Alhasil, Film Anda pun sia-sia, dan tidak bermanfaat bagi Pemirsa. Perkejaan yang sia-sia itu, tentu bukan karakter bangsa kita, kan? Kan katanya mau maju? Trus, kan katanya mau jauh dari penjajahan? Kok malah niru gaya orang lain, ya toh?
  4. Sering-sering baca Novel karya Penulis Indonesia – Ingat, Pemirsa Utama adalah Bangsa Indonesia. Kalau Novel yang akan diangkatkan menjadi Film adalah Novel karya Penulis Indonesia, maka besar kemungkinan “selera” Pemirsa Indonesia juga sama. Ini membantu Pemirsa Indonesia untuk memahami “konteks” film tersebut. Dan, tidak perlu membawa tema yang berat-berat, yang ringan-ringan saja, tapi menarik, dan bisa dijadikan pembelajaran. Tidak usah difikirkan “selera” Pemirsa luar negeri, sebab mereka juga sudah punya banyak stok Film di negara mereka. Laku di Indonesia saja sudah membawa Jutaan Rupiah, mengapa Repot-Repot Memikirkan Untung dari Negara Luar? Pada bagian ini, tentu penting kita lihat Konteks Film kita. Kalau masalah sensitif Budaya dan Agama kita diangkat, sebaiknya jangan. Masih ada wadah dan media yang lebih proporsional untuk hal ini.
  5. Pahami Dampak Film Tersebut bagi Anda – Ingat, Tidak Semua Pemirsa akan Berfikir seperti Anda. Kalau Film yang Anda buat itu berkisah tentang Realita dan Masalah Kehidupan, berikan Solusinya yang Konkret, Jelas, dan Masuk Akal serta sesuai dengan Konteks di mana Pemirsa Hidup dan Tinggal, apalagi disesuaikan dengan Konteks Agama dan Budaya mereka. Bukankah Anda akan bahagia jika Film Anda bisa membawa kedamaian di hati Pemirsa? Bagaimana rasanya bagi Anda, bila beberapa Pemirsa Anda mengungkapkan rasa senangnya setelah menonton karya Film Anda? Dan bagaimana pula rasanya jika Anda mendengar dan membaca caci maki Pemirsa Film Anda?
  6. Diskusi dengan Pakar-Pakar yang Menguasai Ilmu Perfilman, Budaya, Seni; dan Belajar dari Film-Film Box Office Indonesia, bukan Box Office Negara Lain. Ini penting, karena berkaitan dengan Konteks. Dari seluruh Film kita yang laku keras, coba dianalisa Film seperti apa yang masih “disukai” Pemirsa, kalau memang niat Anda ingin mendapat Profit. Pertahankan ke arah demikian. Sepertinya, Pemirsa kita, pilih-pilih di dalam menonton Film. Dan, sistem pemasaran Film biasanya dari mulut ke mulut, dan dari blog ke blog, serta dari status di FB mereka, atau Twitter, dan bahkan radio, serta pamflet yang disebarkan di kampus-kampus. Kalau saja satu orang kritis terhadap Film Anda, maka, besar kemungkinan teman-temannya yang lain juga tidak akan suka. Jadi, sebaiknya perhatikan betul konsep Konteks dan Pemirsa jika Anda ingin Film Anda laku dan diminati oleh Pemirsa Indonesia.
  7. Selalu Ingat Pemirsa – Ingat, Pemirsa itu Individu, bukan Khalayak Ramai, tidak bisa dipukul Rata. Bisa jadi karya Film Anda sangat berarti bagi seseorang yang Anda kenal, (atau Anda ketahui di dunia maya, misalnya), namun bukan berarti Anda membuat Film untuk dia seorang, kan? Apa manfaatnya bagi orang banyak untuk mengetahui dan menyaksikan Film ini? Diskusikan dengan teman dan rekan-rekan Pakar Ilmu Budaya, Sastra, Film, dan Bahasa, serta Pendidikan, yang duduk manis di kantor mereka di berbagai Universitas di Indonesia mengenai inspirasi yang Anda dapat. Dan juga, tanyakan juga kepada anak-anak muda yang sedang nongkrong, Film seperti apa yang bagus buat mereka. Apalagi kalau tema Film Anda adalah Agama dan Budaya. Tema ini sangat-sangat berat untuk diangkat. Kalau tidak punya landasan yang jelas mengenai Agama dan Budaya apa yang akan Anda angkat, Anda hanya akan menghasilkan kekisruhan. Hal yang sensitif tidak perlu disajikan, sebab, bukankah budaya bangsa Indonesia, yang suka menjaga perasaan sesamanya? Kalau kita membuat Film dengan tujuan dan target Pemirsa yang jelas, pasti Film kita, paling tidak, bernilai manfaat bagi Pemirsa kan? Film yang bagus itu, menurut saya, adalah yang bila kita tonton berulang-ulang, akan selalu ada makna dan nilai yang ada di dalamnya, tidak hanya sekedar sebatas mengangkat isu terkini atau hal-hal yang sudah jelas garis pembatasnya di tengah kehidupan kita. Orang awam pun, jika mereka suka dengan sebuah Film, pasti akan dibeli Copy-nya yang asli, dan dipinjamkan ke teman-temannya. Alhadil, Pemirsa Anda akan lebih banyak ketimbang yang duduk di bioskop. Secara jangka panjang, pasti akan mengikuti karya-karya Anda kembali ke kemudian hari. Jadi, mana yang penting, unsur Profit, atau unsur manfaat jangka panjang dari Film Anda itu?

Pada saat membuat Film:

  • 1. Apakah Pemain Film sudah terkenal atau pemula?

Ini perlu diperhatikan dengan baik karena “image” pemain Film akan mempengaruhi Pemirsa di saat menonton Film. Kalau pemain Film-nya sudah kadung memiliki image yang baik di mata masyarakat, berikan kesempatan kepada pemain Pemula, agar mata orang Indonesia segar dengan apa yang mereka saksikan di Film Anda. Namun, tidak salah juga mempertahankan selebritis yang bagus dan baik kepribadiannya di tengah masyarakat. Sekalipun dia bermain antagonis, toh, orang akan tetap suka padanya. Kalau pun selebritis itu berperan baik-baik, atau protagonis, misalnya, orang tetap tidak akan suka kalau kenyataannya si dia punya perilaku buruk dan tidak patut dicontoh.

