Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia – Caranya?


Aku Cinta Film Indonesia – Film Yang Bagaimana?

Setiap kita, pada dasarnya, menyukai film, apapun jenis genre-nya. Baik itu kartun, animasi, aksi, petualangan, misteri, horor, termasuk film bertema reliji atau agama dan budaya. Namun, pertanyannya, film seperti apa yang telah atau kita tonton itu? Lantas, seberapa jauh film bisa berpengaruh pada hidup kita? Kenapa pula sebuah film wajib dikaji terlebih dahulu oleh pakar kebudayaan dan sastrawan sebelum diedarkan ke khalayak pemirsa Indonesia?

Tulisan saya berikut ini diniatkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya memang bukan termasuk ke dalam pihak-pihak yang bisa membuat film dan memproduksinya. Walaupun demikian, sebagai salah seorang penikmat, sekaligus pengkritik film, saya tentu sedikit banyak mengerti akan apa yang baik dan bagus mengenai sebuah film. Berangkat dari latar belakang saya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris (sekarang, Ilmu Budaya) di Universitas Andalas, dan saat ini (yakni pada saat saya menulis tulisan ini) sedang studi di Amerika, dengan bidang Bahasa Inggris, konsentrasi pada Komposisi: Budaya, Sastra, dan Bahasa, maka setidaknya ada sebuah kewajiban bagi saya untuk berbagi ilmu dengan pembaca blog saya ini tentang Tips Membuat Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia. Melalui tulisan ini, saya akan membahas sedikit banyak kaitan antara Film dengan Budaya, serta antara Film dengan Alam Bawah Sadar pemirsa. Konsep yang akan saya gunakan untuk membahas Topik ini berkaitan dengan Teori Alam Bawah Sadar yang diajukan oleh Sigmund Freud. (Bagi mahasiswa sastra dan psikologi, pasti telah mengenal teori ini). Teori-teori berat sengaja tidak saya jabarkan di sini karena tujuannya bukan untuk memaparkan suatu konsep yang rumit, namun menjelaskan upaya yang benar dan baik perihal membuat film bertema agama dan budaya di Indonesia dengan bahasa yang sesederhana mungkin, mengingat tidak semua pembaca Indonesia yang paham bila saya cas cis cus dengan Bahasa Asing di sini.

Film — Konteks — Pemirsa

Sebuah film, dianggap dan dinilai sebagai sebuah “teks”. Dalam ilmu Kajian Media, teks bisa bersifat semua yang kita lihat dan baca serta dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan Film, di dalam Film, yang kita tonton itu, termuat di dalamnya sebuah Konteks. Konteks berfungsi sebagai bingkai, atau wadah di mana film tersebut diproduksi dan diedarkan serta dikonsumsi sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran bagi pemirsa. (Kalau hanya sekedar Hiburan, kan sudah ada Musik dan Lagu, ya toh?) Dengan demikian, keberadaan Pemirsa juga bisa mempengaruhi Konteks di mana Film tersebut akan ditayangkan. (Ingat lho, biaya membuat Film itu tidak sedikit, jadi jangan jadikan kegiatan ini sia-sia). Kaitan antara ketiga unsur ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, sebab tanpa keberadaan Pemirsa, Film akan menjadi sia-sia; dan tanpa sebuah Konteks, Film bisa menuai berbagai macam permasalahan karena keberagaman tipe dan macam pemirsa. Di Indonesia, pemirsa kita bermacam-macam. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kaitanya dengan pembuatan film bertema agama dan budaya, tentu Pemirsa di sini adalah orang-orang yang erat kaitannya dengan agama dan budaya di mana Film tersebut diproduksi. Logikanya, Film yang dibuat sebaiknya sejalan dengan Sifat dan Karakter Pemirsa atau Penonton di Indonesia agar Film tersebut Menarik dan Layak untuk ditonton serta dapat dijadikan Media Pembelajaran bagi generasi muda untuk berfikir akan nasib bangsanya ke depan kelak. Jika kita lihat ke Indonesia, terdapat berbagai macam unsur kebudayaan yang ada, tersebar dari Aceh hingga ke Merauke. Mengenai Agama, terdapat pula Lima Agama di Indonesia: Islam, Nasrani, Katolik, Hindu dan Buddha. Sebagai orang Indonesia, kita sebaiknya sadar akan keberadaan penganut agama ini. Oleh sebab itu, yang perlu kita pertahankan adalah keberlangsungan akan kerukunan umat beragama di negara kita. Sebuah Film yang bertema Agama, wajib untuk tidak menyinggung agama apapun. Sebuah Film yang bertema Budaya, wajib untuk bisa merepresentasikan budaya yang disampaikan dengan seksama, agar tidak ada pihak-pihak di Indonesia yang merasa terintimidasi atau merasa terancam, apalagi jika Film tersebut berkaitan dengan komunitas marjinal yang ada di negara kita.

Penulis — Sutradara — Produser

Peran penulis, sutradara, dan produser sangat erat dan penting fungsinya bagi proses pembuatan sebuah film. Mengenai penulis, siapa pun bisa menjadi penulis. Pertanyaannya, penulis yang bagaimana? Pertanyaan yang sama juga jatuh kepada sutradara dan produser. Sebuah pertanyaan kritis yang timbul dari benak saya adalah: “Apa prinsip, visi, dan misi serta niat sutradara dan produser sebelum memprakarsai sebuah pembuatan film? Apa latar belakang mereka secara pribadi? Film-film apa saja yang telah mereka produksi? Apa komentar dan kritik dari pemirsa mengenai Film yang mereka produksi?” Saya mengamati bahwa pada dasarnya, pemirsa Indonesia, tidak mencermati atau mempertanyakan siapa individu yang termasuk ke dalam tiga unsur ini. Penulis yang sejati, ketika karyanya di-film-kan, pasti akan sangat terharu, namun, dia tentu akan wanti-wanti, apakah karyanya bisa “diwakili” dan “terwakili” di layar lebar atau tidak. Alasannya, banyak juga kenyataan di mana Pemirsa kecewa menonton Film Layar Lebar yang diangkat dari Novel karena banyaknya bagian cerita yang dipotong. Alhasil, itu akan merugikan kandungan makna Novel si Penulis. Sutradara, pada dasarnya, adalah individu yang memotori dan meracik sebuah film menjadi menarik dan berdaya guna. Baik atau tidaknya penilaian Pemirsa mengenai Film-nya, itu termasuk ke dalam tanggung jawab Sutradara. (Kenapa? Baca terus, ya?) Sementara Produser, atau mungkin bisa juga disebut Sponsor, bertanggungjawab perihal Pembiayaan Film, meski Produser juga tertarik kepada Profit atau Untung dari Film. Di titik Produser ini, perlu juga dilihat, ingin mendapat untungnya tersebut berupa apa? Apakah dengan cara menghalalkan segala upaya untuk meraih untung? Menghindari sisi kemanusiaan?

Film Asing — Lebih Laku — Banyak Ditonton (Film Indonesia?)

Kita sadar kalau Film kita tidak semuanya yang laku di pasaran per-film-an internasional. Ada yang bagus, tapi juga tidak sedikit yang kurang bagus. Sementara, kita sering tergiur dengan lakunya film luar, bahkan terkadang, bisa mengalahkan posisi film tanah air kita. Kita juga ingin film kita mengalami hal yang sama. Lantas, kenapa bisa laku? Wajar saja laku, karena faktor bahasa di film tersebut dan faktor budaya pemirsa internasional serta selera pemirsa internasional.

Mengenai bahasa, tidak selalu film yang laku di dunia internasional itu mutlak menggunakan bahasa Inggris, namun, dengan menggunakan bahasa Inggris, setidaknya cakupan jumlah pemirsanya menjadi lebih luas. Faktor budaya juga mempengaruhi bagaimana sebuah film dinilai di mata dunia internasional. Karena budaya Indonesia yang cukup “kontras” dengan budaya “luar”, wajar film Indonesia sedikit terasa berbeda nuansanya bagi pemirsa internasional. Ujung-ujungnya ini berkaitan dengan selera pemirsa internasional. Tidak mutlak pemirsa internasional suka film yang berbau kekerasan atau animasi yang penuh intrik serta dibarengi dengan kualitas video dan audio yang bagus. Namun, unsur seperti ini sudah sangat menunjang untuk menjadi sebuah film yang bagus. Sebuah film drama yang bertema keluarga saja bisa laku keras di pasaran karena menginspirasi bagi mereka. Kenapa? Karena film yang laku keras tersebut memberikan inspirasi kepada pemirsa sesuai konteks kebiasaan dan “selera” hidup di mana mereka berada. Kalau kita menonton film Hollywood, misalnya, konteks alur ceritanya dibangun dari sudut pandang orang Amerika. Sementara, film Bollywood, juga mewakili bagaimana orang India mewakili berbagai macam cerita yang diinspirasi dari kultur mereka sehari-hari. Bagaimana dengan kita? Apakah film kita sudah mewakili keberagaman budaya kita? Apakah film kita masih berorientasi profit? Kaitannya dengan Agama dan Budaya, film-film Hollywood dan Bollywood juga memiliki tema Agama dan Budaya, tapi tentu sesuai konteks Amerika dan India. Namun, apakah kita melulu meniru bagaimana orang lain membuat film? Lantas, apa yang menjadi ciri khas film kita? Nah, pada titik ini, kita kaitkan dengan selera pemirsa Indonesia secara garis besar. Saya masih ingat ketika rekan kuliah saya dulu bilang begini, “Hollywood itu identik dengan pistol, sex, dan teknologi. Bollywood itu identik dengan nyanyi, tari, dan aneka masalah sosial di India. Kalau Jepang, ada Samurai. Kalau China, dengan Ninja” Sementara, Film kita? Banyak ide yang bisa dijadikan film. Cuma, dari mana ide tersebut? Dan, apa ide tersebut baik atau jahat? Itu dulu, baru pikirkan soal profit. Kalau Film menarik, ada unsur pembelajaran di dalamnya, dan unsur audio-visualnya mendukung, siapa sih yang tidak akan menonton? (Lho, kok bisa gitu? Kan harus nonton dulu?) Kan ada sinopsis, dear one… Kan bisa baca sinopsis itu.

Film — Novel

Banyak film-film besar yang diangkat dari Novel. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Anda pasti sudah tahu akan hal ini. Pertanyaannya, apakah mutlak novel yang laku keras bisa laku pula setelah di-film-kan? Belum tentu. Apakah novel yang biasa-biasa saja bisa membuat filmnya laku keras? Bisa jadi. Seperti argumen saya di atas, sebuah Film, laku atau tidak, bergantung kepada Konteks dan Pemirsa. Kalau Film nya sudah menawarkan kontroversi bagi Pemirsa, saya khawatir akan keberadaan Sutradara dan Produser. Mereka bisa dipertanyakan oleh Pemirsa, dan itu tentunya adalah hak Pemirsa. Novel, pada dasarnya, sama dengan Film, cuma perbedaannya terletak pada cara kita “mengonsumsinya”. Untuk Novel, kita seringkali membangun imajinasi dari susunan kata yang ditulis oleh penulis novel tersebut. Sementara Film, kita hanya duduk, diam, dan menerima apa yang disuguhkan secara visual. Nah, pada bagian ini, manakah yang lebih berbahaya? Novel atau Film? Jawabnya, Film. Mengapa? Jika kita analogikan dengan Makanan, Film sama dengan Makanan Cepat Saji. Tersedia dengan cepat kepada kita. Kita tidak punya andil di dalam “menyaringnya” kecuali setelah “dikonsumsi” terlebih dahulu. Sementara Novel, bagus atau tidaknya jatuh kepada pembaca dalam skala individu, bergantung kepada sejauh mana Imajinasi si Pembaca di dalam memahami karya yang dibacanya. Sementara Film, sekali ditayangkan di layar lebar, ratusan Pemirsa akan mengonsumsinya ke dalam alam bawah sadar mereka. Apa yang digunakan oleh akor dan aktris di film tersebut, akan secara tidak sadar ditiru oleh Pemirsa, seperti Anda, apalagi kalangan anak Remaja yang belum bisa menyaring akan apa yang mereka lihat dan “konsumsi” dari sebuah Film. Coba sekarang saya tanya, “Sebutkan artis paling cantik di Indonesia menurut Anda? Artis Pria Mana yang Paling “Hot”? Film Mana yang Membekas di Hati Anda?” (Tulis Jawabannya di Komentar Bawah ini ya?)

Film Indonesia — Moral Bangsa

“Lagi-lagi, Moral. Bisa enggak sih kita tuh berhenti ngomongin soal Moral? Masalah bangsa tuh udah lebih banyak dari ini”, protes salah satu mahasiswa saya waktu saya mengajar Cross Culture Understanding (Pemahaman Antar – Budaya). Jawab saya, “Oh, Tidak Bisa. Bukankah Indonesia itu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, juga karena bobroknya Moral? Dalam Islam, bukankah Moral itu yang namanya Akidah dan Akhlakul Karimah? Dan bukankah Moral itu berkaitan dengan Pancasila?” Alasannya begini: “Moral, tidak berbentuk, dan abstrak, alias tidak bisa dilihat. Tuhan pun tidak bisa dilihat. Tidak suka membicarakan Moral, berarti tidak suka akan keberadaan Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita. Bukankah Agama itu fungsinya untuk menjadikan manusia lebih manusia?”

Apa kaitannya dengan Film? Pengalaman saya ketika saya mau berangkat ke Amerika, saya menonton film Hollywood, mulai dari yang ada “esek-eseknya” dengan yang banyak adegan perkelahian serta yang penuh dengan nuansa science dan teknologi. (Anda tahu kok, yang mana aja). Nah, ketika saya sampai ke Los Angeles, terus ke Atlanta, dan kemudian ke Detroit, terus singgah ke Minneapolis, dan St. Louis, saya perhatikan kok kehidupan di Amerika itu jauh sekali dengan apa yang disampaikan oleh Film-nya ya? Memang sih, film tidak mencerminkan dunia nyata. Saya tahu itu. Namun, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah saya “disuguhkan” secara tidak sadar untuk melihat Amerika itu bagaimana, terutama perihal “selera film” mereka, dan unsur-unsur budaya lainnya, seperti gaya bicara dalam Bahasa Inggris, cara memakai baju, dan berbagai macam kebiasaan hidup sehari-hari. Ketika saya lihat yang nyata, kok berbeda? Ternyata kehidupan di Amerika Serikat itu lebih kompleks daripada yang saya bayangkan (karena saya belajar Topik ini di negara tersebut). Nah, ketika saya sudah berada di Amerika, baru jelas “konteks” film Hollywood tersebut. Saya pun mengerti akan “selera” orang Amerika Serikat dengan “selera” orang Indonesia berbeda dari segi dimensi psikologis, sosial, dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Ingat, Konteks Film berkaitan dengan Siapa Pemirsa dan Latar Belakang Film tersebut ditayangkan. Bagaimana kalau itu terjadi dengan Film Indonesia? Kita punya Film Berbau Hantu, Pocong, dan Kuntilanak (dominan), apa kita mau orang luar itu menilai kehidupan kita dari sana? Kita malah akan menjadi generasi paranoid. Bukannya takut kepada Sang Pencipta Alam (Allah SWT), malah takut ke Hantu, Pocong, dan Kuntilanak. Bayangkan kalau Film kita tidak mencerminkan Moral Bangsa kita, atau tidak mengajarkan Moral yang baik-baik, apa jadinya bangsa kita di mata dunia? Meski sih, banyak “penyakit-penyakit” yang perlu diperbaiki sana-sini, nggak cuma “Film”, namun, setidaknya, membuat Film yang mendidik dengan baik dan benar kan termasuk salah satu upaya untuk kita agar bisa membawa kita ke upaya kemajuan Indonesa yang baik dari segi aspek spiritual (di mana aspek ini memang kurang di berbagai belahan dunia). Kepekaan Penulis, Sutradara, dan Produser sangat diperlukan dalam hal ini. Contohnya? Banyak yang bisa dijadikan Film. Tinggal, kejelian Penulis, Sutradara, dan Produser membaca keinginan Pemirsa Indonesia (yang jumlahnya Jutaan) jika ingin Film-nya laku keras, bukan sekedar membuat Film yang diniatkan mendapat Profit, namun isinya biasa-biasa saja, malah membuat kontroversi. Itu kan, sia-sia, namanya. Di mana letak etika perfilman kalau begitu?

Film Asing — Politik dan Ideologi

“Wah, apa pula ini? Berat kali kata-kata kau, bah!”, katanya. Kataku, “Kalau begitu, kapan kamu mau belajar?” Oke, sekarang kita lihat ke Film Asing dan apa kaitannya dengan Politik dan Ideologi. Kok bisa? Seperti yang saya jelaskan di atas, sebuah Film diproduksi dan dipengaruhi oleh “konteks” di mana Film tersebut akan diproduksi, ditayangkan, dan diedarkan. Logikanya, jika Suhu Politik dan Ideologi di negara di mana Film tersebut dibuat tidak kondusif, besar kemungkinan Film yang akan ditayangkan berisi kritikan terhadap negara itu sendiri, namun perlu juga diingat, di Indonesia sudah ada Badan Perfilman Indonesia tidak? Di negara lain, mereka memiliki konsep “hukum” mereka sendiri, yang cukup berbeda dengan kita. Misalnya, konsep kebebasan atau “freedom”. Dinamika kehidupan mereka juga berbeda dengan kita, yang seringkali dinamika ini dipengaruhi oleh kultur mereka yang turun temurun, kemudian iklim, kondisi geografis, dan pengaruh budaya baru dari imigran yang ingin menjadi warga negara di negara tersebut. Namun, ketika kita lihat proses disetujuinya sebuah Film untuk layak edar ke publik, kita lihat dulu, konteks “mengapa” film tersebut bisa layak edar. Kita lihat film Hollywood, apakah mereka memproduksi film setelah mencermati budaya negara lain? Kan tidak. Bollywood? Apakah mereka memperhatikan budaya Pemirsa dari negara lain? Kan tidak. Boro-boro. Mereka tentu juga punya “selera” mereka masing-masing. Selera ini pun dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi politik dan ideologi di mana mereka tinggal dan dibesarkan. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Itu sebabnya, ketika kita menonton film buatan luar negeri, kita cenderung menikmatinya sebatas menikmati, meski pada hakikatnya, cara kita berfikir dan memutuskan sesuatu dalam hidup, juga bisa dipengaruhi oleh apa yang kita “lihat”. Salah satunya, ya, dari Film. Mungkin saat ini kita sekedar menonton saja sebuah Film, tapi coba ketika seseorang menyebut sebuah kata saja yang berkaitan dengan Film yang kita tonton tersebut, apakah pikiran kita otomatis ingat kepada “sesuatu”? Lalu, apa bedanya dengan Iklan, coba? Bagaimana Iklan di Indonesia? Bukankah Film juga bisa digunakan sebagai Media Informasi Politik dan Ideologi melalui Alam Bawah Sadar? Kalau Anda ke Mall, misalnya, Anda cenderung membeli Produk yang ada Iklannya, atau sekedar beli-beli doank? Penonton awam mungkin tidak “ngeh” akan hal ini sebab ketika menonton Film, tidak dilandasi dengan pengetahuan yang ada, sekedar menonton, atau on the surface. Bagi penonton aktif dan kritis, dia seringkali suka mempertanyakan: “Kenapa begitu?; Kok bisa sih?; atau Maksudnya apa Film ini?” Biasanya, yang kritis seperti ini tentu yang memiliki Wawasan di dalam Memahami Film dan mendalami Makna Film tersebut dibuat. Kalau kita bisa menikmati sebuah Film, sekaligus meng-kritisi nilai-nilai yang ada di dalamnya, Kenapa tidak? Sebagai penonton Kritis, tentu sudah kewajiban kita untuk berbagi makna apa yang kita peroleh dari Film yang kita tonton. Bisa jadi penonton lain sekedar nonton doank, dan kita tahu jelas makna Film-nya secara positif dan negatif?

Film Indonesia — Mencerdaskan Bangsa

“Bangsa Indonesia sudah cerdas, kok, mereka udah tahu apa yang mereka lihat dan kerjakan”, kata seseorang pada saya. Saya jawab, “Waduh, jangan percaya. Kalau percaya, berarti elo sama aja dengan enggak mau maju, dan mendekati sifat Ujub, bangga diri, yang akhirnya enggak membawa elo ke mana-mana, selain menjadi stagnan, atau itu-itu aja. Akhirnya, elo dan bangsa elo kagak bakal mau belajar, karena sudah ngerasa cerdas”. Sekarang, kita kembalikan ke Film kita. Apa perlu Film itu harus mencerdaskan bangsa? Lalu bagaimana Film yang mencerdaskan bangsa itu? Begini, tadi di atas kita kan sudah membahas mengenai kaitan antara Konteks dan Pemirsa, sekarang, kita lihat kepada konsep kata “cerdas”. Menurut saya, Cerdas itu tidak sama dengan Pintar. Seseorang yang memiliki nilai Matematika misalnya, berarti ia Pintar di dalam Matematika. Seperti saya misalnya (ceilah), saya bisa Berbahasa Inggris, itu namanya Pintar Berbahasa Inggris (meski saya akui, Bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat kayak native speakers itu. Lol.). Cerdas itu, menurut saya, bisa menggunakan Ilmu yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang ada dan yang sedang dihadapi dengan benar dan baik tanpa ada penyesalan di kemudian hari. Coba kita lihat ke bangsa kita? Masalah macam apa yang enggak ada coba? Banyak kan? Nah, apakah kita mau Film Indonesia juga menciptakan masalah baru di tengah-tengah pemirsa?

Bukankah Cerdas namanya jika melalui Film kita menyajikan ke Pemirsa Indonesia akan sebuah Masalah atau Realita yang ada (bukan dari masalah pengalaman pribadi seseorang yang seringkali bias dan terlalu subjektif), lalu kita sampaikan sebuah Solusi akan permasalahan yang ada dengan bingkai agama dan budaya Indonesia yang baik dan benar, bukan dibuat-buat. Perlu diingat, Solusi yang diberikan harus dari sudut pandang agama dan budaya kita, bukan dari apa yang baik dan bagus menurut Sutradara dan Produser. Jika tidak, itu tadi, bisa melanggar Konteks, dan pada akhirnya Pemirsa akan merasa terintimidasi dan tersinggung dengan penayangan Film tersebut. Sekali Film dibuat, sekalipun dihapus, akan ada-ada saja pihak yang mengait-ngaitkan Film tersebut dengan konsep-konsep ini itu, yang pada akhirnya akan membuat beberapa kelompok masyarakat akan termarjinalkan. Lebih dalam dari ini, kita lihat ke bangsa kita. Tidak semua orang yang pernah mengelilingi Indonesia, itu Fakta. Nah, ini juga bisa dijadikan Film, bukan melulu soal Agama dan Budaya saja, bisa juga bertema tentang Alam Indonesia, agar orang Indonesianya lebih peduli lagi dengan alamnya. Kerja sama antara Dinas Pariwisata dengan Dunia Perfilman Indonesia, juga oke kan? Selain Film seperti ini memuat Realita Alam Indonesia, Film ini juga akan bernilai jangka panjang bila ditonton oleh generasi Indonesia yang mempelajari Karya Seni bangsanya nanti di tahun-tahun mendatang. Bisa jadi ada mata kuliah berjudul “Perfilman Indonesia”, ya ‘kan? Apakah orang Bali pernah ke Padang, misalnya? Apa yang mereka ketahui tentang kehidupan di Padang, misalnya? Apakah orang Bandung, pernah ke Jayapura, misalnya? Masih banyak kan yang bisa dijadikan bahan materi menjadi Film?

Berikut ini beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepada Penulis Film, Sutradara, dan Produser. Poin-poin ini masih sederhana, namun saya berharap untuk bisa dipertimbangkan dengan seksama.

Sebelum Membuat Film

  1. Pahami Karakter dan Budaya Bangsa dengan Secermat-cermatnya – Ingat Pemirsa : “Siapa Penonton Karya Saya?”, misalnya.
  2. Hindari Membuat Film yang Terlalu Banyak Adegan “Panas” (kalau perlu tidak ada) – Ingat, Industri Pornografi tidak akan pernah berhenti karena itu buatan negara lain, jadi tidak penting kalau Film Indonesia menyuguhkan hal yang serupa. Film Indonesia harus lebih kreatif dari ini. Jangan menyuguhkan hal yang biasa jadi murahan.
  3. Cari Inspirasi dari Kisah-Kisah Orang Indonesia yang Sukses dan Berhasil dalam Hidupnya. Itu lebih Nyata. Sebab, sudah ada Solusinya pada Mereka. – Ingat, Film yang Baik itu adalah Yang Menginspirasi kepada Kemajuan dan Kebaikan, bukan menyisakan Tanda Tanya, di mana Tidak Semua Pemirsa yang Berfikir dengan pola dan struktur yang sama. Alhasil, Film Anda pun sia-sia, dan tidak bermanfaat bagi Pemirsa. Perkejaan yang sia-sia itu, tentu bukan karakter bangsa kita, kan? Kan katanya mau maju? Trus, kan katanya mau jauh dari penjajahan? Kok malah niru gaya orang lain, ya toh?
  4. Sering-sering baca Novel karya Penulis Indonesia – Ingat, Pemirsa Utama adalah Bangsa Indonesia. Kalau Novel yang akan diangkatkan menjadi Film adalah Novel karya Penulis Indonesia, maka besar kemungkinan “selera” Pemirsa Indonesia juga sama. Ini membantu Pemirsa Indonesia untuk memahami “konteks” film tersebut. Dan, tidak perlu membawa tema yang berat-berat, yang ringan-ringan saja, tapi menarik, dan bisa dijadikan pembelajaran. Tidak usah difikirkan “selera” Pemirsa luar negeri, sebab mereka juga sudah punya banyak stok Film di negara mereka. Laku di Indonesia saja sudah membawa Jutaan Rupiah, mengapa Repot-Repot Memikirkan Untung dari Negara Luar? Pada bagian ini, tentu penting kita lihat Konteks Film kita. Kalau masalah sensitif Budaya dan Agama kita diangkat, sebaiknya jangan. Masih ada wadah dan media yang lebih proporsional untuk hal ini.
  5. Pahami Dampak Film Tersebut bagi Anda – Ingat, Tidak Semua Pemirsa akan Berfikir seperti Anda. Kalau Film yang Anda buat itu berkisah tentang Realita dan Masalah Kehidupan, berikan Solusinya yang Konkret, Jelas, dan Masuk Akal serta sesuai dengan Konteks di mana Pemirsa Hidup dan Tinggal, apalagi disesuaikan dengan Konteks Agama dan Budaya mereka. Bukankah Anda akan bahagia jika Film Anda bisa membawa kedamaian di hati Pemirsa? Bagaimana rasanya bagi Anda, bila beberapa Pemirsa Anda mengungkapkan rasa senangnya setelah menonton karya Film Anda? Dan bagaimana pula rasanya jika Anda mendengar dan membaca caci maki Pemirsa Film Anda?
  6. Diskusi dengan Pakar-Pakar yang Menguasai Ilmu Perfilman, Budaya, Seni; dan Belajar dari Film-Film Box Office Indonesia, bukan Box Office Negara Lain. Ini penting, karena berkaitan dengan Konteks. Dari seluruh Film kita yang laku keras, coba dianalisa Film seperti apa yang masih “disukai” Pemirsa, kalau memang niat Anda ingin mendapat Profit. Pertahankan ke arah demikian. Sepertinya, Pemirsa kita, pilih-pilih di dalam menonton Film. Dan, sistem pemasaran Film biasanya dari mulut ke mulut, dan dari blog ke blog, serta dari status di FB mereka, atau Twitter, dan bahkan radio, serta pamflet yang disebarkan di kampus-kampus. Kalau saja satu orang kritis terhadap Film Anda, maka, besar kemungkinan teman-temannya yang lain juga tidak akan suka. Jadi, sebaiknya perhatikan betul konsep Konteks dan Pemirsa jika Anda ingin Film Anda laku dan diminati oleh Pemirsa Indonesia.
  7. Selalu Ingat Pemirsa – Ingat, Pemirsa itu Individu, bukan Khalayak Ramai, tidak bisa dipukul Rata. Bisa jadi karya Film Anda sangat berarti bagi seseorang yang Anda kenal, (atau Anda ketahui di dunia maya, misalnya), namun bukan berarti Anda membuat Film untuk dia seorang, kan? Apa manfaatnya bagi orang banyak untuk mengetahui dan menyaksikan Film ini? Diskusikan dengan teman dan rekan-rekan Pakar Ilmu Budaya, Sastra, Film, dan Bahasa, serta Pendidikan, yang duduk manis di kantor mereka di berbagai Universitas di Indonesia mengenai inspirasi yang Anda dapat. Dan juga, tanyakan juga kepada anak-anak muda yang sedang nongkrong, Film seperti apa yang bagus buat mereka. Apalagi kalau tema Film Anda adalah Agama dan Budaya. Tema ini sangat-sangat berat untuk diangkat. Kalau tidak punya landasan yang jelas mengenai Agama dan Budaya apa yang akan Anda angkat, Anda hanya akan menghasilkan kekisruhan. Hal yang sensitif tidak perlu disajikan, sebab, bukankah budaya bangsa Indonesia, yang suka menjaga perasaan sesamanya? Kalau kita membuat Film dengan tujuan dan target Pemirsa yang jelas, pasti Film kita, paling tidak, bernilai manfaat bagi Pemirsa kan? Film yang bagus itu, menurut saya, adalah yang bila kita tonton berulang-ulang, akan selalu ada makna dan nilai yang ada di dalamnya, tidak hanya sekedar sebatas mengangkat isu terkini atau hal-hal yang sudah jelas garis pembatasnya di tengah kehidupan kita. Orang awam pun, jika mereka suka dengan sebuah Film, pasti akan dibeli Copy-nya yang asli, dan dipinjamkan ke teman-temannya. Alhadil, Pemirsa Anda akan lebih banyak ketimbang yang duduk di bioskop. Secara jangka panjang, pasti akan mengikuti karya-karya Anda kembali ke kemudian hari. Jadi, mana yang penting, unsur Profit, atau unsur manfaat jangka panjang dari Film Anda itu?

Pada saat membuat Film:

  • 1. Apakah Pemain Film sudah terkenal atau pemula?

Ini perlu diperhatikan dengan baik karena “image” pemain Film akan mempengaruhi Pemirsa di saat menonton Film. Kalau pemain Film-nya sudah kadung memiliki image yang baik di mata masyarakat, berikan kesempatan kepada pemain Pemula, agar mata orang Indonesia segar dengan apa yang mereka saksikan di Film Anda. Namun, tidak salah juga mempertahankan selebritis yang bagus dan baik kepribadiannya di tengah masyarakat. Sekalipun dia bermain antagonis, toh, orang akan tetap suka padanya. Kalau pun selebritis itu berperan baik-baik, atau protagonis, misalnya, orang tetap tidak akan suka kalau kenyataannya si dia punya perilaku buruk dan tidak patut dicontoh.

  • 2. Apakah Lokasi atau Setting Pembuatan Film memiliki Sejarah atau Intrik Khusus dengan Film yang akan Dibuat? Kira-kira, reaksi warga Indonesia mengenai lokasi tersebut bagaimana?

Kalau kita Arif dan Bijaksana, kita tentu seharusnya tahu apa kaitan antara Film kita dengan lokasi syuting. Jangan salah lho, Film-Film Barat itu sangat mementingkan Lokasi. Lokasi berbicara secara tidak langsung kepada Pemirsa. Karena lokasinya di “New York”, maka terkesan Oke kan? Coba tengok Film-Film yang berlokasi di kota-kota besar Amerika Serikat, misalnya. Makanya banyak yang suka karena kata “New York” saja sudah membuat orang lain suka. Coba kalau kita menonton Film yang lokasinya di daerah kumuh, atau tempat-tempat di negeri dongeng, apa ingatan kita tertuju pada suatu tempat di sekeliling kita? Setiap Pemirsa, memiliki ingatan tersendiri lho, soal lokasi syuting dan setting di mana cerita Film tersebut dimainkan. Dan, yang lebih lagi, Film juga bisa digunakan untuk memasarkan nama dari suatu kota atau negara, misalnya, Australia. Oleh sebab itu, sensitifitas Sutradara dan Produser di dalam membaca situasi ini penting. Buat saja Film yang  disukai Pemirsa sesuai Konteks, pasti kemungkinan laku sangat besar. Jadi, enggak perlu berbelit-belit, kan? Apalagi yang kontroversi, mereka juga bakal menonton, tapi jika setelah menonton karya Anda, Pemirsa Anda malah mengutuk pekerjaan Anda, apa manfaatnya, coba? Tentu kedamaian di hati Anda, akan terusik. Jika tidak, yah, Tuhan Maha Tahu.

  • 3. Apakah Alur Cerita Masuk Akal?

Pemirsa akan bertanya-tanya di saat menonton Film. Apa iya, bisa begitu? Misalnya, dari itik menjadi kuda zebra. Kok bisa? Ya, itu masuk ke wilayah animasi. Bisa aja, karena memang beranjak dari dunia tidak nyata. Kalau dunia nyata? Ya tentu buat Film yang Alur Ceritanya Masuk Akal. Jangan sampai Pemirsa ketawa cekikikan pas tahu, kalau Judulnya Serius, eh, alurnya seperti perubahan dari sebuah batu menjadi burung elang. Kalau animasi, ya animasi, segala hal bisa terjadi. Tapi kalau Film dari dunia nyata, tentu kita bisa mengukur, sejauh mana sih “ke-tidak-masuk-akal-an” yang disuguhkan? Kalau Filmnya tidak Masuk Akal, seperti Super Hero, jangan tanggung-tanggung, meski tetap sisi kemanusian harus tetap ada. Lalu tanya juga, “Masuk Akal, nggak? Apa kira-kira orang lain akan mengalami Hal yang sama? Kira-kira, bagaimana ya?”

  • 4. Apakah Unsur-Unsur Kebudayaan Sudah Direpresentasikan dengan Baik?

Ini penting lho. Bayangkan kalau seandainya sebuah kata kasar di daerah Batak, misalnya, digunakan sebebas mungkin di Film Anda yang justru malah menghina orang Batak karena tidak sesuai dengan Konteksnya. Film Anda sudah terlanjur dibuat dan diedarkan. Lalu bagaimana? Kan kita sudah tahu pepatah orang Indonesia, “Sedia Payung Sebelum Hujan”, yang sama dengan konsep, “Better Safe than Sorry” di mata dunia. Itu sebabnya, sensitifitas akan kebudayaan bangsa kita itu penting. Jika tidak, tentu Film yang Anda buat itu malah menjadi Titik Api, yang malah mengobarkan masalah baru di khalayak Pemirsa? Sebaiknya, alangkah baiknya jika Film kita itu, dibuat untuk memberikan penerangan akan Solusi dari sebuah Permasalah Hidup yang ada, dan Solusi tersebut harus sesuai dengan, kembali, Agama dan Budaya kita, serta Hukum dan Aturan Negara kita. Kata siapa membuat Film itu, gampang? Susah lho. Capek juga. Yang gampang itu membuat Film Sampah, seperti Pornografi itu. Isinya itu-itu aja, tidak ada penambahan (bagi Anda yang dewasa, pasti mengerti akan hal ini). Maka dari itu, kita tentu tidak ingin menjadikan karya kita sia-sia, ‘kan?

  • 5. Apakah Kostum yang Digunakan pada Film ini akan Menyinggung Sekelompok Etnis di Indonesia?

Perlukah bagian ini? Perlu. Bukankah budaya kita terkenal dengan pakaiannya yang baik dan rapi? Kalau Film Anda bertema Agama dan Budaya, usahakan Anda mengerti dulu, mana yang boleh dan tidak boleh di agama dan budaya tersebut, termasuk perihal pakaian atau Kostum. Jika Anda sembarangan membuat karya yang tidak sesuai dengan Agama dan Budaya, berarti Anda sudah berniat jahat terhadap Agama dan Budaya tersebut. Sederhana, tapi memang demikian adanya, kan? Penjual yang baik itu, yang menjual barang dagangan berkualitas tinggi, dan tentu, kalau Pembeli Komplen, itu hak si Pembeli. Kita tentu pernah menjadi Pembeli kan? Tentu mengerti kenapa Pembeli bisa Komplen. Mengenai Budaya Etnis, lebih baik kita angkat etnis tersebut ke Film kita, sembari kita berikan Solusi yang baik dari permasalahan yang mereka hadapi melalui Film kita dengan sudut pandang yang sejelas-jelasnya. Itu baru namanya, Seni, bukan sekedar Gambar Bergerak. Coba bayangkan, misalnya, pakaian tradisional Bali, digunakan untuk tema pelacuran di kota Jakarta, kan enggak nyambung, malah itu menghina budaya Bali, kan? Ingat lagi konsep Konteks dan Pemirsa.

  • 6. Apakah Totalitas Akting Pemain Film sesuai dengan Bagaimana Dirinya di Dunia Nyata?

Media Informasi dan Teknologi berkembang pesat di Indonesia, termasuk Televisi, Koran, dan Majalah. Peran Pers di dalam membuat berita mengenai selebriti juga bisa mempengaruhi bagaimana Pemirsa “menilai dan melihat” sebuah Film. Jika saja ada selebriti yang reputasinya buruk di media massa Indonesia, sudah tentu Pemirsa sedikit enggan menyaksikan Film Anda, kecuali jika memang Film Anda pantas dan layak ditonton oleh Pemirsa. Pemirsa yang kritis dengan Film akan berfikir, Manfaat Film ini buat Gue Apaan ya? Gue enggak mau buang-buang duit dan waktu cuma buat Film ini doank. Begitu.. Kan, bangsa Indonesia, sudah mulai cerdas? Apa iya?

  • 7. Apakah Unsur Seni disini Berupa Keindahan Bahasa dan Cerita atau Keindahan Tubuh Belaka?

Seni yang baik itu, adalah Seni yang menggugah hati, rasa, dan indera, bukan hanya nafsu. Melihat foto-foto pose selebritis wanita atau pria yang telanjang atau pun hampir telanjang, tidak akan membawa apa-apa selain dangkalnya unsur Seni. Lagi-lagi, kita lihat Konteks Seni di sini. Seni di Indonesia itu, seperti apa? Apa nonton orang bertelanjang di depan layar atau yang sedang bersetubuh? Tidak, kan? Trus, video lagu dangdut itu, bagaimana? Itu sih, biasa, cuma goyang-goyang aja. Kalau sudah menayangkan video manusia yang berpose hampir bugil, sama artinya dengan menggunakan seorang manusia demi objek seks. Apa bedanya dengan menonton penari bugil di bar? Bagaimana rasanya jika Anda sedang berpose seperti itu dipublikasikan ke khalayak ramai? Apa Anda mau? Saya sih, enggak, meski dengan bayaran jutaan pun. Bukan karena saya jelek atau tidak secakep artis lainnya, cuma karena saya tahu akan jati diri sebagai orang Indonesia. Buat apa sekolah kalau pada titik ini, masih mau dibodohi orang. Ya, kan?

Setelah Membuat Film:

1. Serahkan semua penilaian tentang Film Anda kepada Pemirsa. Bukankah Anda membuat Film, sebagai sebuah karya, untuk Pemirsa Indonesia agar mereka bisa menjadi lebih baik menurut pandangan Anda? Jika mereka tidak suka, itu kan bagus, bisa dijadikan bahan untuk membuat Film yang lebih baik lagi di kemudian hari?

2. Berikan Penjelasan Mendasar pada Bagian Awal Film tersebut agar Pemirsa Mengerti “Konteks” bagaimana Film tersebut Harus Dilihat supaya Tidak Ada Kontroversi Mengenai Film Anda dan Anda tidak perlu dilaporkan ke Pengadilan karena Alasan Pencemaran Nama Baik, Baik Nama Baik atas Nama Individu, Suku, Agama, Ras, dan atau Kebudayaan Daerah di Indonesia. Ini penting, lho.

3. Buat Trailer Film Anda semenarik-menariknya dan Sesuaikan dengan Alur Cerita Film secara Keseluruhan. Anda tidak mau, kan, calon Pemirsa lari atau membenci Anda hanya karena menonton Trailer Anda yang jelek? Sekalipun hanya dari Trailer, adalah hak Pemirsa untuk menilai kualitas Film yang Anda buat. Jika Trailernya jelek, mana mungkin Pemirsa akan membuat duit dan waktunya untuk menonton Filmnya secara keseluruhan?

Kesimpulan:

Silahkan ambil sendiri-sendiri ya.

Saya cuma menjelaskan saja. Boleh diambil dan dicerna baik-baik. Jika ada yang kurang pas di hati, silahkan komentar di bawah ini ya. Jika setuju, jelaskan juga mengapa Anda setuju.

Salam.

Sukses selalu perfilman Indonesia! Jadilah yang unik dan kreatif. Bukan jadi pengikut gaya Film orang. Be yourself as the way who you are, if you find something good that people say for your achievement and you, deeply inside you know that, please don’t deny it ~ 

Merdeka Indonesia! Indonesia Raya! 🙂

(Ditulis di Edwardsville, Illinois, Amerika Serikat, January 5, 2013)

“Brave” November 29, 2012


Brave

What an astonishing movie! Yes, I would recommend you watching this movie!

My personal feedback for this movie:

Basically, this is a 3D movie with a delightful visual image. Everything that is being presented to the viewer seems to be alive as if it feels like watching a real-image movie. From the beginning to the end, the quality of the pictures and the audio are exciting, even though at some parts, small visual images do not have any audio. Then, what does this movie entail to the viewer?

I decided to watch this movie because it seems attractive to watch, especially after I looked at its cover. There is a girl with red hair carrying an archer with her hand. This movie is almost similar to that in the Hunger Games. The only different thing between these two movies is in the visual image. The former is 3D movie that is developed through the anime style, while the latter is also 3D movie, but the image is taken from the real image of humans.  

After watching the movie, I was a bit surprised to know that this movie is a rebellious action of a girl to object the marriage planning of her parents. Knowing that the situation of the movie plot is in the era of where kingdoms were still emerging, therefore, an arranged marriage seems to make sense. When I view this movie through the lens of current feminist ideas, this movie is indeed supporting the ideas of what a young girl should decide. It seems like saying and inviting a young girl to fight for herself from any dictated plans and actions that are driven toward her life. At this point, it is good by the way, because only by doing this, a young girl could get what she needed in her life. The question, “In what way we might view the rebellious action? Is that related to old traditional custom? What is it to do with moral standpoint and current viewpoint of what it means to get married?” Let us take a look at the characters.

Analysis on the main character:

  • Merida – The Young Girl with an Archer

Merida is a young girl who has red hair. She has a boyish characteristic in a way that she does not want to imitate everything that has been informed to her in terms of how to be a “princess”. This nuance is vividly seen in any movie which supports the idea of liberalizing women. A bit surprising to see, that kids have been given this kind of image in their earlier period by watching similar forms of movies like this one. However, at the end of the story, Merida’s character resembles a label and fragile young girl with everything that she needs to oppose the tradition. What makes Merida seems to be rebellious is the way she opposes the idea of an arranged marriage. I assume that in the setting of this movie, what she does is the right thing. She has to speak for herself, without following any temptation whatsoever from any external voices, but, of course, the role of her parents is undeniable to the growth of Merida as a brave young girl.

  • The “Mother” and the “Bear” – The Queen Elinor

Right after Merida came back from the witch, she got the cake with a spell. Merida thought that she could change her mother’s opinions about marriage after consuming the cake given by the witch. What happened was a bit different from what she might expect. Her mother turned into a bear. Merida felt worried because her father would kill this bear if it is still in the house. Now, when I look at this changing physical appearance from a lady into a bear, it seems that the bear replaces the image of what Merida thought about her mother. Elinor felt in the deep of her heart that what she is saying to her daughter is something false, but she had to pretend that she must ask Merida to consider marrying one of the princesses come to the castle. It feels a bit awkward for this decade to know and see such an arranged marriage, but it may be possible that it is done in any society in the world today. The visual image of a mother turns into a bear reflects the idea of what the daughter thinks about her mother when her mother forces her daughter to get married with a man whom she does not love. Then, what happens next? Merida has to stay with her “bear” mother until the spell can be taken out by declaring that she forgives her mother and accepts that what her mother does is her mother’s rights.    

  • The “Father” – King Fergus and the Boys

The father role is not really obvious in this movie. A father is a father who has power and leadership. Surprisingly, it is the queen that could control the king. I think that this image is good. With the queen’s beauty, grace, and intellectual speeches, she manages the leadership of her husband. In Islam, this might sound like, “Beyond a strong husband, there must be a great wife”. King Fergus fought with the wild bear one time and he won. Elinor ran somewhere else to save Merida. This role is presented in such a fair manner. The king fights and the queen saves the generation that will prolongs the existence of the kingdom’s leadership. The boys do not seem to represent anything, but their naughty attitude shows that boys are naughty.

  • The Witch, Spell, and Consequences

The stage where Merida ran off from the castle and finally came into a witch house is where the miserable future impact starts. If only Merida could control her emotion to face her mother, she would not end in the witch, but if she could not do anything to say what her hearts demands, she might not possible have the experience of having a bear mother. The witch is the representation of the dark side of Merida’s character where she wants to change her mother’s opinion about the marriage. The spell is the intention that Merida has. Because her intention is not good toward her mother due to her lack of emotional intelligence, her mother turns into a bear, the animal that Merida’s father really dislikes. And, the consequence is that the “bear” has to escape from the castle before it is killed by the father. A good point where the changing of the mother is useful is when she fought with the greedy prince from the legend. At the end, the story ends with, as usual, happy ending.    

 

Moral Lessons

Simply put, I learn some moral lessons from this movie. These moral lessons are also in line with what Islam teaches:

  1. Respect and love your mother because she is the one who always have the hardship in giving birth to you and educating you with her love and care. She might not be that good in front of other people, but in front you, she has to be special, except if she teaches you something wrong, like stealing; then you deserve to tell her accordingly.
  2. Dare to fight what is good and best for you with respectable manner. What Merida did in the movie may not be appropriate in life because you will deal with a human being. Your mother is not Elinor. She might hurt more than Elinor or she might not care, worse than Elinor when you disagree with your mother’s plan. Somehow, she asks you to follow the plan marriage only because she could not fight for her decision. She has your father. In that situation, the mother has to deal with her heart and reality. And, I learn that being a mother and a wife as well as a queen is not easy. Even in the real life, being a woman is not easy, but of course, being a woman who could decide the better one for herself is the best of all.

Good for Kids? Yes, it is! Don’t forget to teach your kids that rebellious is okay, as long as for humane reasons and for the freedom of the kids from being oppressed by any type of oppressors. After that, teach the kids to be responsible for what they decide and do afterwards. Don’t let them go astray by their ignorance of knowing the meaningful aspects of their life.    

The Brave Trailer

“Finding Neverland” and the Love of a Husband


Finding Neverland (2004)

This writing is a reflection of a movie, Finding Neverland. In Indonesia, this movie is distributed by Prime Movie Entertainment. No. SLS: 432/VCD/R/2.2007/2005. Date: May 20, 2005. This writing has been published in another blog of mine but it is republished in this blog for the purpose of sharing only. However, please do not plagiarize.

________________________________________

Finding Neverland:

The Love of A Husband that Falls to the Smile and Happiness of a Widow’s Children

Life is the place of all feelings, like love, sad, pain, happy and hate. These kind of feelings are actually found in many literary works and arts. One of forms of the arts that has those feelings can be seen in movies. In this writing, the movie that is going to be discussed is Finding Neverland. I found that this movie indirectly reflects the very basic, but highest meaning in some extent, of the human relationship, that is in the form of family. The thing is love. Love is simple in word but deep in heart. This is why the movie is worth watching by all movies lovers.

Life of James, an author of plays

The main character of the movie is James performed by Johnny Depp. The main character is an author of plays in the movie. Based on the story of the movie, James is illustrated as a very famous person with his artificial works, that are plays. He has been married with a wife who is very lovely and polite. It seems so because James’ wife is able to socialize with all people in the place, theatre, in which James’ play has been performed. Due to his good social status; therefore, James and his wife have a delightful life. They have everything they need for life and living, except one thing, that is a child.

Ms. Davies’ Children are waiting for the figure of a father

It is contrary to the condition of Ms. Davies. This character performed by Kate Winslet, is a widow of four children. She has been left by her husband because of death. As a result, she has to live her life lonely. The good thing that she has is that she has four cheerful children who always go with her in all occasions, whether they are good or bad, the children are always been with her.

James needs children for his inspiration

It is in a shiny day, James sees and meets children who are playing a hide and seek game in a park in which he is sitting on a bench. He meets the children right after they try to close to him in distance to declare a ‘sorry’ for the naughty of the youngest child. As a feedback of the situation, James makes a story about a man with his big bear in a circus. When he looks at the laugh and smile of the children, there is something that he does not know and understand what it is in his heart.

As the time runs, James is getting closer to the family of Ms. Davies. He wants to know more about the women’s family because he has known that the family is not as fortune as his. Therefore, he wants to give some help. In the beginning, James invites the children to dinner. The next day, James comes to the children’s house where they always play, take a rest, have supper and dinner, and especially, where they can gather together as family, sharing all the pain in all nights. Day by day, James is getting closer to the family. Because of this, James’ wife is starting to feel being ignored, and this feeling has made her making a relationship with a men who is supposed to be the outsider for her.

Time is passing by and by. Peter, the youngest child of Ms. Davies, is getting closer to James. Indirectly, their relationship seems as if James is their father. This is because the children have waited for the figure of a father who shall be the place for them to share and tell their own stories at all nights before they go to sleep. James can see the beauty that the children have when every time he plays with them. Time to time, James relationship with the children is going on like a father-children mode while his own relationship with his wife is not as good as he may have been in the first times of his marriage.

Love has finally fallen to the children’s smile and happiness

James can no longer hide his feeling. As a man, he feels that he also wants to see the smiles of the children he loves. Unfortunately, the love he has falls into the children who are not his. The more he tries to understand why, the more he feels that he cannot live without the children, although he really knows that his love is supposed to be for his wife. However, time has changed everything. When he sees that the children are the inspiration for his genius work, James has decided to live his life with the children. And his wife, he cannot force to stay because he knows that his wife does not love him as he expects.

A Marriage without Children seems like a Phantasy without Angels

By looking at above story, it can be assumed that a relationship like husband and wife, can be over because of no loyalty, no children, misunderstanding and egoism. As a husband, he has tried to make himself comfortable to what he already has. Unluckily, James is not supported by his wife. In the movie, his wife seems unaware of what James really wants as her husband. It means that she has failed to run a balance role in her marriage. Meanwhile, James has fulfilled all what his wife needs. Then, when James meets and plays with Ms. Davies’ children, he soon realizes that the children’s smile and happiness have become a place for him to be more alive. He has seen a family in which loving and living souls are already there. Without being understood, James indirectly loves Ms. Davies for her children. At the end of the story, James can bring Ms. Davies to a Place, called ‘Finding Neverland’, and her children are adopted by him.

The reason that makes no loyalty as the cause of James’ divorce is because loyalty plays a central role in a relationship. In any kind of relationship, especially husband and wife, loyalty can help the relationship to be always in a good condition. How can a relationship last longer if the husband or the wife treats his or her significant other unfairly? Besides, according to the story of the movie, children are also the basic measurement to influence the husband and wife’s mind in maintaining their relationship. Because James does not have children, he is dare enough to let his wife goes to another men, although he still can love his wife as he should.

In addition to that, a marriage is probably the place for a men and a woman to share all what they have in mind, heart, soul and desire. Misunderstanding and egoism have taken a very serious position in a marriage relationship. At the beginning of a marriage, a couple may have a romantic times. But, as time runs, they will have to face a reality, that is to where they should lead their relationship. Even in this modern times, egoism of a man to see his wife stays at home has made a bad image of a marriage issues. Meanwhile, the egoism of the wife to continue her career without paying attention to what his husband desires from her has created a worse image of women in all marriage aspects. Then, the live goes to other place that people cannot predict where it flies.

———-

 

Jembatan Siti Nurbaya in Padang, West Sumatera, Indonesia


Travelling is one of my hobbies since I was a kid. However, due to lots of things to do, or activities and routine things, sometimes, travelling is hard to do. Usually, the hard part is not having no time to go but having no money to spend for it! 🙂 This time, for my travelling moment, I went to Jembatan Siti Nurbaya, one of tourism places in West Sumatera, Indonesia. People of Padang and the nearby area usually go to this place for the afternoon time or just for having outdoor walk around this legendary bridge.

A View from Jembatan Siti Nurbaya (by Syayid 2011)

What makes this place interesting to me is the history behind the bridge, especially the thing called as the Legend of Siti Nurbaya, an urban legend. The name of the place is Jembatan Siti Nurbaya. In English, it is called as Siti Nurbaya Bridge. In Indonesia, the name of Siti Nurbaya is widely known as one of romantic characters in Marah Rusli‘s work entitled Roman Siti Nurbaya (published in 1922 by Balai Pustaka).

A short review of this legend is this:

Siti Nurbaya, a modest and pretty girl, was falling in love with Samsul Bahri, a handsome young man of Minang people in West Sumatera, Indonesia. They had planned to get married soon after they reached the age of maturity. Their parents had made an agreement that they would allow and even positively encourage Siti Nurbaya and Samsul Bahri to get married.

In an unfortunate situation, Bagindo Sulaiman, as the father of Siti Nurbaya, and her wife as well, had a great debt to Datuak Maringgih. Datuak Maringgih was an old man, very old, with many wives. He could have that chance to marry many girls in that town because he was rich and a landlord in the area. When Bagindo Sulaiman wanted to beg for the mercy of Datuak Maringgih about the debt, the old man decided that the debt could be considered as over when Bagindo Sulaiman let him married Siti Nurbaya. Bagindo Sulaiman had no other choice in that condition.

Knowing that she had been forced to get married with Datuak Maringgih, Siti Nurbaya killed herself by eating poisonous “lemang”, a specific food made by rice and red sugar in Minang. Lately, Datuak Maringgih and Samsul Bahri were met in a battle when fighting with the Dutch colonial. They were both finally dead. At last, the love of Siti Nurbaya and Samsul Bahri was never realized. (Taken from various sources and translated to English)

Until now, the place where Siti Nurbaya was found and known to be dead had been regarded as one of tourism places in Padang, West Sumatera, Indonesia. As the evidence of this urban legend, the picture below is the grave of Siti Nurbaya and Samsul Bahri:

The grave of Siti Nurbaya

The picture above had been known as the grave of Siti Nurbaya and Samsul Bahri. Many people came to the grave area just for reflecting the spirit of love expressed in the legend of Siti Nurbaya and sometimes, they had spiritual connection to the area. The man who lives in the area told that when some people came for superstition things, they should be ready to face and see things that are out of their mind. I am not really sure with this superstitious thing but for some people, they believe it just like a religion.

And now, the legend of Siti Nurbaya has changed and turned into a big bridge with delightful scenery there.

 

Sunset in Jembatan Siti Nurbaya (by Syayid 2011)

In addition, this place is used commonly by young people as a place for hanging out, meeting with friends, enjoying the lux scenery of sunset in that historical place, eating fresh and delicious baked corn, and having nice night with the beautiful lamp decoration on the bridge.

Siti Nurbaya Bridge at Night (from UrangMinang.com)

If you want to get there, you can simply take public transportation from Central Pasar Raya or you can take taxi. The cost for the transportation is not expensive depending on which type of transportation that you use.

Siti Nurbaya Bridge at a Day Light (from UrangMinang.com)

In the above picture, when you look straight to the road in the bridge, you see a mountain. The mountain is called as Gunung Padang. You can find and see the grave of Siti Nurbaya and Samsul Bahri there. Before you get into the grave area, you will have to be in Taman Siti Nurbaya (a park). The park is beautiful and of course, there is a story there, too. A legend told that Siti Nurbaya and Samsul Bahri were dancing in that area just to enjoy the love that they felt inside.

One thing that makes me amazed is when I read the following engraved written expression near Siti Nurbaya and Samsul Bahri grave area. It was written by Samsul Bahri for Siti Nurbaya long before they died:

“Adiak mandi, denai manyauak. Nak sasumua kito baduo

Adiak masak, denai manyanduak. Nak sadapua kito baduo

Adiak lalok, denai mangantuak. Nak sakasua kito baduo

Adiak mati, denai ramuak. Nak sakubua kito badua”

(from UrangMinang.com)

The translation of the above writing is:

“You are bathing, I am pouring the water. Wishing us be both in the bathroom.

You are cooking, I am stirring the food. Wishing us be both in the kitchen.

You are sleeping, I am sleepy. Wishing us both be in the same bed.

You are in the death, I am in dying to death. Wishing us both be in the same grave”

(Translated by Syayid Sandi Sukandi, in a literal way)

When you have time to visit this place, make sure you can taste the baked corn and the beautiful sunset.

Syayid ’11

________________________________________________________

Recommended links for further reading in Indonesian version:

http://urangminang.com/pariwisata/52-objek-wisata/97-makam-siti-nurbaya

http://liburan.info/content/view/935/43/lang,indonesian/

http://www.insidesumatera.com/?open=view&newsid=1260&go=Dari%20Legenda%20menjadi%20Jembatan%20nan%20Megah

 

http://news.okezone.com/read/extend/2011/02/08/345/422483/legenda-siti-nurbaya-di-tanah-minang

For Minangkabau tourism information, you can go to this link:

http://www.reginaadventures.com/minangkabau4d3n.html

____________________________________________________