Penyusunan Karya Ilmiah


Menulis itu Powerful

Memiliki kemampuan menulis karya ilmiah dinilai sangat penting bagi seorang mahasiswa. Selain itu, kemampuan ini juga sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkecimpung dengan dunia akademik dan industri, seperti mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan penemu. Kegiatan-kegiatan ilmiah atau akademis yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tersebut di atas, dilaporkan secara tertulis, terstruktur, dan tentu memiliki ciri bisa dipertanggungjawabkan. Kali ini penulis ingin berbagi informasi mengenai bagaimana menyusun karya ilmiah dan kemampuan dasar yang penting di dalam penulisan karya ilmiah.

Menyusun karya ilmiah pada dasarnya cukup rumit, namun, jika ditekuni dengan serius dan sepenuh hati, menyusun atau menulis karya ilmiah bisa menjadi sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan. Menurut pengalaman saya pribadi, menulis karya ilmiah melibatkan tiga unsur penting. Unsur-unsur tersebut antara lain bahan bacaan, pola berfikir dan penguasaan bahasa tulis.

Sesuai dengan hal di atas, bahan bacaan sangat mempengaruhi pola berfikir seseorang. Semakin bagus bahan bacaannya, maka semakin bagus pula pola ia berfikir. Meskipun demikian, bahan bacaan yang bagus tidak serta merta menjadikan pola berfikir seseorang terstruktur dan jelas. Hal ini disebabkan oleh follow-up dari apa yang ia baca. Saya memperhatikan bahwa mahasiswa, setelah membaca buku, jarang sekali melakukan follow-up dari apa yang ia baca. Sekalipun ada, kuantitas mahasiswa yang melakukan hal ini tidak bisa dianggap secara menyeluruh. Kultur yang ada di dalam kampus perilah budaya membaca juga turut memberikan andil dan peran tersendiri di dalam pengembangan pola berfikir. Oleh sebab itu, follow-up terbaik dari kegiatan membaca adalah menulis apa yang telah dibaca dengan bahasa sendiri. Dengan demikian, bahan bacaan yang baik dan bagus, akan merangsang pola berfikir yang bagus, disejajarkan dengan penguasaan bahasa yang baik akan menghasilkan mahasiswa dan individu atau pelajar yang berkarakter penulis dan pemikir, di mana bukti mendasar akan hal ini adalah kemampuan mahasiswa untuk menulis sebuah karya ilmiah.

Agar bisa menyusun karya tulis ilmiah, terlebih dahulu mengetahui beberapa kemampuan dasar yang penting di dalam penulisan karya ilmiah (Hamalik, 1991:78-79). Hal ini penting dikuasai oleh mahasiswa, terutama di dalam membuat skripsi atau makalah sebagai tugas akhir, antara lain:

