The Greatest Masjid in West Sumatera, Indonesia


One of the interesting places to see in the province of West Sumatera in Indonesia is Masjid Raya Sumatera Barat, known as The Greatest Mosque in the province of West Sumatera. The mosque itself was started to be built in 2016 and the construction was completed in 2019, together with its tower. From the outside, the mosque has beautiful ornaments with a soft red color.

Besides, the building has two floors. Most people visit the Masjid not only for daily prayers but also for Holy Islamic Days, such as Idul Fitri and Idul Adha.

The unique thing of this Masjid is the combination between Minangkabau culture and Islam. The roof of its kind and the crafted Arabic letters on its walls create additional artistic values toward the building.

Anyway, if you need to know a short description on this aspect, please watch my explanation in the following video:

Please SUBSCRIBE to support this channel: Mr. Syayid’s Vlog.

Advertisements

Kenangan Itu: Tari Rantak di Amerika Serikat saat Studi S2


Tulisan ini adalah sebuah cerita. Tentang pengalaman. Tentang kepercayaan diri. Tentang sebuah kebanggaan pribadi yang dipersembahkan untuk bangsa dan tanah air tercita.

Kenangan Itu ~

Saat ini, tanggal 7 Maret 2019. Telah lama, memang. Masih terngiang suasana di ruangan itu, pada malam itu, saat aku akan tampil di sebuah Malam Internasional di kampus tempatku menuntut ilmu. Suasana begitu ramai, tapi formal, dan teratur. Kampus Southern Illinois University Edwardsville di Amerika Serikat.

Kulihat di depan, ada sebuah panggung. Tempat di mana aku akan menampilkan tari itu. Tari Rantak. Tari tradisional yang berasal dari dan dikenal luas di kalangan masyarakat Minangkabau. Entah apa yang membuatku begitu semangat untuk menampilkan tari ini. Ada semacam semangat. Gelora. Keberanian. Itu semua terasa olehku pada saat tampil di sana. Ah, ini telah 7 tahun lamanya.

Setiap kali kupandang dan kulihat video itu, aku bertanya dalam pikiran, “Hey, maukah kamu seperti itu lagi?” Jawabku, “Entahlah…” Meski waktu itu aku beranikan diri untuk belajar otodidak menampilkan tari Minang. Jujur, aku tak pernah belajar menari. Biasalah, dulu itu, bila kamu laki-laki dan belajar menari, kamu dipanggil banci. Ternyata, tidak sama sekali. Bullying yang kalah. Untuk apa aku dengarkan?

Mungkin bila boleh aku share, kok bisa aku naik ke panggung itu? Aku bukan penari khusus untuk acara internasional. Aku bukan anak muda yang mungkin tidak dipersiapkan untuk itu. Namun, kuakui, daya pendorong utama adalah ini: “Ma, Pa, lihat… San tampil di dunia! Membawa harum budaya Minangkabau! Dari sudut kecil di Indonesia!” Di hatiku, rasa itu begitu kuat dan kencang.

Dan sekarang, telah 7 tahun lamanya. Suasana yang masih terasa di hati dan terngiang di telinga. Lucunya, meski di hati ada rasa bangga ber-Minangkabau, ada juga yang menggeledek, “Iko di Minang ko!” Kutatap matanya, seperti ia tidak pernah mengenal orang lain saja. Di KTP, mungkin aku terlahir di Bandung, tepatnya Garut, Jawa Barat, namun ibuku adalah orang Minangkabau asli. Sungguh, sebuah kesemena-menaan bila tempat lahir dijadikan patokan untuk menilai sesama. Bila itu di Indonesia, maka ia adalah orang Indonesia. Hanya saja, cintakah ia ke Indonesia?

Bila diingat lagi, waktu terasa begitu singat kala itu. Terima kasih buat Ruth, Jake, Illona, Doddy, dan semua teman-teman internasional yang ada di SIUe. Ahmad, Nadeem, dan semuanya yang tak tersebutkan satu per satu. Thank you so much, guys! Your presence is so precious at those times.

Akankah aku tampil seperti di atas lagi? Aku tidak tahu, tapi mungkin aku ingin anak-anak muda lainnya yang menampilkan seni tari dan musik tradisional Indonesia di panggung dunia.

Ah, aku ini siapa. Ada beribu cerita yang hendak ingin kusampaikan. Yuk, merapat. Akan kuceritakan padamu arti dari Cinta yang Tak Biasa ūüôā

Cinta yang menggelora, meski dalam wujudnya tak pernah ada, karena hanya mata hati yang bening, yang selalu memahaminya…

Tetap, apapun itu, aku masih cinta Indonesia.

Aku ingin membawa Indonesia ke mata dunia. Akankah itu terwujud? Wallahua’lam bi shawab. Hanya Tuhan yang Maha Esa yang lebih tahu. Aamiin.

Padang, 7 Maret 2019.

Syayid Sandi Sukandi

 

 

Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia – Caranya?


Aku Cinta Film Indonesia –¬†Film Yang Bagaimana?

Setiap kita, pada dasarnya, menyukai film, apapun jenis genre-nya. Baik itu kartun, animasi, aksi, petualangan, misteri, horor, termasuk film bertema reliji atau agama dan budaya. Namun, pertanyannya, film seperti apa yang telah atau kita tonton itu? Lantas, seberapa jauh film bisa berpengaruh pada hidup kita? Kenapa pula sebuah film wajib dikaji terlebih dahulu oleh pakar kebudayaan dan sastrawan sebelum diedarkan ke khalayak pemirsa Indonesia?

Tulisan saya berikut ini diniatkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya memang bukan termasuk ke dalam pihak-pihak yang bisa membuat film dan memproduksinya. Walaupun demikian, sebagai salah seorang penikmat, sekaligus pengkritik film, saya tentu sedikit banyak mengerti akan apa yang baik dan bagus mengenai sebuah film. Berangkat dari latar belakang saya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris (sekarang, Ilmu Budaya) di Universitas Andalas, dan saat ini (yakni pada saat saya menulis tulisan ini) sedang studi di Amerika, dengan bidang Bahasa Inggris, konsentrasi pada Komposisi: Budaya, Sastra, dan Bahasa, maka setidaknya ada sebuah kewajiban bagi saya untuk berbagi ilmu dengan pembaca blog saya ini tentang Tips Membuat Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia. Melalui tulisan ini, saya akan membahas sedikit banyak kaitan antara Film dengan Budaya, serta antara Film dengan Alam Bawah Sadar pemirsa. Konsep yang akan saya gunakan untuk membahas Topik ini berkaitan dengan Teori Alam Bawah Sadar yang diajukan oleh Sigmund Freud. (Bagi mahasiswa sastra dan psikologi, pasti telah mengenal teori ini). Teori-teori berat sengaja tidak saya jabarkan di sini karena tujuannya bukan untuk memaparkan suatu konsep yang rumit, namun menjelaskan upaya yang benar dan baik perihal membuat film bertema agama dan budaya di Indonesia dengan bahasa yang sesederhana mungkin, mengingat tidak semua pembaca Indonesia yang paham bila saya cas cis cus dengan Bahasa Asing di sini.

Film — Konteks — Pemirsa

Sebuah film, dianggap dan dinilai sebagai sebuah “teks”. Dalam ilmu Kajian Media, teks bisa bersifat semua yang kita lihat dan baca serta dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan Film, di dalam Film, yang kita tonton itu, termuat di dalamnya sebuah Konteks. Konteks berfungsi sebagai bingkai, atau wadah di mana film tersebut diproduksi dan diedarkan serta dikonsumsi sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran bagi pemirsa. (Kalau hanya sekedar Hiburan, kan sudah ada Musik dan Lagu, ya toh?) Dengan demikian, keberadaan Pemirsa juga bisa mempengaruhi Konteks di mana Film tersebut akan ditayangkan. (Ingat lho, biaya membuat Film itu tidak sedikit, jadi jangan jadikan kegiatan ini sia-sia). Kaitan antara ketiga unsur ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, sebab tanpa keberadaan Pemirsa, Film akan menjadi sia-sia; dan tanpa sebuah Konteks, Film bisa menuai berbagai macam permasalahan karena keberagaman tipe dan macam pemirsa. Di Indonesia, pemirsa kita bermacam-macam. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kaitanya dengan pembuatan film bertema agama dan budaya, tentu Pemirsa di sini adalah orang-orang yang erat kaitannya dengan agama dan budaya di mana Film tersebut diproduksi. Logikanya, Film yang dibuat sebaiknya sejalan dengan Sifat dan Karakter Pemirsa atau Penonton di Indonesia agar Film tersebut Menarik dan Layak untuk ditonton serta dapat dijadikan Media Pembelajaran bagi generasi muda untuk berfikir akan nasib bangsanya ke depan kelak. Jika kita lihat ke Indonesia, terdapat berbagai macam unsur kebudayaan yang ada, tersebar dari Aceh hingga ke Merauke. Mengenai Agama, terdapat pula Lima Agama di Indonesia: Islam, Nasrani, Katolik, Hindu dan Buddha. Sebagai orang Indonesia, kita sebaiknya¬†sadar akan keberadaan penganut agama ini. Oleh sebab itu, yang perlu kita pertahankan adalah keberlangsungan akan kerukunan umat beragama di negara kita. Sebuah Film yang bertema Agama, wajib untuk tidak menyinggung agama apapun. Sebuah Film yang bertema Budaya, wajib untuk bisa merepresentasikan budaya yang disampaikan dengan seksama, agar tidak ada pihak-pihak di Indonesia yang merasa terintimidasi¬†atau merasa terancam, apalagi jika Film tersebut berkaitan dengan komunitas marjinal yang ada di negara kita.

Penulis — Sutradara — Produser

Peran penulis, sutradara, dan produser sangat erat dan penting fungsinya bagi proses pembuatan sebuah film. Mengenai penulis, siapa pun bisa menjadi penulis. Pertanyaannya, penulis yang bagaimana? Pertanyaan yang sama juga jatuh kepada sutradara dan produser. Sebuah pertanyaan kritis yang timbul dari benak saya adalah: “Apa prinsip, visi, dan misi serta niat sutradara dan produser sebelum memprakarsai sebuah pembuatan film? Apa¬†latar belakang mereka secara pribadi?¬†Film-film apa saja yang telah mereka produksi? Apa komentar dan kritik dari pemirsa mengenai Film yang mereka produksi?” Saya mengamati bahwa pada dasarnya,¬†pemirsa Indonesia, tidak mencermati atau mempertanyakan siapa individu yang termasuk ke dalam tiga unsur ini. Penulis yang sejati, ketika karyanya di-film-kan, pasti akan sangat terharu, namun, dia tentu akan wanti-wanti, apakah karyanya bisa¬†“diwakili” dan “terwakili” di layar lebar atau tidak.¬†Alasannya, banyak juga kenyataan di mana Pemirsa kecewa menonton Film Layar Lebar¬†yang diangkat dari Novel karena banyaknya bagian cerita yang dipotong. Alhasil, itu akan merugikan kandungan makna Novel si Penulis.¬†Sutradara, pada dasarnya, adalah individu yang memotori dan meracik sebuah film menjadi menarik dan berdaya guna. Baik¬†atau tidaknya penilaian Pemirsa mengenai Film-nya, itu termasuk ke dalam tanggung jawab Sutradara. (Kenapa? Baca terus, ya?) Sementara Produser, atau mungkin bisa juga disebut Sponsor, bertanggungjawab perihal Pembiayaan Film,¬†meski Produser juga tertarik kepada Profit atau Untung dari Film. Di titik Produser ini, perlu juga dilihat, ingin mendapat untungnya tersebut berupa apa? Apakah dengan cara menghalalkan segala upaya untuk meraih untung? Menghindari sisi kemanusiaan?

Film Asing —¬†Lebih Laku¬†— Banyak¬†Ditonton (Film Indonesia?)

Kita sadar kalau Film kita tidak semuanya yang laku di pasaran per-film-an internasional. Ada yang bagus, tapi juga tidak sedikit yang kurang bagus. Sementara, kita sering tergiur dengan lakunya film luar, bahkan terkadang, bisa mengalahkan posisi film tanah air kita. Kita juga ingin film kita mengalami hal yang sama. Lantas, kenapa bisa laku? Wajar saja laku, karena faktor bahasa di film tersebut dan faktor budaya pemirsa internasional serta selera pemirsa internasional.

Mengenai bahasa, tidak selalu film yang laku di dunia internasional itu mutlak menggunakan bahasa Inggris, namun, dengan menggunakan bahasa Inggris, setidaknya cakupan jumlah pemirsanya menjadi lebih luas. Faktor budaya juga mempengaruhi bagaimana sebuah film dinilai di mata dunia internasional. Karena budaya Indonesia¬†yang cukup “kontras” dengan budaya “luar”, wajar film Indonesia sedikit terasa berbeda nuansanya bagi pemirsa internasional. Ujung-ujungnya ini berkaitan dengan selera pemirsa internasional. Tidak mutlak pemirsa internasional suka film yang berbau kekerasan atau animasi yang penuh intrik serta dibarengi dengan kualitas video dan audio yang bagus. Namun, unsur seperti ini sudah sangat menunjang untuk menjadi sebuah film yang bagus. Sebuah film drama yang¬†bertema keluarga saja bisa laku keras di pasaran karena menginspirasi bagi mereka. Kenapa? Karena film yang laku keras tersebut memberikan inspirasi kepada pemirsa sesuai konteks kebiasaan dan “selera” hidup di mana mereka berada. Kalau kita menonton film Hollywood, misalnya, konteks alur ceritanya dibangun dari sudut pandang orang Amerika. Sementara, film Bollywood, juga mewakili bagaimana orang India mewakili berbagai macam cerita yang diinspirasi dari kultur mereka sehari-hari. Bagaimana dengan kita? Apakah film kita sudah mewakili keberagaman budaya kita? Apakah film kita masih berorientasi profit? Kaitannya dengan Agama dan Budaya, film-film Hollywood dan Bollywood juga memiliki tema Agama dan Budaya, tapi tentu sesuai konteks Amerika dan India.¬†Namun, apakah kita melulu meniru¬†bagaimana orang lain¬†membuat film? Lantas, apa yang¬†menjadi ciri khas film kita? Nah, pada titik ini, kita kaitkan dengan selera pemirsa Indonesia secara garis besar. Saya masih ingat ketika rekan kuliah saya dulu bilang begini, “Hollywood itu identik dengan pistol, sex, dan teknologi. Bollywood itu identik dengan nyanyi, tari, dan aneka masalah sosial di India. Kalau Jepang, ada Samurai. Kalau China, dengan Ninja” Sementara, Film kita? Banyak ide yang bisa dijadikan film. Cuma, dari mana ide tersebut? Dan, apa ide tersebut baik atau jahat? Itu dulu, baru pikirkan soal profit. Kalau Film menarik, ada unsur pembelajaran di dalamnya,¬†dan unsur audio-visualnya mendukung, siapa sih yang tidak akan menonton? (Lho, kok bisa gitu? Kan harus nonton dulu?) Kan ada sinopsis, dear one… Kan bisa baca¬†sinopsis itu.

Film¬†— Novel

Banyak film-film besar yang diangkat dari Novel. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Anda pasti sudah tahu akan hal ini. Pertanyaannya, apakah mutlak novel yang laku keras bisa laku pula setelah di-film-kan? Belum tentu. Apakah novel yang biasa-biasa saja bisa membuat filmnya laku keras? Bisa jadi. Seperti argumen saya di atas, sebuah Film, laku atau tidak, bergantung kepada Konteks dan Pemirsa. Kalau¬†Film nya sudah menawarkan kontroversi bagi Pemirsa, saya khawatir akan keberadaan Sutradara dan Produser. Mereka bisa dipertanyakan oleh Pemirsa, dan itu tentunya adalah hak Pemirsa. Novel, pada dasarnya, sama dengan Film, cuma perbedaannya terletak pada¬†cara kita “mengonsumsinya”. Untuk Novel, kita seringkali membangun imajinasi dari susunan kata yang ditulis oleh penulis novel tersebut.¬†Sementara Film, kita hanya duduk, diam, dan menerima apa yang disuguhkan secara visual. Nah, pada bagian ini, manakah yang lebih berbahaya?¬†Novel atau Film? Jawabnya, Film.¬†Mengapa? Jika kita analogikan dengan¬†Makanan, Film sama dengan Makanan Cepat Saji. Tersedia dengan cepat kepada kita. Kita tidak punya andil di dalam “menyaringnya” kecuali setelah “dikonsumsi” terlebih dahulu. Sementara Novel, bagus atau tidaknya jatuh kepada¬†pembaca dalam skala individu, bergantung kepada sejauh mana Imajinasi si Pembaca di dalam memahami karya yang dibacanya. Sementara Film, sekali ditayangkan di layar lebar, ratusan Pemirsa akan mengonsumsinya ke dalam alam bawah sadar mereka. Apa yang digunakan oleh akor dan aktris di film tersebut, akan secara tidak sadar ditiru oleh Pemirsa, seperti Anda,¬†apalagi kalangan anak Remaja yang belum bisa menyaring¬†akan apa yang mereka lihat dan “konsumsi” dari sebuah Film.¬†Coba sekarang saya tanya, “Sebutkan artis paling cantik di Indonesia menurut Anda? Artis Pria Mana yang Paling “Hot”? Film Mana¬†yang Membekas di Hati Anda?” (Tulis Jawabannya di Komentar Bawah¬†ini ya?)

Film Indonesia — Moral Bangsa

“Lagi-lagi, Moral. Bisa enggak sih kita tuh berhenti ngomongin soal Moral? Masalah bangsa tuh udah lebih banyak dari ini”, protes salah satu mahasiswa saya waktu saya mengajar Cross Culture Understanding (Pemahaman¬†Antar –¬†Budaya). Jawab saya, “Oh, Tidak Bisa. Bukankah Indonesia itu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, juga karena bobroknya Moral? Dalam Islam, bukankah Moral itu yang namanya Akidah dan Akhlakul Karimah? Dan bukankah Moral itu berkaitan dengan Pancasila?” Alasannya begini: “Moral, tidak berbentuk, dan abstrak, alias tidak bisa dilihat. Tuhan pun tidak bisa dilihat. Tidak suka membicarakan Moral, berarti tidak suka akan keberadaan Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita. Bukankah Agama itu fungsinya untuk menjadikan manusia lebih manusia?”

Apa kaitannya dengan Film? Pengalaman saya ketika saya mau berangkat ke Amerika, saya menonton film Hollywood, mulai dari yang ada “esek-eseknya” dengan yang¬†banyak adegan perkelahian serta yang penuh dengan nuansa science dan teknologi. (Anda tahu kok, yang mana aja). Nah, ketika saya sampai ke Los Angeles, terus ke Atlanta, dan kemudian ke Detroit, terus singgah ke¬†Minneapolis, dan St. Louis, saya perhatikan kok kehidupan di Amerika itu jauh sekali dengan apa yang disampaikan oleh Film-nya ya? Memang sih, film tidak mencerminkan dunia nyata. Saya tahu itu. Namun, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah saya¬†“disuguhkan” secara tidak sadar untuk melihat Amerika itu bagaimana, terutama perihal “selera film” mereka, dan unsur-unsur budaya lainnya, seperti gaya bicara dalam Bahasa Inggris, cara memakai baju, dan berbagai macam kebiasaan hidup sehari-hari. Ketika¬†saya lihat yang nyata, kok berbeda? Ternyata kehidupan di Amerika Serikat itu lebih kompleks¬†daripada yang saya bayangkan (karena saya belajar Topik ini di negara tersebut). Nah, ketika saya sudah berada di Amerika, baru jelas “konteks” film Hollywood tersebut. Saya pun mengerti akan “selera” orang Amerika Serikat dengan “selera” orang Indonesia berbeda dari segi dimensi psikologis, sosial, dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Ingat, Konteks Film berkaitan dengan Siapa Pemirsa dan Latar Belakang Film tersebut ditayangkan.¬†Bagaimana kalau itu terjadi dengan Film Indonesia? Kita punya Film Berbau Hantu, Pocong, dan Kuntilanak (dominan), apa kita mau orang luar itu menilai kehidupan kita dari sana?¬†Kita malah akan menjadi generasi paranoid. Bukannya takut kepada Sang Pencipta Alam (Allah SWT), malah takut ke Hantu, Pocong, dan Kuntilanak. Bayangkan kalau Film kita tidak mencerminkan Moral Bangsa¬†kita, atau tidak mengajarkan Moral yang baik-baik, apa jadinya bangsa kita di mata dunia? Meski sih, banyak “penyakit-penyakit” yang perlu diperbaiki¬†sana-sini, nggak cuma “Film”, namun, setidaknya, membuat Film yang mendidik dengan baik dan benar kan termasuk salah satu upaya untuk kita agar bisa membawa kita ke upaya¬†kemajuan Indonesa¬†yang baik dari segi aspek spiritual (di mana aspek ini memang kurang di berbagai belahan dunia). Kepekaan Penulis, Sutradara, dan Produser sangat diperlukan dalam hal ini. Contohnya? Banyak yang bisa dijadikan Film. Tinggal, kejelian Penulis, Sutradara, dan Produser membaca keinginan Pemirsa Indonesia (yang jumlahnya Jutaan) jika ingin Film-nya laku keras, bukan sekedar membuat Film yang¬†diniatkan mendapat Profit, namun¬†isinya biasa-biasa saja, malah membuat kontroversi. Itu kan, sia-sia, namanya. Di mana letak etika perfilman kalau begitu?

Film Asing — Politik dan Ideologi

“Wah, apa pula ini? Berat kali kata-kata kau, bah!”, katanya. Kataku, “Kalau begitu, kapan kamu mau belajar?” Oke, sekarang kita lihat ke Film Asing dan apa kaitannya dengan Politik dan Ideologi. Kok bisa? Seperti yang saya jelaskan di atas, sebuah Film diproduksi dan dipengaruhi oleh “konteks” di mana Film tersebut akan diproduksi, ditayangkan, dan diedarkan. Logikanya, jika Suhu Politik dan Ideologi di negara di mana Film tersebut dibuat tidak kondusif, besar kemungkinan Film yang akan ditayangkan berisi kritikan terhadap negara itu sendiri, namun perlu juga diingat, di Indonesia sudah ada Badan Perfilman Indonesia tidak? Di negara lain, mereka memiliki konsep “hukum” mereka sendiri, yang cukup berbeda dengan kita. Misalnya, konsep kebebasan atau “freedom”. Dinamika kehidupan mereka juga berbeda dengan kita, yang seringkali dinamika ini dipengaruhi oleh kultur mereka yang turun temurun, kemudian iklim, kondisi geografis, dan pengaruh budaya baru dari imigran yang ingin menjadi warga negara di negara tersebut. Namun, ketika kita lihat proses disetujuinya sebuah Film untuk layak edar ke publik, kita lihat dulu, konteks “mengapa” film tersebut bisa layak edar. Kita lihat film Hollywood, apakah mereka memproduksi film setelah mencermati budaya negara lain? Kan tidak. Bollywood? Apakah mereka memperhatikan budaya Pemirsa dari¬†negara¬†lain? Kan tidak. Boro-boro. Mereka tentu juga punya “selera” mereka masing-masing. Selera ini pun dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi politik dan ideologi di mana mereka tinggal dan dibesarkan. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Itu sebabnya, ketika kita menonton film buatan luar negeri, kita cenderung menikmatinya sebatas menikmati, meski pada hakikatnya, cara kita berfikir dan memutuskan sesuatu dalam hidup, juga bisa dipengaruhi oleh apa yang kita “lihat”. Salah satunya, ya, dari Film.¬†Mungkin saat ini kita sekedar menonton saja sebuah Film, tapi coba ketika seseorang menyebut sebuah kata saja yang berkaitan dengan Film yang kita tonton tersebut, apakah pikiran kita otomatis ingat kepada “sesuatu”? Lalu, apa bedanya dengan Iklan, coba? Bagaimana Iklan di Indonesia? Bukankah Film juga bisa digunakan sebagai Media Informasi Politik dan Ideologi melalui Alam Bawah Sadar? Kalau Anda ke Mall, misalnya, Anda cenderung membeli Produk yang ada Iklannya, atau sekedar beli-beli doank? Penonton awam mungkin tidak “ngeh” akan hal ini sebab¬†ketika menonton Film, tidak dilandasi dengan pengetahuan yang ada, sekedar menonton, atau¬†on the surface. Bagi penonton aktif dan kritis, dia seringkali suka¬†mempertanyakan: “Kenapa begitu?; Kok bisa sih?; atau Maksudnya apa Film ini?” Biasanya, yang kritis seperti ini tentu yang memiliki Wawasan di dalam Memahami Film dan mendalami Makna Film tersebut dibuat. Kalau kita bisa menikmati sebuah Film, sekaligus meng-kritisi nilai-nilai yang ada di dalamnya, Kenapa tidak?¬†Sebagai penonton Kritis, tentu sudah kewajiban kita untuk berbagi makna apa yang kita peroleh dari Film yang kita tonton. Bisa jadi penonton lain sekedar nonton doank, dan kita tahu jelas makna Film-nya secara positif dan negatif?

Film Indonesia — Mencerdaskan Bangsa

“Bangsa Indonesia sudah cerdas, kok, mereka udah tahu apa yang mereka lihat dan kerjakan”, kata seseorang pada saya. Saya jawab, “Waduh, jangan percaya. Kalau percaya, berarti elo sama aja dengan enggak mau maju, dan mendekati sifat Ujub, bangga diri, yang akhirnya enggak membawa elo ke mana-mana, selain menjadi stagnan, atau itu-itu aja. Akhirnya, elo dan bangsa elo kagak bakal mau belajar, karena sudah ngerasa cerdas”. Sekarang, kita kembalikan ke Film kita. Apa perlu Film itu harus mencerdaskan bangsa? Lalu bagaimana Film yang mencerdaskan bangsa itu? Begini, tadi di atas kita kan sudah membahas mengenai kaitan antara Konteks dan Pemirsa, sekarang, kita lihat kepada konsep kata “cerdas”. Menurut saya, Cerdas itu tidak sama dengan Pintar. Seseorang yang memiliki nilai Matematika misalnya, berarti ia Pintar di dalam Matematika. Seperti saya misalnya (ceilah), saya bisa Berbahasa Inggris, itu namanya Pintar Berbahasa Inggris (meski saya akui, Bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat kayak native speakers itu. Lol.). Cerdas itu, menurut saya, bisa menggunakan Ilmu yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang ada dan yang sedang dihadapi dengan benar dan baik tanpa ada penyesalan di kemudian hari. Coba kita lihat ke bangsa kita? Masalah macam apa yang¬†enggak ada coba? Banyak kan? Nah, apakah kita mau Film Indonesia juga menciptakan masalah baru di tengah-tengah pemirsa?

Bukankah Cerdas namanya jika melalui Film kita menyajikan ke Pemirsa Indonesia akan sebuah Masalah atau Realita¬†yang ada (bukan dari masalah pengalaman pribadi seseorang yang seringkali bias dan terlalu subjektif), lalu¬†kita sampaikan sebuah Solusi akan permasalahan yang ada dengan bingkai agama dan budaya Indonesia yang baik dan benar, bukan dibuat-buat. Perlu diingat, Solusi yang diberikan¬†harus dari sudut pandang¬†agama dan budaya kita, bukan dari apa yang baik dan bagus¬†menurut Sutradara dan Produser. Jika tidak, itu tadi, bisa melanggar Konteks, dan pada akhirnya Pemirsa akan merasa terintimidasi dan tersinggung dengan penayangan Film tersebut. Sekali Film dibuat, sekalipun dihapus, akan ada-ada saja pihak yang mengait-ngaitkan Film tersebut¬†dengan konsep-konsep ini itu, yang pada akhirnya akan membuat beberapa kelompok masyarakat akan termarjinalkan. Lebih dalam dari ini, kita lihat ke bangsa kita. Tidak semua orang yang pernah mengelilingi Indonesia, itu Fakta. Nah, ini juga bisa dijadikan Film, bukan melulu soal Agama dan Budaya saja, bisa juga bertema tentang Alam Indonesia, agar orang Indonesianya lebih peduli lagi dengan alamnya. Kerja sama antara Dinas Pariwisata dengan Dunia Perfilman Indonesia, juga oke kan? Selain Film seperti ini memuat Realita Alam Indonesia, Film ini juga akan bernilai jangka panjang bila ditonton oleh generasi Indonesia yang mempelajari Karya Seni bangsanya nanti di tahun-tahun mendatang. Bisa jadi ada mata kuliah berjudul “Perfilman Indonesia”, ya ‘kan? Apakah orang Bali pernah ke Padang, misalnya? Apa yang mereka ketahui tentang kehidupan di Padang, misalnya? Apakah orang¬†Bandung, pernah ke Jayapura, misalnya?¬†Masih banyak¬†kan yang bisa dijadikan bahan materi menjadi Film?

Berikut ini beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepada Penulis Film, Sutradara, dan Produser. Poin-poin ini masih sederhana, namun saya berharap untuk bisa dipertimbangkan dengan seksama.

Sebelum Membuat Film

  1. Pahami Karakter dan Budaya Bangsa dengan Secermat-cermatnya – Ingat Pemirsa : “Siapa Penonton Karya Saya?”, misalnya.
  2. Hindari Membuat Film yang¬†Terlalu Banyak Adegan “Panas” (kalau perlu tidak ada) –¬†Ingat,¬†Industri Pornografi tidak akan pernah berhenti karena itu buatan negara lain, jadi tidak penting kalau Film Indonesia menyuguhkan hal yang serupa. Film Indonesia harus lebih kreatif dari ini. Jangan menyuguhkan hal yang biasa jadi murahan.
  3. Cari Inspirasi dari Kisah-Kisah Orang Indonesia yang Sukses dan Berhasil dalam Hidupnya. Itu lebih Nyata. Sebab, sudah ada Solusinya pada Mereka. РIngat, Film yang Baik itu adalah Yang Menginspirasi kepada Kemajuan dan Kebaikan, bukan menyisakan Tanda Tanya, di mana Tidak Semua Pemirsa yang Berfikir dengan pola dan struktur yang sama. Alhasil, Film Anda pun sia-sia, dan tidak bermanfaat bagi Pemirsa. Perkejaan yang sia-sia itu, tentu bukan karakter bangsa kita, kan? Kan katanya mau maju? Trus, kan katanya mau jauh dari penjajahan? Kok malah niru gaya orang lain, ya toh?
  4. Sering-sering baca Novel¬†karya Penulis Indonesia – Ingat, Pemirsa Utama adalah Bangsa Indonesia. Kalau Novel yang akan diangkatkan menjadi Film adalah Novel karya Penulis Indonesia, maka besar kemungkinan “selera” Pemirsa Indonesia juga sama. Ini membantu Pemirsa Indonesia untuk memahami “konteks” film tersebut. Dan, tidak perlu membawa tema yang berat-berat, yang ringan-ringan saja, tapi menarik, dan bisa dijadikan pembelajaran. Tidak usah difikirkan “selera” Pemirsa luar negeri, sebab mereka juga sudah punya banyak stok Film di negara mereka. Laku di Indonesia saja sudah membawa Jutaan Rupiah, mengapa Repot-Repot Memikirkan Untung dari Negara Luar? Pada bagian ini, tentu penting kita lihat Konteks Film kita. Kalau masalah sensitif Budaya dan Agama kita diangkat, sebaiknya jangan. Masih ada wadah dan media yang lebih proporsional¬†untuk hal ini.
  5. Pahami Dampak Film Tersebut bagi Anda РIngat, Tidak Semua Pemirsa akan Berfikir seperti Anda. Kalau Film yang Anda buat itu berkisah tentang Realita dan Masalah Kehidupan, berikan Solusinya yang Konkret, Jelas, dan Masuk Akal serta sesuai dengan Konteks di mana Pemirsa Hidup dan Tinggal, apalagi disesuaikan dengan Konteks Agama dan Budaya mereka. Bukankah Anda akan bahagia jika Film Anda bisa membawa kedamaian di hati Pemirsa? Bagaimana rasanya bagi Anda, bila beberapa Pemirsa Anda mengungkapkan rasa senangnya setelah menonton karya Film Anda? Dan bagaimana pula rasanya jika Anda mendengar dan membaca caci maki Pemirsa Film Anda?
  6. Diskusi dengan Pakar-Pakar yang Menguasai Ilmu Perfilman, Budaya, Seni;¬†dan Belajar dari Film-Film Box Office Indonesia, bukan Box Office¬†Negara Lain. Ini penting, karena berkaitan dengan Konteks. Dari seluruh Film kita yang laku keras, coba dianalisa Film seperti apa yang masih “disukai” Pemirsa, kalau memang niat Anda ingin mendapat Profit. Pertahankan ke arah demikian. Sepertinya, Pemirsa kita, pilih-pilih di dalam menonton Film. Dan, sistem pemasaran Film biasanya dari mulut ke mulut, dan dari blog ke blog, serta dari status di FB mereka, atau Twitter, dan bahkan radio, serta pamflet yang disebarkan di kampus-kampus. Kalau saja satu orang kritis terhadap Film Anda, maka, besar kemungkinan teman-temannya yang lain juga tidak akan suka. Jadi, sebaiknya perhatikan betul konsep Konteks dan Pemirsa jika Anda ingin Film Anda laku dan diminati oleh Pemirsa Indonesia.
  7. Selalu Ingat Pemirsa РIngat, Pemirsa itu Individu, bukan Khalayak Ramai, tidak bisa dipukul Rata. Bisa jadi karya Film Anda sangat berarti bagi seseorang yang Anda kenal, (atau Anda ketahui di dunia maya, misalnya), namun bukan berarti Anda membuat Film untuk dia seorang, kan? Apa manfaatnya bagi orang banyak untuk mengetahui dan menyaksikan Film ini? Diskusikan dengan teman dan rekan-rekan Pakar Ilmu Budaya, Sastra, Film, dan Bahasa, serta Pendidikan, yang duduk manis di kantor mereka di berbagai Universitas di Indonesia mengenai inspirasi yang Anda dapat. Dan juga, tanyakan juga kepada anak-anak muda yang sedang nongkrong, Film seperti apa yang bagus buat mereka. Apalagi kalau tema Film Anda adalah Agama dan Budaya. Tema ini sangat-sangat berat untuk diangkat. Kalau tidak punya landasan yang jelas mengenai Agama dan Budaya apa yang akan Anda angkat, Anda hanya akan menghasilkan kekisruhan. Hal yang sensitif tidak perlu disajikan, sebab, bukankah budaya bangsa Indonesia, yang suka menjaga perasaan sesamanya? Kalau kita membuat Film dengan tujuan dan target Pemirsa yang jelas, pasti Film kita, paling tidak, bernilai manfaat bagi Pemirsa kan? Film yang bagus itu, menurut saya, adalah yang bila kita tonton berulang-ulang, akan selalu ada makna dan nilai yang ada di dalamnya, tidak hanya sekedar sebatas mengangkat isu terkini atau hal-hal yang sudah jelas garis pembatasnya di tengah kehidupan kita. Orang awam pun, jika mereka suka dengan sebuah Film, pasti akan dibeli Copy-nya yang asli, dan dipinjamkan ke teman-temannya. Alhadil, Pemirsa Anda akan lebih banyak ketimbang yang duduk di bioskop. Secara jangka panjang, pasti akan mengikuti karya-karya Anda kembali ke kemudian hari. Jadi, mana yang penting, unsur Profit, atau unsur manfaat jangka panjang dari Film Anda itu?

Pada saat membuat Film:

  • 1. Apakah Pemain Film sudah terkenal atau pemula?

Ini perlu diperhatikan dengan baik karena “image” pemain Film akan mempengaruhi Pemirsa di saat menonton Film. Kalau pemain Film-nya sudah kadung memiliki image yang baik di mata masyarakat, berikan kesempatan kepada pemain Pemula, agar mata orang Indonesia segar dengan apa yang mereka saksikan di Film Anda. Namun, tidak salah juga mempertahankan selebritis yang bagus dan baik kepribadiannya di tengah masyarakat. Sekalipun dia bermain antagonis, toh, orang akan tetap suka padanya. Kalau pun selebritis itu berperan baik-baik, atau protagonis, misalnya, orang tetap tidak akan suka kalau kenyataannya si dia punya perilaku buruk dan tidak patut dicontoh.

  • 2. Apakah¬†Lokasi atau Setting Pembuatan Film memiliki Sejarah atau Intrik Khusus dengan Film yang akan Dibuat? Kira-kira, reaksi warga Indonesia mengenai lokasi tersebut bagaimana?

Kalau kita Arif dan Bijaksana, kita tentu seharusnya tahu apa¬†kaitan¬†antara Film kita dengan lokasi syuting.¬†Jangan salah lho, Film-Film Barat itu sangat mementingkan Lokasi. Lokasi berbicara secara tidak langsung¬†kepada Pemirsa. Karena lokasinya di “New York”, maka terkesan Oke kan? Coba tengok Film-Film yang berlokasi di kota-kota besar Amerika Serikat, misalnya. Makanya banyak yang suka karena kata “New York” saja sudah membuat orang lain suka. Coba kalau kita menonton Film yang lokasinya di daerah kumuh, atau tempat-tempat di negeri dongeng, apa ingatan kita tertuju pada suatu tempat di sekeliling kita?¬†Setiap Pemirsa, memiliki ingatan tersendiri lho, soal lokasi syuting dan setting di mana¬†cerita Film tersebut dimainkan. Dan, yang lebih lagi, Film¬†juga bisa digunakan untuk memasarkan nama dari suatu¬†kota atau negara, misalnya, Australia. Oleh sebab itu, sensitifitas Sutradara dan Produser di dalam membaca situasi ini penting. Buat saja Film¬†yang¬† disukai Pemirsa sesuai Konteks,¬†pasti kemungkinan laku sangat besar. Jadi, enggak perlu berbelit-belit, kan? Apalagi yang¬†kontroversi, mereka juga¬†bakal menonton, tapi jika setelah menonton karya Anda, Pemirsa Anda malah mengutuk pekerjaan Anda, apa manfaatnya, coba? Tentu kedamaian di hati Anda, akan terusik. Jika tidak, yah, Tuhan Maha Tahu.

  • 3. Apakah Alur Cerita Masuk Akal?

Pemirsa akan bertanya-tanya di saat menonton Film. Apa iya, bisa begitu? Misalnya, dari itik menjadi kuda zebra. Kok bisa? Ya, itu masuk ke wilayah animasi. Bisa aja, karena memang beranjak dari dunia tidak nyata. Kalau dunia nyata? Ya tentu buat Film yang Alur Ceritanya Masuk Akal. Jangan sampai Pemirsa ketawa cekikikan pas tahu, kalau Judulnya Serius, eh, alurnya seperti perubahan dari sebuah batu menjadi burung elang. Kalau animasi, ya animasi, segala hal bisa terjadi. Tapi kalau Film dari dunia nyata, tentu kita bisa mengukur, sejauh mana sih “ke-tidak-masuk-akal-an”¬†yang disuguhkan? Kalau Filmnya tidak Masuk Akal, seperti Super Hero, jangan tanggung-tanggung, meski tetap sisi kemanusian harus tetap ada. Lalu tanya juga, “Masuk Akal, nggak? Apa kira-kira orang lain akan mengalami Hal yang sama? Kira-kira, bagaimana ya?”

  • 4. Apakah Unsur-Unsur¬†Kebudayaan Sudah¬†Direpresentasikan dengan Baik?

Ini penting lho. Bayangkan kalau seandainya sebuah kata kasar di daerah Batak, misalnya, digunakan sebebas mungkin di Film Anda yang justru malah menghina orang Batak karena tidak sesuai dengan Konteksnya. Film Anda sudah terlanjur dibuat dan diedarkan. Lalu bagaimana? Kan kita sudah tahu pepatah orang Indonesia, “Sedia Payung Sebelum Hujan”, yang¬†sama dengan konsep, “Better Safe than Sorry” di mata dunia. Itu sebabnya, sensitifitas akan kebudayaan bangsa kita itu penting. Jika tidak, tentu Film yang Anda buat¬†itu malah menjadi¬†Titik Api, yang malah mengobarkan masalah baru di khalayak Pemirsa? Sebaiknya, alangkah baiknya jika Film kita¬†itu, dibuat untuk memberikan¬†penerangan¬†akan Solusi dari sebuah Permasalah Hidup yang ada, dan Solusi tersebut harus sesuai dengan, kembali, Agama dan Budaya kita, serta Hukum dan Aturan Negara kita. Kata siapa membuat Film itu, gampang? Susah lho. Capek juga.¬†Yang gampang itu membuat Film Sampah, seperti Pornografi itu. Isinya itu-itu aja, tidak ada penambahan (bagi Anda yang dewasa, pasti mengerti akan hal ini). Maka dari itu, kita tentu tidak ingin menjadikan karya kita sia-sia, ‘kan?

  • 5. Apakah Kostum yang Digunakan pada Film ini akan Menyinggung Sekelompok¬†Etnis di Indonesia?

Perlukah bagian ini? Perlu. Bukankah budaya kita terkenal dengan pakaiannya yang baik dan rapi? Kalau Film Anda bertema Agama dan Budaya, usahakan Anda mengerti dulu, mana yang boleh dan tidak boleh di agama dan budaya tersebut, termasuk perihal pakaian atau Kostum. Jika Anda sembarangan membuat karya yang tidak sesuai dengan Agama dan Budaya, berarti Anda sudah berniat jahat terhadap Agama dan Budaya tersebut. Sederhana, tapi memang demikian adanya, kan? Penjual yang baik itu, yang menjual barang dagangan berkualitas tinggi, dan tentu, kalau Pembeli Komplen, itu hak si Pembeli. Kita tentu pernah menjadi Pembeli kan? Tentu mengerti kenapa Pembeli bisa Komplen. Mengenai Budaya Etnis, lebih baik kita angkat etnis tersebut ke Film kita, sembari kita berikan Solusi yang baik dari permasalahan yang mereka hadapi melalui Film kita dengan sudut pandang yang sejelas-jelasnya. Itu baru namanya, Seni, bukan sekedar Gambar Bergerak. Coba bayangkan, misalnya, pakaian tradisional Bali, digunakan untuk tema pelacuran di kota Jakarta, kan enggak nyambung, malah itu menghina budaya Bali, kan? Ingat lagi konsep Konteks dan Pemirsa.

  • 6. Apakah¬†Totalitas Akting Pemain Film sesuai dengan Bagaimana Dirinya di Dunia Nyata?

Media Informasi dan Teknologi berkembang pesat di Indonesia, termasuk Televisi, Koran, dan Majalah. Peran Pers di dalam membuat berita mengenai selebriti juga bisa mempengaruhi bagaimana Pemirsa “menilai dan melihat” sebuah Film. Jika saja ada selebriti yang reputasinya buruk di media massa Indonesia, sudah tentu Pemirsa sedikit enggan menyaksikan Film Anda, kecuali jika memang Film Anda pantas dan layak ditonton oleh Pemirsa. Pemirsa yang kritis dengan Film akan berfikir, Manfaat Film ini buat Gue Apaan ya? Gue enggak mau buang-buang duit dan waktu cuma buat Film ini doank. Begitu.. Kan, bangsa Indonesia, sudah mulai cerdas? Apa iya?

  • 7. Apakah Unsur Seni disini Berupa Keindahan Bahasa dan Cerita atau Keindahan Tubuh Belaka?

Seni yang baik itu, adalah Seni yang menggugah hati, rasa, dan indera, bukan hanya nafsu. Melihat foto-foto pose selebritis wanita atau pria yang telanjang atau pun hampir telanjang, tidak akan membawa apa-apa selain dangkalnya unsur Seni. Lagi-lagi, kita lihat Konteks Seni di sini. Seni di Indonesia itu, seperti apa? Apa nonton orang bertelanjang di depan layar atau yang sedang bersetubuh? Tidak, kan? Trus, video lagu dangdut itu, bagaimana? Itu sih, biasa, cuma goyang-goyang aja. Kalau sudah menayangkan video manusia yang berpose hampir bugil, sama artinya dengan menggunakan seorang manusia demi objek seks. Apa bedanya dengan menonton penari bugil di bar? Bagaimana rasanya jika Anda sedang berpose seperti itu dipublikasikan ke khalayak ramai? Apa Anda mau? Saya sih, enggak, meski dengan bayaran jutaan pun. Bukan karena saya jelek atau tidak secakep artis lainnya, cuma karena saya tahu akan jati diri sebagai orang Indonesia. Buat apa sekolah kalau pada titik ini, masih mau dibodohi orang. Ya, kan?

Setelah Membuat Film:

1. Serahkan semua penilaian tentang Film Anda kepada Pemirsa. Bukankah Anda membuat Film, sebagai sebuah karya, untuk Pemirsa Indonesia agar mereka bisa menjadi lebih baik menurut pandangan Anda? Jika mereka tidak suka, itu kan bagus, bisa dijadikan bahan untuk membuat Film yang lebih baik lagi di kemudian hari?

2.¬†Berikan Penjelasan Mendasar pada Bagian Awal Film tersebut agar Pemirsa Mengerti “Konteks” bagaimana Film tersebut Harus Dilihat supaya Tidak Ada Kontroversi Mengenai Film Anda dan Anda tidak perlu dilaporkan ke Pengadilan karena Alasan Pencemaran Nama Baik, Baik Nama Baik atas Nama Individu, Suku, Agama, Ras, dan atau Kebudayaan Daerah di Indonesia. Ini penting, lho.

3. Buat Trailer Film Anda semenarik-menariknya dan Sesuaikan dengan Alur Cerita Film secara Keseluruhan. Anda tidak mau, kan, calon Pemirsa lari atau membenci Anda hanya karena menonton Trailer Anda yang jelek? Sekalipun hanya dari Trailer, adalah hak Pemirsa untuk menilai kualitas Film yang Anda buat. Jika Trailernya jelek, mana mungkin Pemirsa akan membuat duit dan waktunya untuk menonton Filmnya secara keseluruhan?

Kesimpulan:

Silahkan ambil sendiri-sendiri ya.

Saya cuma menjelaskan saja. Boleh diambil dan dicerna baik-baik. Jika ada yang kurang pas di hati, silahkan komentar di bawah ini ya. Jika setuju, jelaskan juga mengapa Anda setuju.

Salam.

Sukses selalu perfilman Indonesia! Jadilah yang unik dan kreatif. Bukan jadi pengikut gaya Film orang. Be yourself as the way who you are, if you find something good that people say for your achievement and you, deeply inside you know that, please don’t deny it¬†~¬†

Merdeka Indonesia! Indonesia Raya! ūüôā

(Ditulis di Edwardsville, Illinois, Amerika Serikat, January 5, 2013)

The Story of Malin Kundang


The Story of Malin Kundang

Since the text of Malin Kundang folktale is not easy to find, especially the one written in English; therefore, I want to share the following text to you all. Hope it is useful for you. This story is the most well-known folktale among Minangkabau people in West Sumatra province, and generally known in Indonesia.

This story has been published in:

Alibasah, Margaret Muth. 1975. Indonesian Folk Tales. Djakarta; Djambatan, pp. 11-17.


——————————————————————–¬†

Malin Kundang

SUMATRA

Far, far away, on the coast of Western Sumatra near the mount of the Batang Arau River, there is a large gray rock. It looks like any rock anywhere, but the people in the nearby fishing villages approach it with great awe, and not a little fear, and they bring their children to it to tell them its story. For the rock was once a ship ‚Äď the ship of fisherman‚Äôs son from their own neigbourhood, who sinned against his mother and was thus punished for his evil deed.

Most of the inhabitants of the village were poor. They made their living only fishing; farming they did not know. One of the families, poorer than the rest, had one boy named Malin Kundang. Because he was their only son, they loved him more than was good for him, and they spoiled him, and as is so often the case, instead of returning their love and goodness to him, he became lazy and selfish and naughty, and a burden to them.

One morning, as Malin Kundang’s mother set in their small cottage weaving cloth, Malin Kundang, as always looking for mischief, stole up quietly behind her and quickly grabbed her spool. He was about to run away with it when he fell, and the sharp point of the bobbin pierced his forehead just above the eyebrow. Weeping loudly, he ran back to his mother, who cleaned and bandaged his wound without delay and comforted her naughty child. The wound healed quickly, but it left a large scar.

One day Malin Kundang’s father heard that there was a ship at the delta whose captain was looking for additions to his screw. Malin Kundang was growing up, and his father, thinking only of his son’s good and his future, asked him whether he would like to sail. Yes, he would, said Malin Kundang. It seemed to him an excellent idea; he would go far awar, to distant lands, to all the world.

And so he left his parents, and the village where he had grown up, and joined the crew of the large ship his father had told him about. His parents took leave of him with great sadness. In spite of his bad behavior he was still their only son, and they would now be alone again.

As was to be expected, no news came to the parents of their sailor son. Years passed; the father died, and Malin Kundang’s mother lived by herself, poverty-stricken old woman, whose one hope in the miserable world in which she lived, was to have some word from her son before her own life-span was ended.

Meanwhile, what of the son? He was in luck, Malin Kundang, this son of poor fisherfolk. The days of his apprenticehip as a common sailor were far behind. Not only was he a captain of ship; he was the owner of a fleet of merchant ships; as well. Ships, houses, jewels, all the world‚Äôs goods he desired were his‚ÄĒand so he lived, adding to his possessions and to his wealth as he sailed from country to country, a prosperous, successful merchant and shipowner. Forgotten were the days of his youth, his parents, their love and kindness towards him. The traits of his boyhood, selfishness, indifference to the welfare of others, conceit‚ÄĒthey were all emphasized as he had grown to man‚Äôs estate. Tall and straight he had grown ‚Äď a handsome captain indeed ‚Äď but the straightness was of pride and the bearing of the head showed conceit and superciliousness. This was Malin Kundang.

One day the villagers of the delta town of Batang Arau saw a large handsome ship, a foreign ship, in their small harbor. One whispered to another, and this one to again another, that the tall man standing on deck was noe other than Malin Kundang. It had been years and years since Malin Kundang had left the village as a young boy, and it was now a grown man they saw, a bold and dashing figure, elegantly dressed. But the older folk knew him by the scar above his eyebrow. They remembered.

The news spread fast. An old man hurried to the home of Malin Kundang‚Äôs mother, and panting in his state to tell her, he cried, ‚ÄúOld Mother, old Mother, your son has returned. He is the captain of a splendid ship that has dropped anchor in the harbor. He is a great man now ‚Äď a rich man. They say it is own ship. Come, Old Mother, and see. Come and see!‚ÄĚ

Malin Kundang’s mother could hardly believe the news. The tears rushed to her eyes and streamed down her wrinkled face. Quickly she fetched a basket, filled it with rice, and left the house with the old man.

The ship was splendid indeed. Never before had the village been privileged to receive such a ship in its humble harbor. The spectators were there in throngs, admiring the vessel from stem to stern: the wood of its main mast; its billowing white sails. It was a great event, a great day!

A Critical Summary: One Hundred Years of Buya Hamka (1908-2008)


>

A Critical Summary: One Hundred Years of Buya Hamka (1908-2008)
Padang, February 16, 2008
The philosophy of life declared by Buya Hamka is known as an extraordinary philosophical thought that it has been widely recognized by all Indonesian people, even by Singaporean and Malaysian. The other name for Buya Hamka is Datuak Indomo. The unique characteristic of Buya Hamka’s way of thinking is that he really much concerns on the specific way that is usable in this modern education system. Besides, Buya Hamka also concerns on the humanistic and social aspect that include theology, tafsir Al Qur’an, literature, fiqh, Islam history, and education. One of his famous and great books is Tafsir Al-Azhar.
Talking about Buya Hamka’s educational background, it is clear that he has entered the IslńĀmic school in Padang Panjang and in Parabak, that is Sumatra Thawalib. His teachers are Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul amid Hakim, and Syekh Zainuddin Labay el-Yunusiy. The last mentioned teacher is the one that Buya Hamka really likes. The approached used by Engku Zainuddin in teaching is not on the form of¬†transferring of knowledge but also transferring of value. Surprisingly, Buya Hamka also learns about philosophical thought by Aristoteles, Plato, Phytagoras, Plotinus, Ptolemeous, and others. When Buya Hamka was in Yogyakarta, he read many great classic books, such as books written by Ki Bagus Hadikusumo, R. M. Soeryapranoto, Kyai Haji Mas Mansur, H. Fachrussin, and A. R. Sutan Mansur.
There are four stages of Buya Hamka’s intellectuality. They are at first, the existence of intellectual conversion. In this stage, Buya Hamka has faced the dualistic way of thinking. He saw the Arab oriented way of life in Indonesia. However, through the Zinaro library, in which he reads many other philosophical thoughts, has influences the enhancement of his way of thinking. Secondly, the searching for intellectual identity. It is the time when he accumulated the modernist Islam in his mind. Thirdly, the pre-intellectual development stage. It is the time when he has done great efforts through Muhammadiyah either in Minangkabau or in Medan. Fourthly, the second intellectual development stage. It is the time when Buya Hamka expand his developed mind.
According to Hamka, human is the God’s cre√§ture that has many potentials. It is only to those who develop their potentials all the time will get the magnificent meaning of life. Even in the greatest thing, Buya Hamka also explains that the mind should be guided by good education because it is the medium in analyzing all phenomenon existing in nature. Al-Qur’an has always taught this side since it was written by Zaid bin-Tsabit. Therefore, Buya Hamka declares that becoming a highly valued and good person in this earth cannot only exist by learning all classic books but it is fully on the way someone produces technologies that enable other human being to magnify their life atmosphere with no burdens in the environment. In addition, great human are those who always criticize themselves rather that criticizes other people.
Furthermore, Buya Hamka declares that parents must be able to prove good way of life (akhlaqul karimah). In abroad sense, to make the prosperous and glorious society, family is the basic element to start the goal. Then, the leader of the society is encouraged to respect his civilians’ rights in terms of rights for similarity and justice, safety, hood circle, work placement, and freedom in expression.
Three works which are well-known as Buya Hamka’s masterpieces are Lembaga Budi (1939), – Moral Institution, Falsafah Hidup (1940) – Life Philosophy, and Lembaga Hidup (1941) – Life Institution. Dealing with his intellectual development, as stated by G. F. Pijper, Buya Hamka is categorized into the third typology, that is standing strongly to the basic of Islam religion, without ignoring contemporary thought, as long as it is in the same corridor with IslńĀmic values.
In conclusion, the philosophical thought, that Buya Hamka has, has developed the way he views Islam. As a child who was grown up in IslńĀmic circle, he becomes a philosophical thinker but remains in control. His intellectuality has sharpen the way he gives his opinion about family, politic and especially IslńĀmic literature, as seen through his three masterpieces.
*********************************
Note:
This writing is a critical summary of a seminar that is done in order to commemorate one hundred years of Buya Hamka. The ideas of this writing is partly inspired from a paper written by Prof. Dr. H. Samsul Nizar, MA. He is a professor of Tarbiyah faculty in Indonesian IslńĀmic Religion Institute of Imam Bonjol, Padang. The title of the paper is “Renungan Pemikiran dan Falsafah Hidup Hamka” (The Deepest Thought of Life Philosophy by Hamka).