“Silence of the Night” by Syayid


Silence of the Night

The time I feel now is the one that is the most silent one

I can’t sleep, even though,

I felt sleepy in my sight

I woke up and saw the watch laying lazily on my desk

Its click makes sound, tik tik tik…, as if it speaks to me saying,

“It is three and half in the morning. You should sleep…”

I whisper in my own solitude…

Do you know what I hear at this time?

Silence, a really, really moment of silence,

The sounds of the night speaks to my ear

Singing as if I am listening to the voices of thousands of fairies and angels in this dark-blue sky

And the stars that hide shyly in their wisdom

Far away over there, asking me to come to their place and dance with them

I look at the deer outside, eating the grass, in its peaceful smile,

But, I know I wake up for no reason

I do feel the crowd coming to my mind at this kind of time

Listening to the silence

Wiping all miserable words people say

Erasing all valueless of crowd, hypocrisies, money, and prestige

Friendship that is only superficial

Friendship that is only made through heart and pure care?

Silence has spoken all the truth

to me, in the way that I feel as if I am a holy man, but, no, am I not?

Silence speaks in the way, telling me

of all lies hiding in the trees

of all sounds of having-fun young men out there, spending the night with someone new everyday

And,

In this silence,

I whisper in the deepest wish

Beyond what I feel, I pray…

Please help, and make people I love, happy

for they are the place where my happiness is in

Please let the soul of everyone as in spring

for they are the lights when all-stars are in deem way

The world is chaotic,

but only love and sincere submission to Allah SWT,

make the silence as the songs of the fairies.

 

——- Syayid Sandi Sukandi

Edwardsville, the United States, 3:45 am, Sunday, Dec 4, 2011

Advertisements

Warna Warni Kehidupan


>Seringkali, ada terbersit tanya di dalam hati,
“Hidup ini penuh warna. Namun, warna itu…
tidak ada rupa dan rasa, warna apakah yang cocok untuk kehidupan ini?”

Bagai terbang di antara gemerlapnya bintang,
lalu redup di balik misteri senyum sang rembulan

Tangis dan tawa bagai dua sahabat erat
berganti rupa silih berganti,
dalam rasa dan citra

Di satu sisi, begitu indah, elok dan mempesona
Di sisi lain, begitu pilu dan merebak jiwa

Ada elegan ditemani keangkuhan
Ada kebaikan berselaput keinginan
Ada kepintaran tanpa kecerdasan
Ada rasa iba ditutupi secercah harapan

Kadang menoleh di antara karang-karang kehidupan
Lobang-lobang menganga berisi gambar beraneka

Kehidupan ini memang indah

Dihiasi oleh bingkai harta dan kemewahan
Suara-suara gemuruh puja dan puji
Canda tawa para raja dan ratu di malam hari
Bertemani permadani sang adam dan hawa
Luluh melantakkannya caci maki

Namun terkadang,

sesekali menyeruak suara keledai
mengasung gambar-gambar fitnah,
menebar tarian dan goyangan prasangka,
dan mengajak mencicipi brownies kukus toko gunjing

Kehidupan pun berubah menjadi kelam,
namun,
di sela-sela batu licin, dan berlumut
memantul senoktah bayang keemasan mentari senja yang indah
bagai senyum polos sang bayi,
tanpa dosa
di sanalah cinta ditemukan

Sayang, seribu sayang,
ia sekejap menghilang,
samar-samar tertutupi rona nafsu
Perlahan, karang pun kembali seperti dulu
hitam dan kotor

Dari kejauhan langit,
ternyata memang benar,
tanpa adanya gelombang,
pantai itu tidak akan pernah disebut pantai,
tapi hanya semilir gemerisik bunyi air bercinta dengan pasir lemah

Seindah laut biru,
sementara, memantulkan warna-warni kehidupan
tanpa rasa malu, tidak ada masa kini
masa kini penting, masa depan tidak penting, atau
masa lalu penting, masa kini tidak, masa depan apalagi
masa, ah, masa
mereka hanya masa

Mereka hilang ditelan pudarnya cinta Ilahi
Tapi Ia selalu ada di sana,
melihat dengan sayang-Nya
hingga masa menjadi seonggok abu ditiup angin

Kehidupan,
bergolak seperti pantai,
menarik yang ia dapat,
menolak yang telah ia dapatkan.

____________________________________

Pantai Bung Hatta, Syayid, January 2009

Syair yang Indah


> Hukum kematian manusia masih terus berlaku,
karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi
Adakalanya seorang mansia menjadi penyampai berita,
dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita
ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau dan gelisah
edang engkau mengharap selalu damai nan tentram.

Wahai orang yang selalu ingin melawan tabiat
engkau mengharap percikan api dari genangan air
kala engkau berharap yang mustahil terwujud,
engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam

Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan
maka manusia di antara keduanya;
dalam alam impian dan khayalan

Maka, selesaikanlah segala tugas dengan segera
niscaya umur-umurmu,
akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan

Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda,
kuasailah waktu,
karena ia dapat menjadi sumber petaka
dan zaman tak akan pernah betah menemani Anda
karena ia akan selalu lari meninggalkan Anda
sebagai musuh yang menakutkan
dan karena memang zaman dicipta sebagai musuh
orang-orang bertakwa

Dikutip dari:
Al-Qarni, ‘Aidh. La Tahzan (Jangan Bersedih). Edisi Indonesia. Terj. Samson Rahman. cet. 36. Jakarta; Qiathi Press, Januari 2007

“Anak Manusia”


>

Anak Manusia

Di keremangan malam, berlapis-lapis udara bersemilir
membentuk aura kegelapan, pekat dan mengerikan
Manusia-manusia berteriak, bersumpah serapah, memaki-maki, membunuh
tawa bengis dan jiwa kejam seakan bangkit dari kubur
Seketika, detik-detik berlalu, hening…
Segaris cahaya putih menyembur dari angkasa hitam
Menghujam ke rumah-rumah
Hening…hening…hening…sesaat
manusia-manusia itu terpana, apa itu?
Rengek tangis bayi, memecah kepekakan manusia-manusia lembah itu
lembah hitam, pekat, berbau dan jorok
Mereka berkerumun dan bertanya-tanya apakah itu?
manusia itu gembira, bertambah satu anggota mereka, pikirnya
dengan waktu, bayi itu pun menjadi manusia
manusia, terbentuk karena manusia di sekitarnya
akankah anak manusia tumbuh sendiri?
tidak, sekali lagi tidak
lalu, cahaya yang ada di dalam dirinya yang redup
ia lupa dari mana ia berasal
kesucian berganti kemunafikan
sebuah misteri atau angurah ilahi tercipta
anak manusia mengais-ngais dalam kehidupan
tumbuh, membesar, berkembang, bergenerasi
terus menerus, bergerombol, bertambah banyak atau menyendiri
hingga akhirnya satu per satu, mati, berkubang tanah, atau terbakar
dan, mereka kembali ke asal cahaya
meninggalkan lumpur atau mutiara
di tempat pertama mereka menjadi manusia

^^<><><><><><><><><><><><><>><><><><>><><>><><><>^^