  • Penguasaan materi kuliah sebagai landasan pokok
Pada tahap penulisan karya ilmiah, penguasaan materi kuliah sangat penting bagi kelangsungan dan bahkan ‘nyawa’ dari sebuah karya tulis ilmiah. Pada saat menulis, materi kuliah yang sedang dipelajari bisa menjadi dasar utama untuk merancang konsep yang akan digunakan di dalam menulis sebuah karya ilmiah. Sebagai contoh, penulis adalah lulusan sastra Inggris, di mana pernah kuliah Literary Criticism. Pada mata kuliah ini, penulis belajar bagaimana melakukan proses analisa kritis terhadap sebuah karya sastra. Dengan menggunakan dasar pemikiran yang ada dan berlaku pada mata kuliah ini, maka penulis akan menulis sebuah karya ilmiah yang merujuk kepada kritik sastra. Jika penguasaan mengenai kritik sastra sebagai mata kuliah tidak begitu jelas, maka hasil yang akan terjadi adalah kualitas karya tulis ilmiah menjadi tidak jelas juga. Demikian halnya jika mahasiswa tersebut belajar di jurusan Ekonomi, dengan mata kuliah Ekonomi Kerakyatan. Penguasaan materi di mata kuliah ini akan membantu mahasiswa di dalam menulis karya ilmiah yang berkaitan dengan Ekonomi Kerakyatan. Pada dasarnya, penguasaan materi mata kuliah tertentu, dan berada dalam ruang lingkup bidang mereka sendiri akan dapat membantu mahasiswa di dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah.
  • Kemampuan berpikir logis dan sistematis
Selanjutnya, berfikir logis dan sistematis juga perlu dan menjadi dasar di dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah. Logis berarti masuk akal dan waras serta dapat dibuktikan di dunia nyata. Ini berarti bahwa semua kalimat yang ditulis di dalam karya tulis ilmiah harus masuk akal dan berterima dengan pola berfikir manusia pada umumnya. Untuk mencapai cara berfikir yang logis, cara yang bisa dilakukan adalah membaca berbagai bacaan yang bagus, sehingga ide-ide yang ditulis di dalam karya tulis akan logis. Sementara itu, berfikir sistematis artinya apa yang kita fikirkan selaku penulis harus tersusun dengan jelas dan teratur. Dengan arti kata, pola penyusunan ide yang akan ditulis seharusnya teratur dan tidak loncat kemana-mana. Dari satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya saling sambung menyambung. Logis dan sistematis pada akhirnya merujuk kepada pola berfikir mahasiswa sebelum dan pada saat  ia menulis karya ilmiah tersebut serta bisa dikembangkan secara terus menerus, sehingga setiap karya tulis ilmiah yang ia tulis bisa logis dan sistematis.
  • Penguasaan bahasa yang baik dan benar
Pada sebuah karya tulis ilmiah, bahasa memegang peran penting pada ketercapaian pesan dan ide kepada pembaca. Bahasa untuk komunikasi dan bahasa yang digunakan untuk menulis karya tulis ilmiah sangat berbeda. Bahasa ilmiah pada dasarnya cenderung kaku dan banyak aturan-aturan yang perlu dilakukan. Seperti, penulisan ekspresi dan kata-kata yang dipilih. Kata-kata yang ada pada karya tulis ilmiah bersifat umum dan bisa dimengerti, serta yang paling penting adalah tidak melanggar aturan berbahasa. Jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, maka mahasiswa tidak boleh melanggar etika penulisan EYD dan penyerapan bahasa asing. Jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, maka, grammar, spelling, punctuation, vocabulary dan meaning perlu diperhatikan dengan seksama selain isi dan pesan yang disampaikan. Intinya adalah bahasa yang baik dan benar merupakan kunci mendasar di dalam menulis karya ilmiah selain menguasai isi karya tulis yang akan ditulis.
  • Penguasaan teknik penyajian menuruti sistematika karangan yang lengkap
Selain penguasaan materi, logis dan sistematis, berbahasa yang baik dan benar, menguasai teknik penyajian karangan juga sangat penting. Teknik penyajian ini berarti cara bagaimana karangan tersebut ditulis dan disajikan di atas kertas. Menurut penulis, teknik penyajian berkaitan dengan bagaimana mahasiswa menyusun ide-ide yang ada di kepala mereka menjadi sebuah tulisan yang memiliki struktur yang lengkap dan tertata dengan rapi. Struktur pada karangan seperti topik, kalimat topik, kalimat pendukung, dan kalimat kesimpulan jika menulis paragraf. Jika menulis essai, struktur yang harus ada adalah judul, paragraf pembuka, paragraf pendukung, dan paragraf penutup atau kesimpulan. Demikian halnya dengan jenis karangan lainnya. Setiap karangan memiliki strukturnya tersendiri sehingga hal ini menjadi penting bagi mahasiswa untuk diketahui agar ia bisa menulis karya ilmiah sesuai dengan jenisnya. (Silahkan baca nanti, penyusunan karya ilmiah – makalah, dan penyusunan karya ilmiah – skripsi).
  • Kemampuan menilai karangan, baik karangan sendiri maupun karangan orang lain
Pada kemampuan dasar terakhir, mampu menilai karangan sendiri dan orang lain juga penting. Kecenderungan mahasiswa adalah menilai karangan sendiri sebagai karangan yang baik, sementara karangan atau karya tulis orang lain biasa-biasa saja. Berbagai penulis juga mengalami hal yang sama pada waktu pertama kali ia menulis. Ini sudah menjadi sebuah kultur tersendiri ketika seseorang menulis. Tahap yang ia lalui antara lain proses drafting, writing, polishing (revising), dan finishing touch (rewriting). Setelah menulis sebuah karya ilmiah, mahasiswa seharusnya tetap terus membaca agar bisa membandingkan karya mereka sendiri dengan karya orang lain. Mampu melihat kekurangan tulisan sendiri dan mampu melihat kelebihan karya orang lain menjadi modal awal untuk meningkatkan kemampuan menulis bagi mahasiswa, terutama dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah. Hal penting yang harus dicermati di sini adalah keterbukaan dan kejujuran. Jika tulisan kita menuai kritik, itu pertanda bagus bahwa kita bisa belajar untuk meningkatkan kualitas karya tulis kita. Jika sebaliknya, pertanda bahwa kita sebaiknya melakukan evaluasi terhadap tulisan atau karya tulis ilmiah yang telah kita buat dengan jujur.
         Sebagai kesimpulan, menulis karya ilmiah bagi mahasiswa adalah sebuah kepatutan. Terlebih lagi, mampu menulis sebuah karya ilmiah yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak bisa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Melalui karya tulis, kemampuan berfikir mahasiswa bisa terlatih selain kemampuan memahami materi perkuliahan. Selain itu, mahasiswa juga bisa terbiasa mengembangkan sikap jujur dan terbuka apabila menilai tulisan sendiri dan tulisan orang lain. Lima kemampuan dasar yang telah dijelaskan di atas akan sangat berarti bagi perkembangan kemampuan menulis mahasiswa apabila mereka telah meningkatkan cara berfikir logis dan sistematis, menguasai bahasa yang baik dan benar berikut teknik penyajian serta mampu dengan jujur menilai karya orang lain.
Selamat Menulis!
Referensi