  • 2. Apakah Lokasi atau Setting Pembuatan Film memiliki Sejarah atau Intrik Khusus dengan Film yang akan Dibuat? Kira-kira, reaksi warga Indonesia mengenai lokasi tersebut bagaimana?

Kalau kita Arif dan Bijaksana, kita tentu seharusnya tahu apa kaitan antara Film kita dengan lokasi syuting. Jangan salah lho, Film-Film Barat itu sangat mementingkan Lokasi. Lokasi berbicara secara tidak langsung kepada Pemirsa. Karena lokasinya di “New York”, maka terkesan Oke kan? Coba tengok Film-Film yang berlokasi di kota-kota besar Amerika Serikat, misalnya. Makanya banyak yang suka karena kata “New York” saja sudah membuat orang lain suka. Coba kalau kita menonton Film yang lokasinya di daerah kumuh, atau tempat-tempat di negeri dongeng, apa ingatan kita tertuju pada suatu tempat di sekeliling kita? Setiap Pemirsa, memiliki ingatan tersendiri lho, soal lokasi syuting dan setting di mana cerita Film tersebut dimainkan. Dan, yang lebih lagi, Film juga bisa digunakan untuk memasarkan nama dari suatu kota atau negara, misalnya, Australia. Oleh sebab itu, sensitifitas Sutradara dan Produser di dalam membaca situasi ini penting. Buat saja Film yang  disukai Pemirsa sesuai Konteks, pasti kemungkinan laku sangat besar. Jadi, enggak perlu berbelit-belit, kan? Apalagi yang kontroversi, mereka juga bakal menonton, tapi jika setelah menonton karya Anda, Pemirsa Anda malah mengutuk pekerjaan Anda, apa manfaatnya, coba? Tentu kedamaian di hati Anda, akan terusik. Jika tidak, yah, Tuhan Maha Tahu.

  • 3. Apakah Alur Cerita Masuk Akal?

Pemirsa akan bertanya-tanya di saat menonton Film. Apa iya, bisa begitu? Misalnya, dari itik menjadi kuda zebra. Kok bisa? Ya, itu masuk ke wilayah animasi. Bisa aja, karena memang beranjak dari dunia tidak nyata. Kalau dunia nyata? Ya tentu buat Film yang Alur Ceritanya Masuk Akal. Jangan sampai Pemirsa ketawa cekikikan pas tahu, kalau Judulnya Serius, eh, alurnya seperti perubahan dari sebuah batu menjadi burung elang. Kalau animasi, ya animasi, segala hal bisa terjadi. Tapi kalau Film dari dunia nyata, tentu kita bisa mengukur, sejauh mana sih “ke-tidak-masuk-akal-an” yang disuguhkan? Kalau Filmnya tidak Masuk Akal, seperti Super Hero, jangan tanggung-tanggung, meski tetap sisi kemanusian harus tetap ada. Lalu tanya juga, “Masuk Akal, nggak? Apa kira-kira orang lain akan mengalami Hal yang sama? Kira-kira, bagaimana ya?”

  • 4. Apakah Unsur-Unsur Kebudayaan Sudah Direpresentasikan dengan Baik?

Ini penting lho. Bayangkan kalau seandainya sebuah kata kasar di daerah Batak, misalnya, digunakan sebebas mungkin di Film Anda yang justru malah menghina orang Batak karena tidak sesuai dengan Konteksnya. Film Anda sudah terlanjur dibuat dan diedarkan. Lalu bagaimana? Kan kita sudah tahu pepatah orang Indonesia, “Sedia Payung Sebelum Hujan”, yang sama dengan konsep, “Better Safe than Sorry” di mata dunia. Itu sebabnya, sensitifitas akan kebudayaan bangsa kita itu penting. Jika tidak, tentu Film yang Anda buat itu malah menjadi Titik Api, yang malah mengobarkan masalah baru di khalayak Pemirsa? Sebaiknya, alangkah baiknya jika Film kita itu, dibuat untuk memberikan penerangan akan Solusi dari sebuah Permasalah Hidup yang ada, dan Solusi tersebut harus sesuai dengan, kembali, Agama dan Budaya kita, serta Hukum dan Aturan Negara kita. Kata siapa membuat Film itu, gampang? Susah lho. Capek juga. Yang gampang itu membuat Film Sampah, seperti Pornografi itu. Isinya itu-itu aja, tidak ada penambahan (bagi Anda yang dewasa, pasti mengerti akan hal ini). Maka dari itu, kita tentu tidak ingin menjadikan karya kita sia-sia, ‘kan?

  • 5. Apakah Kostum yang Digunakan pada Film ini akan Menyinggung Sekelompok Etnis di Indonesia?

Perlukah bagian ini? Perlu. Bukankah budaya kita terkenal dengan pakaiannya yang baik dan rapi? Kalau Film Anda bertema Agama dan Budaya, usahakan Anda mengerti dulu, mana yang boleh dan tidak boleh di agama dan budaya tersebut, termasuk perihal pakaian atau Kostum. Jika Anda sembarangan membuat karya yang tidak sesuai dengan Agama dan Budaya, berarti Anda sudah berniat jahat terhadap Agama dan Budaya tersebut. Sederhana, tapi memang demikian adanya, kan? Penjual yang baik itu, yang menjual barang dagangan berkualitas tinggi, dan tentu, kalau Pembeli Komplen, itu hak si Pembeli. Kita tentu pernah menjadi Pembeli kan? Tentu mengerti kenapa Pembeli bisa Komplen. Mengenai Budaya Etnis, lebih baik kita angkat etnis tersebut ke Film kita, sembari kita berikan Solusi yang baik dari permasalahan yang mereka hadapi melalui Film kita dengan sudut pandang yang sejelas-jelasnya. Itu baru namanya, Seni, bukan sekedar Gambar Bergerak. Coba bayangkan, misalnya, pakaian tradisional Bali, digunakan untuk tema pelacuran di kota Jakarta, kan enggak nyambung, malah itu menghina budaya Bali, kan? Ingat lagi konsep Konteks dan Pemirsa.

  • 6. Apakah Totalitas Akting Pemain Film sesuai dengan Bagaimana Dirinya di Dunia Nyata?

Media Informasi dan Teknologi berkembang pesat di Indonesia, termasuk Televisi, Koran, dan Majalah. Peran Pers di dalam membuat berita mengenai selebriti juga bisa mempengaruhi bagaimana Pemirsa “menilai dan melihat” sebuah Film. Jika saja ada selebriti yang reputasinya buruk di media massa Indonesia, sudah tentu Pemirsa sedikit enggan menyaksikan Film Anda, kecuali jika memang Film Anda pantas dan layak ditonton oleh Pemirsa. Pemirsa yang kritis dengan Film akan berfikir, Manfaat Film ini buat Gue Apaan ya? Gue enggak mau buang-buang duit dan waktu cuma buat Film ini doank. Begitu.. Kan, bangsa Indonesia, sudah mulai cerdas? Apa iya?

  • 7. Apakah Unsur Seni disini Berupa Keindahan Bahasa dan Cerita atau Keindahan Tubuh Belaka?

Seni yang baik itu, adalah Seni yang menggugah hati, rasa, dan indera, bukan hanya nafsu. Melihat foto-foto pose selebritis wanita atau pria yang telanjang atau pun hampir telanjang, tidak akan membawa apa-apa selain dangkalnya unsur Seni. Lagi-lagi, kita lihat Konteks Seni di sini. Seni di Indonesia itu, seperti apa? Apa nonton orang bertelanjang di depan layar atau yang sedang bersetubuh? Tidak, kan? Trus, video lagu dangdut itu, bagaimana? Itu sih, biasa, cuma goyang-goyang aja. Kalau sudah menayangkan video manusia yang berpose hampir bugil, sama artinya dengan menggunakan seorang manusia demi objek seks. Apa bedanya dengan menonton penari bugil di bar? Bagaimana rasanya jika Anda sedang berpose seperti itu dipublikasikan ke khalayak ramai? Apa Anda mau? Saya sih, enggak, meski dengan bayaran jutaan pun. Bukan karena saya jelek atau tidak secakep artis lainnya, cuma karena saya tahu akan jati diri sebagai orang Indonesia. Buat apa sekolah kalau pada titik ini, masih mau dibodohi orang. Ya, kan?

Setelah Membuat Film:

1. Serahkan semua penilaian tentang Film Anda kepada Pemirsa. Bukankah Anda membuat Film, sebagai sebuah karya, untuk Pemirsa Indonesia agar mereka bisa menjadi lebih baik menurut pandangan Anda? Jika mereka tidak suka, itu kan bagus, bisa dijadikan bahan untuk membuat Film yang lebih baik lagi di kemudian hari?

2. Berikan Penjelasan Mendasar pada Bagian Awal Film tersebut agar Pemirsa Mengerti “Konteks” bagaimana Film tersebut Harus Dilihat supaya Tidak Ada Kontroversi Mengenai Film Anda dan Anda tidak perlu dilaporkan ke Pengadilan karena Alasan Pencemaran Nama Baik, Baik Nama Baik atas Nama Individu, Suku, Agama, Ras, dan atau Kebudayaan Daerah di Indonesia. Ini penting, lho.

3. Buat Trailer Film Anda semenarik-menariknya dan Sesuaikan dengan Alur Cerita Film secara Keseluruhan. Anda tidak mau, kan, calon Pemirsa lari atau membenci Anda hanya karena menonton Trailer Anda yang jelek? Sekalipun hanya dari Trailer, adalah hak Pemirsa untuk menilai kualitas Film yang Anda buat. Jika Trailernya jelek, mana mungkin Pemirsa akan membuat duit dan waktunya untuk menonton Filmnya secara keseluruhan?

Kesimpulan:

Silahkan ambil sendiri-sendiri ya.

Saya cuma menjelaskan saja. Boleh diambil dan dicerna baik-baik. Jika ada yang kurang pas di hati, silahkan komentar di bawah ini ya. Jika setuju, jelaskan juga mengapa Anda setuju.

Salam.

Sukses selalu perfilman Indonesia! Jadilah yang unik dan kreatif. Bukan jadi pengikut gaya Film orang. Be yourself as the way who you are, if you find something good that people say for your achievement and you, deeply inside you know that, please don’t deny it ~ 

Merdeka Indonesia! Indonesia Raya! 🙂

(Ditulis di Edwardsville, Illinois, Amerika Serikat, January 5, 2013)

Response toward the “Innoncent of Muslims” made by Sam Bacille, 2012


Respecting others mean respecting yourself

I begin my writing for this time with these two sentences:

“A conflict can happen because of jokes that are inappropriate and out of contexts”

“Free speech in a certain country might not lead into the same concept as it applies in other countries. Free speech should not mean absolute freedom of speech. A speech that is directed to hurt others is more dangerous that a speech that is encouraging people to keep and restore peace. Being thoughtful and respectful is much better than being mindful and disrespectful. Freedom of speech is available only to those who can have a sense of responsibility than to those who only think about themselves”

—————————————————————————

It has always become a saddest part for Muslims to be seen in a misleading way. Previously, in 2010, the burning of Qur’an, which was almost done by a priest in Florida, and now, the mocking video of “Innocent of Muslims” made by Sam Bacille, a US citizen. I imagine if the leaders of the United States did not spread the ideas of mutual understanding about its citizens, the Muslim world still views American in a negative way. Why? Everyone knew that 9/11 was a tragic thing to happen in the United States, but considering that several countries in the world had been colonized for more than centuries by “advanced” countries, but these “colonized” countries keep going and make good connection with “those” countries, this is something that an American should realize. The center of the world is not in the United States, but it is in everyone’s heart. Then, what is the thing that can cause this stupid mockery over one religion and what does it mean with hurting other religions as well? Is there anything to do with the government? What should we do as a global citizen who knows how to think beyond our common circle?

Now, let us see this problem from the value of freedom of speech. As a faculty of English department who teaches English, I know pretty sure what it means with the word, “speech”. Speech is indicated to spoken word, literally. Nowadays, since the massive development and use of internet, the word “speech” has become more than just spoken words. It has become written statements or videos containing recorded spoken speech. A video is also considered as a form of speech. At this point, I agree that a video is freedom of speech. The question now goes into the word, “freedom”. Do we really have freedom in life? Does our freedom also include demeaning others around us? If that means so, why would we have to create laws and norms in order to rule people’s behavior? Are all these things created for making peaceful life among us? Even then, if I can have the same concept of freedom of speech, why cannot I mock a president of a certain country by telling stupid facts in internet worldwide? Why does the news present all the same stories by informing us that we need “facts”? All these questions came out in my mind because I concern. One thing that I believe is that there is no such thing called absolute freedom of speech. I remember when the president of John F Kennedy who was assassinated because of supporting better quality of leadership in the United States of America. The problem of the video entitled “Innocent of Moslems” was not in the hand of Muslims who got angry because of the video. What they did was right.

I was so disappointed of knowing the idea of “get over it” when it comes to the mockery of an important figure in Islam. Some websites informing that the idea of mocking others’ religion is a common thing happen in internet. Then, I have a question. “Really? I do not think so” To be honest, I had been using internet and watching videos on YouTube since 2005! During these years, I did not find any links that contribute to the expansive action of mocking religion of other people worldwide. In order to stop riot done by Muslims, what we need to do is to educate people more about religions, especially for American students in the United States. Since I am taking literacy and discussion with classmates who are dedicated teachers in their field, I become well-aware of the needs of American students to have strong foundation in what it means to learn philosophy, religion, and politics. Our brain can only access certain parts of things where we could think about something. We had been bombarded by the idea of, “what is the proof? what is the evidence? if you cannot proof it, i cannot accept it”. This statement is completely demonizing because it stops our ability to reflect of what have happened around us globally. There are certain things that we can feel. To live in the world where we always compete one another only make us humans who do not have any sense of what it means to uplift someone’s life. Not everyone can be winners. True winners are those who can make the losers become as winner as they are. I may not be able to see the whole picture of American students, but from the discussion in the classroom, the reason why of such video could be made was because of tremendous freedom of speech without even learning the word known as “responsibility”.

Free speech is protected in the United States. This is good. However, the question is, what type of speech? For what purpose is the speech made and delivered for? Who created the speech? Is the speech valuable enough? I think, as a graduate student in the United States now, free speech means a right that every person has that is in line with the ability to speak for him or herself without offending others. In daily lives, I have seen that many American are open-minded about something new. At the very least, I know this because I live around American students. In my place, as an international student, I clearly understand that about others’ ways of life is crucial to create peaceful life. If Muslims do not respond to the video, there might something wrong with Muslims. If Muslims did not get offended, more and more videos will be created and the new generation of Muslims will be tortured mentally and spiritually. In the highest level, the meaning of cultural exchange that the Fulbright promoted will fail. Why? What is the point of having cultural exchange between countries if every students who live in different countries do not understand one another better? I honestly do not see any difference of mine with students coming from other countries. They eat foods like I do. They like to eat sweet cakes like I do. If Muslims do not want to consume alcoholic drinks, why bother? If Muslims do not want to eat pork, why bother? If Muslims do not want to have free-sex, why bother? What I can think about Muslims is that Muslims are the élite generation of these days. Muslims way of life are very high. They had been taught to be patient. Even though the prophet Muhammad pbuh faced tremendous hardship during his da’wah, he could do that because Allah SWT had given him power to do that. Compared to the reality that all Muslims generation have today, speaking up is the best way to show the existence. Otherwise, oppression will always be done in a lot of ways. We do not want this to happen, right?

The best solution to this problem goes to YouTube. Who owns YouTube? What kind of people? What are their principle? What kind of videos that are eligible for publicity in YouTube? In what language? YouTube should filter the video that is being published. We need to make more educated generation than making our generation living the “tube” by watching different series of irresponsible videos. All videos in YouTube have no cultural basis and no specific laws in it. Even though the video in YouTube was published in the United States, it does not mean that the video could be considered as under the United States law. Every video, as long as it is accessible outside the United States, it belongs to every internet users. The uploader who should be responsible for uploading the video. Internet has no boundaries and borders as we have in our daily life as an X citizen living in a Y country. In internet, we do not have such things. If certain groups get offended by certain videos, I think it is normal. If they groups are silent, it means that the groups’ identity is under question.

Another solution that I may purpose is to educate our children more about religion. We may not teach them all religions, but we can tell them what it means to know religion. It is to understand several circumstances that might not work for us. Among American students who used to live in fancy life styles, understanding religion might be something new to them. Let them know. Therefore, they will not make jokes about the important spiritual things of other religions too. I might not be able to make jokes about Jesus, for example. In the same way, I do not want to humiliate the god and goddesses of other religions. In this way, I learn how to be compassionate and understanding. An educated person is not only able to understand new realms within his or her circumstances but also able to comprehend other dimension of what other people believe in their life. I had sat with Jewish, Christians, Atheist, Buddhist, and Hindus in this country. What is the point of differentiating people based on religion? Triggers and problems always come from those want to dominate others or to create devilish action on earth. Therefore, my last question is, have you decided what you can do to improve the peaceful life among the people around you? The answer lies within yourself. We all are humans. We speak the same language by using our mouth, not hands.

—————————————————-

My second year experience as a Fulbright scholar really deepens my understanding of what it means to be a brighter person, not only in intellectual capacity but also in character and leadership.

Ramadhan dan Idul Fitri di Edwardsville, Amerika Serikat 2012


Minal Aidzin Wal Faidzin (Mohon Maaf Lahir dan Bathin) 2012.

Pengalaman Ramadhan kali ini cukup berbeda dengan pengalaman Ramadhan yang biasanya saya alami sewaktu saya tinggal di Indonesia. Biasanya, saya pergi ke Mesjid Al-Hidayah yang lokasinya berada persis di dekat rumah, yakni hanya berjarak sekitar 50 meter saja. Cukup dengan jalan kaki, sampai menuju ke Mesjid. Postingan kali ini, saya akan berbagi pengalaman mengenai hal-hal baru atau hal-hal lumrah yang saya jumpai dan alami selama bulan Ramadhan di kota Edwardsville, Illinois, terutama sekali selama berada di kampus Southern Illinois University Edwardsville.

Hal pertama yang saya alami adalah menjalani puasa dengan rentang waktu yang lebih lama daripada biasanya. Ketika saya tinggal di kota Padang, saya terbiasa berpuasa mulai pukul 5 pagi hingga jam 6 sore (kira-kira, rentang waktu ini selama 13 jam). Di Edwardsville, saya berpuasa dari pukul 4 dini hari hingga pukul 8 malam (dengan rentang waktu sekitar 16 jam). Yang jauh berbeda dari biasanya adalah jam 3 pagi, kadang saya bangun untuk memasak. Itupun kalau tidak letih, kadang saya memasak dua porsi pada sore hari agar sambalnya bisa digunakan untuk sahur. (Maklumlah, hidup membujang di negara orang memang harus bisa masak sendiri). Meskipun rentang waktu berpuasa lebih lama dari biasanya, alhamdulillah, puasa bisa saya jalani dengan baik. Bila banyak kegiatan dan sibuk, puasa jadi tidak begitu terasa. Namun, pada awalnya memang agak sulit, karena puasa kali ini bertepatan dengan musim Panas, di mana suhu dan tingkat kelembapan udara sangat tinggi. Tidak jauh berbeda memang dengan kota Padang kalau untuk suhu. Yang membuat rasa panasnya berbeda adalah panas di sini terasa seperti lengket di kulit. Ibaratnya, kita seperti berada di ruang yang panas tapi pengap dan kalau pun berkeringat, keringatnya kurang bisa menguap. Setelah beberapa hari dijalani, puasa selama bulan Summer bisa dilalui dengan baik.

Kalau untuk sahur memasak, lalu bagaimana dengan berbuka puasa? Alhamdulillah, di kampus saya ada organisasi yang namanya Muslim Students Association of Southern Illinois University Edwardsville. Mahasiswa yang ikut organisasi ini, sesuai dengan namanya, adalah mahasiswa Muslims. Anda mungkin bisa menebak mereka dari negara mana. Ya, sebagian dari mereka berasal dari negara Pakistan, India, Bangladesh, Amerika Serikat (tidak banyak), dan Indonesia (saya sendiri, kebetulan rekan sesama Indonesia sudah pindah ke luar kota). Kelebihan dari berteman dengan rekan-rekan dari negara ini adalah mereka sangat respon terhadap teman yang minta tolong. Jadi, setelah saya menyelesaikan satu term untuk Summer (alhamdulillah, dengan hasil sangat baik – berkah Ramadhan), saya dan beberapa rekan pergi bersama ke Masjid untuk melaksanakan berbuka puasa, shalat Maghrib, shalat Isya, shalat Tarawih dan Witir bersama. Kebetulan saya tidak punya mobil, maka saya minta tolong sama mereka untuk mengantarkan. Mereka begitu ikhlas, hingga akhirnya saya bisa penuh shalat Tarawih dan Witir di Masjid, meskipun pada awal-awal bulan Ramadhan tidak bisa karena ada kuliah malam. Oh ya, untuk makanan berbuka puasa, saya mencicipi makanan yang enak ala India dan Pakistan. Salah satunya bernama Gulap Jamun. Makanan ini berbentuk bola, tapi sangat enak. Kegiatan ini, alhamdulillah, penuh dijalani selama sebulan penuh. Hingga akhirnya, pada tanggal 19 Agustus 2012, saya dan rekan-rekan di organisasi ini pergi ke Masjid di Belleville, Illinois, untuk melaksanakan shalat Idul Fitri.

Berkah Ramadhan kali ini adalah saya bisa menyelesaikan Summer term dengan baik, bisa memenuhi panggilan shalat dan berbuka puasa di Masjid dengan khidmat dan penuh syukur, bisa bersilaturahmi dengan saudara Muslim lainnya yang berasal dari negara lain, dan tentunya bisa mencicipi makanan lezat dari negara lain. Di samping itu, yang tidak kalah serunya adalah pengalaman pada saat berpuasa di mana orang-orang di sekeliling bersantap ria. Masih ingat saya pada kesempatan di mana saya diundang pada sebuah pesta. Pada saat saya menerima sebuah gelas jus dan sepiring kecil kue coklat, saya hanya bisa menenteng-nentengnya saja. Hingga akhirnya semua orang yang ada di pesta tersebut melirik ke saya. Setelah saya menjelaskan bahwa saya seorang Muslim dan saya sedang berpuasa, mereka pun akhirnya mengerti, meski pada awalnya cukup seru karena sebagian menunggu-nunggu waktu saya berbuka puasa, hingga akhirnya semua makanan pun dihidangkan. Saya jadi merasa terhormat waktu itu. Kenapa? Masak karena saya puasa pula semua makanan belum dihindangkan, padahal waktu itu cuma saya seorang yang berpuasa. Hikmah yang bisa dipetik di sini adalah rasa segan itu ada pada semua orang, meskipun berbeda budaya dan bahasa. Sebaik-baik bahasa adalah sikap dan tingkah laku yang sopan dan santun terhadap sesama. Alhamdulillah, Ramadhan kali ini terasa damai dan tenang, meski tidak dihiasi dengan takbiran atau ke-heboh-an pada waktu malam menjelang Idul Fitri.

Jika ada niat yang kuat, insya Allah, rintangan akan bisa terlewati.  Iman itu terletak pada niat, dan ditekadkan melalui perbuatan.

————–

Teruntuk mama dan papa serta adik-adikku tercinta, rekan-rekan dan teman sepergaulan di Indonesia, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Selamat Idul Fitri 1433 Hijriah. Minal Adizin Wal Faidzin.

What does it mean to be a Muslim in Indonesia?


Masjid Istiqlal in Jakarta - Masjid is the place where all Muslims are doing the five times prayer in a day, Friday prayer, Eid al-Fitri, Eid al-Adha, and other Islāmic activities

Indonesia is a country that has the largest Muslims population in the world. At least, this is what people in the United States know about Indonesia. Why the United States? Because this is one of the most intriguing countries in the world. I can say so because I have never been in this country before. Now, in this post, I would like to share a bit of my perspective of how being a Muslim in Indonesia. The questions that I would like to discuss are mainly concerned on the way Muslims live in Indonesia and how the word “jihad” is viewed in this country. Please also remember that I am an Indonesian; therefore, I am pretty sure about Muslims in Indonesia.

Eid al-Fitri in Masjid Istiqlal - Jakarta

The life of Muslims in Indonesia (general perspective)

Indonesia, as it is known in the world today, is a country where people are dominantly Muslims. Recently, there are some debates about the controversies of life of Muslims, especially in Indonesia. Some people who are not living in this country sometimes have different point of view of viewing the true of the life of Muslims is. In this post, I would like to give a perspective of the life of Muslims in Indonesia in a general point of view.

In Indonesia, Muslims are seen as people who believe in Islam and the one almighty God, that is Allah SWT. They worship Allah SWT as their God and they follow what Allah SWT teaches them through Qur’an, the holly book of Islam. In living their life, Muslims in Indonesia are facing the dynamics between social and spiritual life. In terms of social life, Muslims in Indonesia are gathered together to form brotherhood and sisterhood to protect their country, Indonesia. They also try to carry out the principle of life by performing the action of solidarity among people. If there are people living in other provinces are having natural disasters, they try to help those people by giving them some helps as the way they can. Meanwhile, in the aspect of spiritual life, Muslims in Indonesia view Islam as religion that determines the way they live. If the religion does not teach them to do certain things, they would basically not do those things. For instance, if they are asked to do prayer five times a day and go to Friday prayer once a week, they will follow that. In other words, the lives of Muslims in Indonesia are reflected through their actions in combining the social and spiritual life. For people who are living in non-Muslims countries, this is the case where some problems might occur. Misunderstanding and misconception might occur but along the way, as more people try to learn about Islam and its teachings, the more they could learn that Islam can be implemented to social life.

Because Muslims have two Sexes, that are Men and Women, it is a good idea for you to know Muslim Men and Muslim Women in Indonesia

Muslim Men in Indonesia

Muslim Men in Indonesia

The very basic thing that is considered as a Muslim in Indonesia to do is known as circumcision. This is the action of cutting a part of penis, which is the foreskin of it, in order to follow the order of the prophet Muhammad SAW.. For boys, circumcision is done when the boys are reaching ten to eleven years old, depending on the customs of the regions where the boys are raised. About this circumcision, there are many researchers studying about this thing. One of the benefits of having circumcision is that the men can be avoided from genital diseases due to free-sex, but, free-sex or promiscuity is not allowed in Islam. Therefore, when the boys are growing up to be men, they are asked to get married or doing fasting to control their sexual needs. To be a man in Islam means that you are not allowed drinking alcoholic. It is forbidden as it is said in the Qur’an. Moreover, being a man in Islam means the man should respect and honor parents. Allah SWT teaches through Qur’an that parents are the “door” for Muslims to get into the mercy of Allah SWT. If a man does not follow a good thing to be a Muslim, then, it might be a serious case for him and as a punishment; the man may end up in the hell-fire. The rest of being a man in Islam would be the same as other men in general. However, those basic things should be taken into consideration in viewing what Muslims men are.

Muslim Women in Indonesia

"Hijjabers" in Indonesia or Muslim Women in Indonesia

The same case as in Muslim men, circumcision is also done among women but it is done when they are babies. Women are asked to cover themselves by using hijab or burqa because in that way, they are protected through the wilderness of men sexual desires. Women are created in such beautiful ways to attract men as the opposite gender. If the women are wearing dresses as in such almost “naked” outfit, the possibility for her to be “raped” is high. Therefore, Allah SWT asks women to cover themselves by using hijab. If in this way, men are still victimizing her, then, the problem goes to the men because they cannot control their desire and be the slave of their own passion. Muslim Men are trained to do this so that when they “view” women in this way, they would do “istighfar” and try their best to control things that they see about it. Moreover, being Muslim Women in Indonesia means that your rights as women are respected. Recently, there are many job opportunities are opened for women. The forms of the jobs are various depending on their ability and skills. Even one of the presidents of Indonesia is woman, who is Megawati Soekarno Putri. Some ministers in Indonesia are also from women. These show that women are having their balance position in Indonesia together with men. Women are no longer viewed as those who should be in the “kitchen” or “stayed at home” to do domestic things in Indonesia. They have their own ways of life and that makes them having a well-balance of life as a Muslim and as a woman in Indonesia. Nevertheless, the government and the society are still trying to make better condition of life about this matter. Hopefully, their plans and goals in realizing this could be realized as expected by all Indonesian civilians.

The form of happy family in Indonesia

A picture of happy Muslim family in Indonesia

In order to view this topic, note that the meaning of “happiness” would be different among people, depending on where they live. The standard of happiness in Indonesia would be different from the standard of happiness in the United States, the United Kingdom, or in other countries. However, the basic thing is that the members of the family can be united together in religious events or in any social events. The father, mother, and the children are sitting together in their house to celebrate the events. They also have “enough” way of life together that they can share. Apparently, the happiness of a family in Indonesia is the same with other families in the world. They need to educate the children by sending them to school, to fulfill what the members of the family need, and be responsible with the family ties are basic things of happy family in Indonesia.

Unfortunately, though, some news on how Muslims in Indonesia cannot be trusted 100% true because the news are sometimes bias and driven by certain political issues. The best thing you can do to understand Muslims in Indonesia is by visiting Indonesia and see it yourself. But, be careful with what you think because sometimes, what you think can mislead you into subjectivity.

 

Note:

All pictures above are taken from Internet. To those who own the pictures, I credibly say thank you to you. Jazakillah and syukron!

How Islam is viewed in the West – A Book Review


Membedah Islam di Barat karya Alwi Shihab

Identity of the book:

  • Title: “Membedah Islam di Barat: Menepis Tudingan Meluruskan Kesalahpahaman” (Understanding Islam in the West: Avoiding Prejudice Straightening Misunderstanding)
  • Author: Alwi Shihab
  • Publisher: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Editor: Rumtini Suwarno
  • Year of publication: 2004
  • First Impression
  • ISBN 979-22-0680-9

Review of the content of the book

This book has seven chapters, that are:

  • Chapter 1 entitled “Tragedi September, Mengapa Terjadi”; (Tragedy of September, How did it happen)
  • Chapter 2 entitled “Agama di Amerika”, (Religions in the United States)
  • Chapter 3 entitled “Pasang-Surut Interkasi Kristen-Islam”, (Ups and Downs of Interaction between Christian and Muslims)
  • Chapter 4 entitled “Komitmen Keagamaan Mahasiswa Amerika”, (Commitment of Religiosity of American Students)
  • Chapter 5 entitled “Persepsi Mahasiswa Amerika terhadap Islam”, (Perception of American Students toward Religion)
  • Chapter 6 entitled “Diskusi Tasawuf bersama Mahasiswa Amerika”, (Tasawuf Discussion with American Students), dan
  • Chapter 7 entitled “Catatan Editor: Sekilas tentang Pak Alwi di Mata Mahasiswanya” (Editor’s Note about Pak Alwi)

In the first chapter, the author describes two things of how countries in the West view Islam after the tragedy of 9/11. After reading this chapter, it can be concluded that since the happening of the tragedy of September Eleven, which was the time when the building of WTC was destroyed and bombed, the pain healed over centuries ago torn back because of some people who claimed themselves as “Muslims”. In fact, they were not Muslims. In relation to this, as Shihab explained, there are two factors of why such tragedy could happen.

The external cause is,

Sikap antipati terhadap Amerika Serikat dari sebagian dunia Islam telah mencapai puncaknya dengan meledaknya Tragedi September. Rasa kebencian antara lain dipicu oleh sejarah konflik yang cukup lama dan mengakar di antara umat Islam dan umat Kristen. Jika dirunut, sejarah interaksi antara kedua umat berfluktuasi di antara hubungan positif dan negatif, namun interaksi negatif lebih dominan dibanding positifnya” (Shihab, 2004: 9).

The attitude of antipathy to the United States from some of the countries in the Islāmic world have reached its climax that can be seen through the tragedy of September. The feeling of hate was triggered by a very long historical conflict and rooted between the followers of Islam and Christian. If it is studied further, the history of the interaction between two followers was fluctuated between positive and negative relationship, but the negative relationship was dominant than the positive one (Shihab, 2004:9)

Meanwhile, the external cause is explained as follow:

Implikasi penjajahan Barat-Kristen terhadap dunia Islam tampak sangat nyata ketika kita menelusuri sejarah kelahiran gerakan-gerakan Arab-Islam modern. Runtuhnya kekuatan Turki-Islam dan merosotnya kondisi umat Islam di bawah kekuasaan Turki bertolak belakang dengan pesatnya kemajuan dan bangkitnya pencerahan Eropa. Pada masa inilah lahir gerakan-gerakan Islam Modern, yang dapat digolongkan menjadi dua kategori. Pertama, gerakan puritan Wahabi yang menganjurkan pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada ajaran awal dan menolak segala bentuk kebudayaan Barat. Ke dua, gerakan Islam Modern yang mencoba mempertemukan peradaban Eropa dan Islam. Gerakan kedua ini berusaha menemukan kompromi antara Islam dan Modernisasi Eropa. Pendukung utama gerakan ini adalah Jamaluddin al-Afghani dan Sheikh Mohammad Abduh” (2004: 11).

The implication of colonialism of West-Christian toward the Islāmic world is seen to be real when we follow-up the history of the birth of modern Arab-Islam movements. The declination of the power of Turkey-Islam and the decreasing condition of Muslims under the influence of Turkey were contradicted with the massive development and enlightenment in Europe. In this era, there goes the Arab-Islam movement, that can be divided into two categories. First, the puritan movement of Wahabi that encourages the purity of Islāmic principles to go back to the earlier lesson and reject all kinds of Western civilization. Second, the movement of Modern Islam that try to connect the culture of Europe and Islam. This second movement try to compromise things between Islam and Modernisation of Europe. The major leaders of this movement are Jamaluddin al-Afghani and Sheikh Mohammad Abduh” (2004:11)

In the second chapter, Alwi Shihab explains three topics, in relation to Civil Religion, Christianity, and Mormon. In relation to the Civil Religion, America is viewed as a country that has a strong tight to its religion. America, as it is explained by Alwi, has become microscopic for all religions in the world. Meanwhile, related to the Christianity, it is explained that the land and the soil of America become “the place where the Kingdom of God (Christian country) must be built” (Shihab, 2004:30). Different from Mormon, this is also a belief, a part of Christian, who declares Joseph Smith as their prophet. These Mormon people live is Utah, exactly in Salt Lake City.

In the third chapter, the explanation was focused on the process of how the misconception toward Islam due to “honored” figures who contributed to the existence of a wide stupidity among people about Islam. The figures are categorized according to the year when they existed. There were two groups in this case; that are, those who existed before and after 1000 M. Furthermore, this chapter also discusses influential figures of Islam who had contributed to the expansion of giving true concept and explanation about Islam.

Two figures who were giving misconception about Islam and were from the West were:

1.        Before 1000 M. They were:

Saint John of Damascus (675-753 M), Theodore Abu Qurra (740-825 M), Abd al-Masih B. Ishaq al-Kindi (830 M), and Nicetas of Byzantium (842-912 M).

2.        After 1000 M. They were:

Peter the Venerable (1094-1156 M), Thomas of Tuscany (wafat 1278 M), Saint Thomas Aquinas (1225-1274 M), Ricoldo de Montecreco (1243-1320 M), George of Trebizond (1395-1484 M), Nicholas of Cusa (1401-1464 M), Jean Germain (1400-1461 M), Paus Pius II (1405-1464 M), Martin Luther (1483-1546 M), John Calvin (1509-1564 M), Guillau me Postel (1510-1581 M), Ludovico Marraci (1612-1700 M), William Muir (1819-1905 M), and Karl Goftlieb Pfander (1803-1865 M).

About Christian itself, Al-Qur’an as the holly book of Islam never curses Christian as religion, but it curses people who have been far away from the true Christian, as it has been taught by Isa as. (Jesus) (Shihab, 2004: 98-99):

“Al-Qur’an menggunakan sebutan “ahl al-kitab” terhadap orang Yahudi dan Kristen guna menunjukkan keakraban. “Ahl” dalam bahasa Arab merujuk pada hubungan keluarga, di mana tidak ada hubungan antarmanusia dengan sesamanya yang lebih dekat dari hubungan keluarga. Al-Qur’an tampaknya ingin menjelaskan bahwa antara umat Islam, Yahudi, dan Kristen terjalin hubungan yang erat bagaikan sebuah keluarga. […]. Bertitik tolak dari bukti-bukti yang diberikan tersebut, Rashid Ridha berkesimpulan bahwa pada dasarnya, agama Kristen memang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pertentangan tercipta tidak lain berasal dari para penganut agama Kristen yang menyimpang. Oleh karena itu, lanjut Ridha, Al-Qur’an sama sekali tidak mengutuk agama Kristen, yang memperoleh peringatan keras adalah penganutnya yang menyimpang dari jalan yang diberikan oleh Isa as. Terhadap hal ini, Charis Waddy (seorang pemuka Kristen) berkomentar sebagai berikut: “The Quran criticizes both Christian and Jews for neglecting the truth their Scriptures teach, and misunderstanding them. It can be admitted with humility that there is truth in this criticism” (Al-Qur’an mengkritik penganut Kristen dan Yahudi atas kelalaian serta kesalah-pahaman atas kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh kitab-kitab suci mereka. Dengan segala kerendahan hati kritik tersebut dapat diakui bahwa terhadap kebenaran atas kritik tersebut).”

Al-Qur’an uses the term “ahl al-kitab” to Jewish and Christians to show familiarity. “Ahl” in Arabic language means the relationship in a family, where there is no other relationship among human rather than family. Al-Qur’an seems to emphasize that between the followers of Islam, Jews, and Christian, there are a good tight, like a family. […]. Based on the evidences given, Rashid Ridha concluded that basically, Christian does not interfere with the teachings of Islam. The contradiction itself was merely due to the misbehavior of the Christian followers. Therefore, as Ridha said, Al-Qur’an has never cursed the teachings of Christian, the most cursed one is the followers who are far away from the true teachings of Isa as (Jesus). In this case, Charis Waddy (a leader of Christian) commented: “The Quran criticizes both Christian and Jews for neglecting the truth their Scriptures teach, and misunderstanding them. It can be admitted with humility that there is truth in this criticism” (Al-Qur’an criticized the followers of Christian and Jew for their negligent and misunderstanding for the truths that were taught by their holly book. With all due respect, the criticism can be admitted as a proof to the truth of the criticism itself).”

In line with the figures of the West who had criticized Islam subjectively, there were also Islāmic figures who had given the correct explanation about Islam. They were:

–            Ibn Hazm Al-Zahiri (994-1064 M)

–            Abdulmalik Al-Juwaini (1028-1085 M)

–            Abu Hamid Al-Ghazali (1059-1111 M)

–            Taqi Al-Din Ibn Taymiyya (1263-1328 M)

In the fourth chapter, the discussion is concentrated on the class discussion conducted by Shihab to his students who are studying  Islāmic Mysticism or Tasawuf Islam. One of his students said:

“With every lecture I find Islam more and more interesting and its principles to be just. It is unfortunate that many people base their opinion about this religion on a negative perception of a few countries that Islam is practiced in. I, myself, had formed my first opinion of Islam based on my evaluation of unpopular Arab countries, rather than on religious estand that Islam promotes. Thanks to Alwi, I got an opportunity to more objectively learn about Islam and gain a true understanding of this religion.” (Shihab, 2004: 140)

In the fifth chapter, there are collection of statements and questions about Islam to Alwi Shihab as a lecturer for the subject of Islamic Mysticism. There are some understandable questions in this chapter. One of them is a question by Stern as follow:

“When we know little about a concept that is foreign to us, we tend to make strong judgment about it. I was guilty of this before we began our depth study of Islam. The little tidbits of information that I did pick up about it was that Muslims were religious fanatics, that they felt nothing in common with the Jews and Christians, and that they treat women as second-class citizens. However, after studying this religion, I have formed a deep appreciation for its foundations and ideology for several reasons. First, I see the similarities it holds with my religious beliefs. I also find parallels to my personal beliefs. I also see that stereotypes that I originally believed are not the rule but the exception. I am thankful for my opportunity to study this religion, because it has broken some of the barriers placed before me that have hitherto hindered my ability to converse in a religious dialogue with and open and well-informed mind” (Shihab, 2004: 162).

A statement from Scott,

“I can now fully understand why Muslim fast. At first I felt sorry for them not being able to eat for a period. But now, it is to be admired for the puspose of self-discipline. I don’t think I could be so disciplined. I am Catholic, and we can’t eat meat on Fridays. Every time Friday hits I get all upset, wondering what am I going to eat today. It is truly ashame how I complain. I am learning from Islam to be more disciplined because sometimes I cheat on Firdays!” (Shihab, 2004: 165).

In the sixth chapter, the discussion is focused on the teachings of Islāmic Mysticism and on some figures of Islāmic Mysticism in Islam. Besides, there are also explanations about figures of Islāmic tarekat, like Sheikh Abdul-Qader al-Jailani (wafat 1166 M), Sheikh Ahmad Al-Rifa’i (died 1175 M), Abdul-Hasan Al-Ghazali (died 1256 M), dan Naq Shaband Al-Bukhari (717-791 M).

The Reader’s Comment

How Islam is viewed in the West

Based on the explanation by Alwi Shihab, it can be concluded that the history has noted that there was a good relationship between Christian and Islam. In one side, Christian is considered as the earlier religion in this world; meanwhile, Islam is the last religion on this earth. In line with the development of each other’s religion, it can be seen that Islam had once a great development in the world, but slowly but sure, the feeling of jealousy toward Muslims was strongly felt by Christians. Some writings were massively produced by figures of Christian who had never been in touch with Islam in a correct and true way. After several decades have been passed, from one generation to another generation, the western culture still “consume” the reading materials which were mistakenly written by the figures. Consequently, Islam was still viewed in a wrong way by people of the West.

However, due to great efforts from the figures of Islam, Islam is then becoming more understandable by recent generations. Unfortunately, because of wrong and bad history, the effort for reaching well way of life has not been done in a whole. Nevertheless, one concept that should be possessed by all human beings in the world is that we all are the same, we all are human. All stupid things in the world can happen not because of God (Allah SWT) but because of human themselves. Don’t God has given us perfect brain, mind, and physical power to become a more educated creature on this lovely blue and green earth?

___________________________________________________

Whatever your religion and faith, if you do good deeds and help one another as well as stop sadism and tyrannical leadership one another, Allah SWT will help you. Please, we live in this world in peace. Be good to one another and be doing good to Allah SWT are the right things. And, let we bequeath a world of peace and colorful to our children. Amen!

Note: If you want to read this version in Bahasa Indonesia, please click this link: A Space of Learning and Thought.