DR. Oemar Hamalik. Manajemen Belajar di Perguruan Tinggi. Bandung; Sinar Baru, 1991.

Puisi – “Syair yang Indah”


Hukum kematian manusia masih terus berlaku,
karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi
Adakalanya seorang mansia menjadi penyampai berita,
dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita
ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau dan gelisah
edang engkau mengharap selalu damai nan tentram.

Wahai orang yang selalu ingin melawan tabiat
engkau mengharap percikan api dari genangan air
kala engkau berharap yang mustahil terwujud,
engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam

Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan
maka manusia di antara keduanya;
dalam alam impian dan khayalan

Maka, selesaikanlah segala tugas dengan segera
niscaya umur-umurmu,

akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan

Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda,
kuasailah waktu,
karena ia dapat menjadi sumber petaka
dan zaman tak akan pernah betah menemani Anda
karena ia akan selalu lari meninggalkan Anda
sebagai musuh yang menakutkan
dan karena memang zaman dicipta sebagai musuh
orang-orang bertakwa

Dikutip dari:
Al-Qarni, ‘Aidh. La Tahzan (Jangan Bersedih). Edisi Indonesia. Terj. Samson Rahman. cet. 36. Jakarta; Qiathi Press, Januari 2007.

The bird and the farmer (a short story)


>The bird and the farmer

One day, a farmer walked down in a green grass with his horse. He saw a small bird pain in the ground. He took the bird and brought it home.

Years were passed and the bird became stronger and stronger. The daddy farmer was busy with his works and never care to the bird anymore.

The bird said, ‘Farmer, where are you? I am cold, I need you, sir. Don’t let me alone…’

The farmer did not say anything, only a slow sigh. The bird felt the she had been ignored and though that the farmer did not love her anymore like the first time.

Then, she decided to fly. Flying away to forget the farmer. The farmer was still busy. He did not have time even for a while for the bird.

In a far distance up to the sky, the bird shouted strongly, ‘Good bye, lovely farmer..! You are the beautiful man I have ever been with. Hope God loves you more than you love me…!’

The farmer saw the bird but he thought that it was not the bird he had. He then came inside to the house and saw the fact, it was the bird!

The farmer cried. Oh, my dear little bird. Why are you gone so fast?

No answer….
The farmer whispering and wandering…

‘I am gone because you don’t care to my these days…I am sorry…’

The farmer stopped his crying..

‘Dear little bird, was it the reason of why you leave me? Only because I need a moment to be with my own self?’, the farmer asked..

‘More than that. I know that you hate me..!, the bird said again.

‘But, I never hate you..!!’

The bird was flying high and high…

The horse, beside the cage, near to the birds’ nest, spoke out.

‘If that was the bird wants, then, it means she wants to have you all the time. She doesn’t love you…as her master..She wants you to be hers…’

The farmer saw the horse. ‘What do you mean?’

‘What I mean is that if she loves you, she knows what are the best for you, even it hurts her feeling and sacrifices her own self. Sometimes, you did that to me, too. Ignoring me. But, I know it was your right…If you love me, whenever and whatever situation happen, you will always come and be with me even you are not in my side…’

The farmer smiled.

‘Dear horse, I never think that you are as sweet as candy. Thanks..!’

Then, the farmer tries to forget the bird. He knows that the bird wants him to be her.

In a sad look, he said, ‘You are not my little dove anymore, you are an eagle. I know that you don’t need me any longer…Good bye…Thanks that you have been my great partner and friend. I realize now that all what I have given to you are nothing because what you need is me, not what I have done to you as your master…’

(Created by: Syayid)
What can you infer from the text, my dear fellows?

%d bloggers like this: