“Kok Bisa Dapat Beasiswa Fulbright?”

Apakah hanya setahun dua tahun persiapan saya untuk beasiswa Fulbright? Lalu, apa saja yang sudah saya persiapkan berupa dokumen-dokumen sebelum mengirimkannya ke kantor AMINEF di Jakarta? Bagaimana pengalaman saya selama proses beasiswa Fulbright? Apa sajakah yang diterima pada saat pelaksaan beasiswa Fulbright? Selama di Amerika Serikat, apa sajakah yang telah saya pelajari? Kegiatan seperti apakah yang perlu kita jalani sebagai penerima beasiswa Fulbright?


Sebagai seorang remaja yang tumbuh kembang di kota Padang, saya selalu memiliki cita-cita besar. Sewaktu SMA, saya diprediksi oleh guru saya di Bimbel GAMA Padang bahwa nilai passing grade saya bisa mencapai masuk ke jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran di Bandung. Namun, karena satu dan lain hal, saya akhirnya memilih jurusan Sastra Inggris di Universitas Andalas. Alhamdulillah, saya lulus diterima di universitas tersebut pada tahun 2003. Saya bersyukur bisa berkuliah di Universitas Andalas dan bisa menyelesaikan program studi tingkat sarjana dengan nilai IPK yang Sangat Memuaskan, berikut berbagai prestasi akademis tingkat nasional. Di saat kuliah di Universitas Andalas, saya menerima Bantuan Beasiswa Mahasiswa (selama dua semester di tahun akademik pertama), pernah menerima beasiswa Supersemar, dan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dari tahun ke dua kuliah hingga saya menyelesaikan kuliah di tahun 2007. Sewaktu kuliah di Universitas Andalas, ada keinginan untuk menjadi Dosen. Saya merasa senang dengan dosen-dosen yang ada di jurusan Sastra Inggris – Universitas Andalas. Saya pun terinspirasi untuk studi lanjut ke luar negeri. Waktu itu, saya berpikir bahwa di negara mana saja tidak apa-apa, yang penting luar negeri. Tak terbayang pada akhirnya saya studi lanjut ke Amerika Serikat. Negara yang katanya super power itu. Di sini cerita kehidupan saya selanjutnya menjadi berbeda, namun banyak pembelajaran serta pengalaman yang sangat berharga.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Mengapa Beasiswa Fulbright?

Keinginan untuk studi lanjut ke luar negeri untuk tingkat magister sebenarnya telah saya pupuk sejak studi di tingkat sarjana. Pada waktu kuliah di Universitas Andalas, saya merasa senang dan cocok dengan kampus tersebut. Akhirnya, saya berhasil meraih prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama kategori Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang diseleksi oleh Rektor Universitas Andalas dan Dewan Penyantun Universitas Andalas di tahun 2006. Saya melamar berbagai beasiswa, termasuk AusAid atau ADS (Australian Development Scholarships), beasiswa Dikti, dan beasiswa Fulbright. Pada awalnya, saya kurang begitu yakin diterima di Amerika Serikat, malahan justru saya ingin ke Australia. Ibarat rezeki, sebagai orang Muslim, tentu saya meyakini bahwa rezeki ditentukan oleh Allah SWT. Ternyata, saya berjodoh dengan beasiswa Fulbright.

Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan ini adalah bahwa ternyata beasiswa Fulbright adalah beasiswa yang sangat dihormati di negeri Paman Sam tersebut, dan bahkan di seluruh dunia mengenali nama beasiswa Fulbright. Banyak peraih Nobel yang ternyata adalah bagian dari keluarga besar Fulbright. Ada rasa bangga ketika saya dinyatakan lulus untuk menerima beasiswa Fulbright. Apakah hanya setahun dua tahun persiapan saya untuk beasiswa Fulbright? Lalu, apa saja yang sudah saya persiapkan berupa dokumen-dokumen sebelum mengirimkannya ke kantor AMINEF di Jakarta? Bagaimana pengalaman saya selama proses beasiswa Fulbright? Apa sajakah yang diterima pada saat pelaksaan beasiswa Fulbright? Selama di Amerika Serikat, apa sajakah yang telah saya pelajari? Kegiatan seperti apakah yang perlu kita jalani sebagai penerima beasiswa Fulbright? Pertanyaan-pertanyaan ini akan saya jawab melalui tiga video-video yang ada di bawah ini. Silakan disimak ya… Videonya berdurasi cukup lama, yaitu berkisar 1 jam, namun saya yakin akan sangat berguna bagi siapa saja yang juga ingin studi lanjut ke Amerika Serikat.

Berbagi Informasi dan Pengalaman

Part 1 berisi informasi mendasar tentang program beasiswa yang ditawarkan oleh AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation).
Part 2 berisi informasi tentang bagaimana mengisi Fulbright Application Form, serta berbagi pengalaman berharga selama berada di USA dalam rangka studi lanjut tingkat magister.
Part 3 berisi informasi tentang apa-apa saja yang telah saya persiapkan di dalam proses seleksi beasiswa Fulbright, berikut beberapa contoh prestasi yang saya miliki untuk memberi nilai tambah ke aplikasi beasiswa saya.

Penutup

Beasiswa Fulbright pada dasarnya adalah beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat. Beasiswa ini sangat dihormati di negeri tersebut. Negara-negara lainnya juga menghargai penerima beasiswa Fulbright ini. Peraih beasiswa Fulbright pada unsur tertentu perlu memiliki keunikan tersendiri, yang berdasarkan panitia seleksi, selain memenuhi persyaratan yang diminta, juga memiliki nilai tambah berupa kepemimpinan, seperti pengalaman organisasi, atau prestasi lainnya di luar studi formal, yang memberi nilai tambah sebagai seorang ilmuwan.

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Bagi siapa saya yang ingin melamar beasiswa Fulbright, perlu diingat bahwa persyaratan perlu dipenuhi, sesuai dengan tingkatan studi yang akan dilamar, atau sesuai dengan program yang akan diikuti. Selain itu, disarankan harus ada nilai tambah yang kita maksudkan di dalam aplikasi lamaran beasiswa kita. Di tahap interview, perlu menjelaskan komponen beasiswa dengan baik serta lugas ke panitia seleksi.

Semoga lamaran beasiswa Anda ke Fulbright bisa sukses dan berhasil. Bila mau berdiskusi atau seandainya ada pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman saya di dalam menerima beasiswa Fulbright, silakan dituliskan pertanyaan atau poin diskusi di bagian komentar di bawah ini. Terima kasih. 🙂

Catatan: Untuk informasi lebih lanjut dan akurat tentang Beasiswa Fulbright, silakan kunjungi situs AMINEF, yang dapat diakses di link berikut ini: https://www.aminef.or.id/

Memahami Tindak Pidana Korupsi

Masyarakat Indonesia perlu dan mutlak harus memahami tindak pidana korupsi. Bersama kita bisa memberantas Korupsi. Indonesia adalah negara kaya dengan alam yang berlimpah, serta segenap warga Indonesia berhak hidup layak. Korupsi harus diberantas agar Indonesia Maju dan Sejahtera.


“Tanpa disadari, korupsi muncul dari kebiasaan yang dianggap lumrah dan wajar oleh masyarakat umum. Seperti memberi hadiah kepada pejabat/pegawai negeri atau keluarganya sebagai imbal jasa sebuah pelayanan. Kebiasaan ini dipandang lumrah dilakukan sebagai bagian dari budaya ketimuran. Kebiasaan koruptif ini lama-lama menjadi bibit-bibit korupsi yang nyata” (Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia, 2006, p. 1).

Berdasarkan kepada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, maka ada beberapa catatan utama tentang Korupsi yang mutlak dan wajib diketahui, dipahami, dan dikuasai oleh masyarakat Indonesia.

Korupsi berkaitan dengan:

  1. Kerugian Keuangan Negara
  2. Suap-Menyuap
  3. Penggelapan dalam Jabatan
  4. Pemerasan
  5. Perbuatan Curang
  6. Benturan Kepentingan dalam Pengadaan
  7. Gratifikasi

Korupsi yang terkait dengan Kerugian Keuangan Negara

  1. Melawan Hukum untuk Memperkaya Diri dan Dapat Merugikan Keuangan Negara adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  2. Menyalahgunakan Kewenangan untuk Menguntungkan Diri Sendiri dan Dapat Merugikan Keuangan Negara adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)

Korupsi yang terkait dengan Suap Menyuap

  1. Menyuap Pegawai Negeri adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  2. Memberi Hadiah kepada Pegawai Negeri karena Jabatannya adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  3. Pegawai Negeri menerima Suap adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri)
  4. Pegawai Negeri menerima Hadiah yang Berhubungan dengan Jabatannya adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara)
  5. Menyuap Hakim adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  6. Menyuap Advokat adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  7. Hakim & Advokat menerima Suap adalah Korupsi (berlaku kepada hakim & advokat)
  8. Hakim menerima Suap adalah Korupsi (berlaku kepada hakim)
  9. Advokat menerima Suap adalah Korupsi (berlaku kepada advokat)

Korupsi yang terkait dengan Penggelapan dalam Jabatan

  1. Pegawai Negeri menggelapkan atau Membiarkan Penggelapan adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu)
  2. Pegawai Negeri memalsukan Buku untuk Pemeriksaan Administrasi adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu)
  3. Pegawai Negeri merusakkan Bukti adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu)
  4. Pegawai Negeri membiarkan Orang Lain merusakkan Bukti adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu)
  5. Pegawai Negeri membantu Orang Lain merusakkan Bukti adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu)

Korupsi yang terkait dengan Perbuatan Pemerasan

  1. Pegawai Negeri memeras adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau penyelanggara negara)
  2. Pegawai Negeri memeras Pegawai Negeri yang lain adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara)

Korupsi yang terkait dengan Perbuatan Curang

  1. Pemborong Berbuat Curang adalah Korupsi (berlaku kepada pemborong, ahli bangunan, atau penjual bahan bangunan)
  2. Pengawas Proyek membiarkan Perbuatan Curang adalah Korupsi (berlaku kepada pengawas bangunan atau pengawas penyerahan bahan bangunan)
  3. Rekanan TNI/Polri berbuat Curang adalah Korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  4. Pengawas Rekanan TNI/Polri membiarkan Perbuatan Curang adalah Korupsi (berlaku kepada orang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan TNI dan atau Kepolisian Negara RI)
  5. Penerima Barang TNI/Polri membiarkan Perbuatan Curang adalah Korupsi (berlaku kepada orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan TNI dan atau Kepolisian Negara RI)
  6. Pegawai Negeri menyerobot Tanah Negara sehingga Merugikan Orang Lain adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau penyelanggara negara)

Korupsi yang terkait dengan Benturan Kepentingan dalam Pengadaan

  1. Pegawai Negeri turut serta dalam Pengadaan yang diurusnya adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau penyelanggara negara)

Korupsi yang terkait dengan Gratifikasi

  1. Pegawai Negeri menerima Gratifikasi dan Tidak Lapor KPK adalah Korupsi (berlaku kepada pegawai negeri atau penyelanggara negara)

Tindak pidana lainnya yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, sesuai dengan UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 antara lain:

  1. Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi (berlaku kepada setiap orang)
  2. Tersangka Tidak memberi keterangan mengenai Kekayannya (berlaku kepada tersangka)
  3. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka (berlaku kepada orang yang ditugaskan oleh Bank)
  4. Saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu (berlaku kepada saksi atau ahli)
  5. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu (berlaku kepada orang yang karena pekerjaan, harkat, martabat, atau jabatannya yang diwajibkan menyimpan rahasia)
  6. Saksi yang membuka identitas pelapor (berlaku kepada saksi)

Ada Korupsi, Laporkan!

Teknis melaporkan tindak pidana korupsi:

  1. Uraikan kejadiannya – sedetail mungkin berdasarkan data dan fakta dengan format SIABIDIBA (siapa, apa, bilamana, di mana, bagaimana)
  2. Pilih pasal-pasal yang sesuai
  3. Penuhi unsur-unsur tindak pidana
  4. Sertakan bukti awal, bila ada
  5. Sertakan identitas Anda, bila tidak keberatan
  6. Kirimkan ke KPK

Catatan dari KPK:

“Fokuskan pengaduan/laporan Anda pada korupsi kelas kakap (big fish), bukan yang kelas teri. Pengertian kelas kakap adalah:

  • Melibatkan orang level tinggi atau yang memiliki pengaruh besar;
  • Terkait dengan aspek yang strategis/menyangkut hajat hidup orang banyak; atau
  • Menyangkut nilai uang yang besar” (Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia, 2006, p. 116)  
Komisi Pemberantasan Korupsi

Pengaduan/laporan adanya tindak pidana korupsi dapat Disampaikan melalui:

Surat: Kotak Pos 575, Jakarta 10120

Email: pengaduan@kpk.go.id

Telepon: (021) 2350 8389

Fax: (021) 352 2623

SMS: 0811 959 575 (0811 959 KPK)

SMS: 0855 8 575 575 (0855 8 KPKKPK)

Daftar Pustaka

Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia. (2006). Memahami untuk Membasmi: Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi.

Disclaimer: I post this information in my blog in order to help Indonesian citizens / civillians and Indonesian Government to fight and bannish the corruption action in Indonesia.

Awas! Penipuan Berkedok M-KIOS TELKOMSEL!


Sekedar Informasi dan Berbagi Pengalaman bagi Pembaca,

Pada tanggal 9 Mei 2015, saya telah tertipu oleh SMS yang mengatasnamakan M-KIOS TELKOMSEL. Di SMS tersebut, saya dinyatakan kandidat penerima hadiah uang sebanyak Rp. 100 juta. Silahkan baca lampiran informasi mengenai hal ini di postingan ini:

Situs Penipuan Berkedok M-KIOS TELKOMSEL.

Klik di sini: –> PESTA ISI ULANG M-KIOS 2015

Saya telah tertipu mengirim uang sejumlah Rp. 2.550.000,- dan tambahan biaya sebanyak Rp. 6.500,- untuk transfer uang ke pemilik rekening bernama FAUZIAH. Lihat informasi lengkap transaksi bank-nya di bawah.

Saya mengirim uang dari rekening saya sendiri di CIMB Niaga.

Sebelum mentransfer, saya juga diminta untuk mengisikan pulsa sebanyak 5 kali sejumlah Rp. 100.000,- ke nomor tertentu (nomornya saya sudah lupa, tapi cukup banyak. Dihubungi satu nomor, nomor yang lain menelepon. Apakah ini akibat dari kebablasannya era informasi teknologi di mana orang bebas membeli nomor hape dan menggunakannya untuk tujuan yang salah?).

Uang membeli pulsa ini juga saya ambil dari rekening bank yang sama = CIMB Niaya, sebanyak Rp. 500.000,-.

Berikut keterangannya, yang saya ambil dari screen laptop:

Bukti transaksi CIMB Niaga

Dari keterangan di atas, penerima uang Rp. 2.550.000 bernama FAUZIAH. Dengan nomor rekening Bank Mandiri (kalau tidak salah), dengan nomor rekening: 459801016870. Bagi yang bisa meringkus pelaku ini, saya sangat mengucapkan terima kasih.

Informasi ini memang terlambat saya informasikan karena saya dan orang tua beranggapan memang sudah ini takdirnya, terlalu mempercayai telepon dari orang yang mengaku-ngaku baik, namun penuh hipnotis. Saya pun waktu itu, terlalu polos untuk mempercayai bahwa memang bahasa bisa dipoles sedemikian rupa untuk menipu dan penuh tipu muslihat.

Saat ini, kami mendoakan agar pelaku penipu ini bisa bertaubat dan mengembalikan uang yang telah dicuri dari kami secara zalim. Jika pelaku mau berfikir kembali, maka uang yang dikembalikan ke kami, akan kami infakkan ke anak yatim piatu yang ada di kota Padang. Jika tidak, ya tidak apa-apa, sebab kami tahu, di akhirat kelak, kami pasti akan dipertemukan kembali dengan mereka-mereka ini. Dan tentunya, pahala mereka akan menjadi hak korban mereka dan mereka akan ditempatkan di neraka Jahannam karena telah menipu dan merugikan orang lain.

Semoga informasi ini bisa dicermati. Saya telah menghubungi pihak bank CIMB Niaga, tapi pihak Bank menyatakan bahwa transfer itu atas inisiatif sendiri, jadi tidak bisa dibantu. Amat sangat saya sayangkan, waktu itu.

Yang saya tanyakan adalah (dalam keraguan, sekaligus harapan) untuk semua bank di Indonesia:

  1. Baiklah jika memang itu inisiatif sendiri, namun jika ada nasabah yang “salah pencet” nomor rekening, misalnya di Hape TouchScreen, apa uang bisa “ditarik” kembali? Kenapa tidak bisa? Jika si pengirim mengajukan keterangan salah pengiriman, apakah hak nasabah untuk mendapatkan uangnya kembali menjadi tidak ada?
  2. Jika penerima adalah pemilik rekening bank lain selain CIMB Niaga, apakah pihak bank tidak melakukan kerja sama antar bank di seluruh Indonesia? Sementara, di luar negeri, bank akan bekerja sama dengan bank lainnya, baik swasta maupun negeri, dalam hal melindungi kenyamanan nasabah.

Bagaimana dengan nasabah yang hapenya dicuri? Laptopnya hilang, misalnya?

Jadi, wajar bila banyak yang menjadi korban penipuan uang di rekening, baik ATM maupun buku tabungan, karena bank tidak “tegas” perihal pelayanan transaksi keuangan dan terkesan lepas tangan.

Jika saja perlu surat keterangan Polisi dari Padang Utara waktu itu, sudah tentu akan saya urus. Namun, karena Bank sudah menyatakan tidak bisa membantu, maka apa daya, bersabar saja…

Harapan saya adalah tidak ada lagi kejadian seperti ini dan tentunya jika terjadi pada nasabah, akan lebih baik jika pihak bank turut membantu dengan “membatalkan” transaksi setelah nasabah mengajukan pembatalan transaksi 2 x 24 jam. Dikenai biaya pun, saya rasa tidak masalah asalkan bisa memberi “efek jera” ke si penerima uang korban. Korban, hanya akan sadar, setelah satu atau dua hari setelah ditipu.

Terima kasih. Semoga dapat dicermati dengan baik.

Pastikan betul, Anda mengirim uang ke orang yang tepat dan benar, sesuai dengan nomor rekening dan bank yang tepat. Jika semua sudah benar, berdoalah supaya Anda memang mengirim uang untuk tujuan yang memang tidak merugikan Anda sama sekali.

Semoga tidak tertipu, ya!

(Kita doakan semoga penipu seperti ini bisa bertaubat).

After becoming a Muslim, what’s next?


To be honest, I am impressed by the shared stories of American youths who become Muslims. As a Muslim who is growing in a Muslim community in Indonesia, I felt a sort of spiritual jealousy toward American Muslims who become Muslims. My jealousy is positive, anyways. You know, being an American, as I perceive means being an individual with total liberty and freedom. However, after I listen and comprehend the discourses of being American, I tend to see that in the United States, life and living are not as easy as they may seem. Perhaps, I mention this statement because I was born outside the United States. This time, my writing focuses on American converts to Islam. I hope that my writing can be read by Americans who want to become Muslims. Please bear in mind, though, I am not a scholar in Islam, but I want to share bits and pieces of being a Muslim, purely Muslim, without any attached –ism within your beliefs as a Muslim.

First of all, I would like to say, “Congratulations! Welcome to Islam! Alhamdulillah! Praise be to Allah who opens your heart and guide you into a correct path in life”

I honestly tell you this because as I know, coming to Islam as a person who is not raised in Islāmic community seems to be amazing. I call it amazing because when I try to put myself like you, perhaps I would imagine that what I would know of Islam is only through media that I read or listen in a daily basis. Perhaps, the Internet helps you to find Islam as well, but the validity of information on the Internet, to me, cannot be considered as 100% true and valid. (I am a language teacher and a linguist, so I know some people try to make stuff to make them look “cool” by telling lies and hatred statements). The question is that you already become Muslims, so “What’s next?”

Hold on. Take a deep breath and sit nicely. Look at the mirror and say yourself, “I am awesome!”

Ooops, I am kidding, but yes, you are awesome!

My first suggestion for you is to take it slowly. Take your spiritual paths in Islam slowly and nicely. None forces you to change dramatically. In my understanding, coming to Islam needs a rigorous process and a strong commitment from you. This statement applies to all Muslims, already Muslims, or New Muslims. Remember, in front of Allah SWT, you are so fresh like babies. Your sins are already forgiven. If you really do consider yourself to make sins before you come to Islam and made your Shahada, Allah SWT knew that at that time you were under your ignorance. Now, once you step into Islam, your sins and merits are in your hands. You will be judged on what you do in your life. I call it, Self-Consciousness, or knowing yourself more than anyone on earth. If you know who you are and know why you have a certain condition of life, you will likely know who your Creator is. It is already embedded in each and every one of us until we are corrupted by satanic ways of life, which are physically abusive to our body and spirit as human beings.

After you took your shahadah, focus on understanding the 5 pillars of Islam. These pillars mean, if you do them, you already build the temple as well as the kingdom of your own faith – Islam. Allah SWT is the Most Knowing of what you do. So, what are they? They are Tauheed (The Oneness of Allah), Salat (Worship in the form of Obligatory Prayers), Fasting during the month of Ramadhan, Zakat (Mandatory Charity giving), and Hajj (Higher Pilgrimage). As a New Muslim, I know that all these things sound heavy for you to do all at once. That is why I inform you to take them slowly, but of course, you must have the willingness to do them. In general, all Muslims, especially those who practice their beliefs, consider the first, second, third, and fourth as essential. We can do them anywhere we are. At this point, if you have questions dealing with how to do Salat and Fasting, you could ask about all these things to Sheikh who might be available in your town. I believe that he will help you to understand more about these pillars of Islam, and especially, how to practice them. You can go to the nearest Masjid (mosque) in your town to practice your spiritual needs afterward. Well, then, is it just these things? No.

Now, I will lead you to the ideas of the 6 Articles of Faith. These articles are also crucial for your identity as a Muslim in front of Allah SWT. You do not need to shout out loud your belief because the most important thing is: Allah SWT is All-Knowing what is in the Heaven and Earth, including you, a little creäture in this big earth. What are these 6 articles? They are 1) sincere belief in Allah and monotheism; 2) belief in the Angels; 3) Belief in the Divine Books revealed from Allah – Al-Qur’an; 4) Belief in all the preceding prophets and Muhammad SAWS; 5) The Qiyamah, and 6) The belief in Divine Preordainment and Predestination. Therefore, all I can say is being a Muslim needs more than just a belief. On the surface, these 6 articles of faith might look stunning for other people who do not know anything about Islam, but once they try to build their minds within these 6 articles of faith, they will surely feel something different within themselves. These 6 articles of Faith are in need of your consent as a Muslim.

So, by now, you have two important aspects in Islam: 5 pillars of Islam and 6 articles of Faith.

As American Muslims, you need to do all these things step by step, especially if you are new to Islam.

What about your previous faith? What should you do about it?

Well, you decide. Which one is important for you, your life and soul, or your previous faith?

If you become a Muslim and you try to help other fellow Christians and Jews to Islam; why not?

Basically, Christianity and Judaism have many things similar in common, but the overall differences are seen in the way we look at the Creator, God. For other faiths, you can browse online about stories and videos of many people who come to Islam these days. In Islam, if you really learn this religion seriously, you will meet with very deep religious knowledge. The more you dig it, the more you will find something new for yourself. I myself am still learning, although I basically love to do what I know.

How about other things in social life that they talk about? News on TV? How about those things?

To be honest, all I can say is, you know, people work in Media in order to get some money. In order to get money from their works and are able to earn as much money as possible, some of them dare to twist news or reality for the viewers; so that they can be considered as truthful, although, in this day and age, everyone already understands the process of making news. Selling information to viewers is a common thing to do by Media. I had been working in Media, too, so I know pretty much the background of a studio. However, I am not saying that all media are bad. There are also good media around, though. Once news comes to you, ask it yourself, “Is it real? Evidence? Why? How? Where? When? Who? How come?” After that, do your own search. As an American, that is why it is important for you to learn other foreign languages so that you can see how other people inform news within their own communities. Sorry for being out of our topics, but, yeah, the point is, “be strong on your belief”. I pray to Allah SWT may all American Muslims are protected from any false political propaganda whispered by people who claim themselves know Islam, but they do not even believe in it. Also, I pray that all Muslims are under the guidance of Allah SWT.

For your information, Allah SWT guides whom He wills. Therefore, if you meet or encounter people who disrespect your belief and faith, that is the actual form of Tests from Allah SWT.

Hijab? LGBT? Stuffs?

Read more about Islam. Comprehend Al-Qur’an. Comprehend the Sunnah (Al-Hadeeth). The more you read, the wiser you become. And, select readings that are insightful. Books that do not represent correct information, in which opinions are presented too much personally, will not help you much in Islam. In the end, you will understand that all those things are only “pieces of stuff” that test your faith in Allah SWT, your Creator. They may say anything about your faith, but trust me, compared to those folks; you have your Creator – the Creator of Heaven and Earth. For me, that is more than enough. Life is just like a game. None influences you unless you influence yourself from what you are doing. Finally, I hope that you may grow yourself as a Muslim, and me, too. Sometimes, I felt that the tests beyond my ability, but after I pass the tests, I know that it uplifts me into a better human being. Insya Allah. Jazakillah khair. Wassalamualaikum. May peace be unto you, dear brothers and sisters.

Hatred is for those whose heart is filled with hate – as simple as that. – Syayid Sandi Sukandi

(Some information in this writing are taken from Muslim Student Association at SIUE).

P.S. For Mr. Kevin Phillips and Ms. Heather Phillips, I love you guys, more than you could imagine. I am so sorry for all my mistakes to you. I am only a human being, just like you. Please do forgive me. Thank you.

Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia – Caranya?


Setiap kita, pada dasarnya, menyukai film, apapun jenis genre-nya. Baik itu kartun, animasi, aksi, petualangan, misteri, horor, termasuk film bertema reliji atau agama dan budaya. Namun, pertanyannya, film seperti apa yang telah atau kita tonton itu? Lantas, seberapa jauh film bisa berpengaruh pada hidup kita? Kenapa pula sebuah film wajib dikaji terlebih dahulu oleh pakar kebudayaan dan sastrawan sebelum diedarkan ke khalayak pemirsa Indonesia?

Tulisan saya berikut ini diniatkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya memang bukan termasuk ke dalam pihak-pihak yang bisa membuat film dan memproduksinya. Walaupun demikian, sebagai salah seorang penikmat, sekaligus pengkritik film, saya tentu sedikit banyak mengerti akan apa yang baik dan bagus mengenai sebuah film. Berangkat dari latar belakang saya sebagai mahasiswa lulusan Sastra Inggris (sekarang, Ilmu Budaya) di Universitas Andalas, dan saat ini (yakni pada saat saya menulis tulisan ini) sedang studi di Amerika, dengan bidang Bahasa Inggris, konsentrasi pada Komposisi: Budaya, Sastra, dan Bahasa, maka setidaknya ada sebuah kewajiban bagi saya untuk berbagi ilmu dengan pembaca blog saya ini tentang Tips Membuat Film Bertema Agama dan Budaya di Indonesia. Melalui tulisan ini, saya akan membahas sedikit banyak kaitan antara Film dengan Budaya, serta antara Film dengan Alam Bawah Sadar pemirsa. Konsep yang akan saya gunakan untuk membahas Topik ini berkaitan dengan Teori Alam Bawah Sadar yang diajukan oleh Sigmund Freud. (Bagi mahasiswa sastra dan psikologi, pasti telah mengenal teori ini). Teori-teori berat sengaja tidak saya jabarkan di sini karena tujuannya bukan untuk memaparkan suatu konsep yang rumit, namun menjelaskan upaya yang benar dan baik perihal membuat film bertema agama dan budaya di Indonesia dengan bahasa yang sesederhana mungkin, mengingat tidak semua pembaca Indonesia yang paham bila saya cas cis cus dengan Bahasa Asing di sini.

Film — Konteks — Pemirsa

Sebuah film, dianggap dan dinilai sebagai sebuah “teks”. Dalam ilmu Kajian Media, teks bisa bersifat semua yang kita lihat dan baca serta dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan Film, di dalam Film, yang kita tonton itu, termuat di dalamnya sebuah Konteks. Konteks berfungsi sebagai bingkai, atau wadah di mana film tersebut diproduksi dan diedarkan serta dikonsumsi sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran bagi pemirsa. (Kalau hanya sekedar Hiburan, kan sudah ada Musik dan Lagu, ya toh?) Dengan demikian, keberadaan Pemirsa juga bisa mempengaruhi Konteks di mana Film tersebut akan ditayangkan. (Ingat lho, biaya membuat Film itu tidak sedikit, jadi jangan jadikan kegiatan ini sia-sia). Kaitan antara ketiga unsur ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, sebab tanpa keberadaan Pemirsa, Film akan menjadi sia-sia; dan tanpa sebuah Konteks, Film bisa menuai berbagai macam permasalahan karena keberagaman tipe dan macam pemirsa. Di Indonesia, pemirsa kita bermacam-macam. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kaitanya dengan pembuatan film bertema agama dan budaya, tentu Pemirsa di sini adalah orang-orang yang erat kaitannya dengan agama dan budaya di mana Film tersebut diproduksi. Logikanya, Film yang dibuat sebaiknya sejalan dengan Sifat dan Karakter Pemirsa atau Penonton di Indonesia agar Film tersebut Menarik dan Layak untuk ditonton serta dapat dijadikan Media Pembelajaran bagi generasi muda untuk berfikir akan nasib bangsanya ke depan kelak. Jika kita lihat ke Indonesia, terdapat berbagai macam unsur kebudayaan yang ada, tersebar dari Aceh hingga ke Merauke. Mengenai Agama, terdapat pula Lima Agama di Indonesia: Islam, Nasrani, Katolik, Hindu dan Buddha. Sebagai orang Indonesia, kita sebaiknya sadar akan keberadaan penganut agama ini. Oleh sebab itu, yang perlu kita pertahankan adalah keberlangsungan akan kerukunan umat beragama di negara kita. Sebuah Film yang bertema Agama, wajib untuk tidak menyinggung agama apapun. Sebuah Film yang bertema Budaya, wajib untuk bisa merepresentasikan budaya yang disampaikan dengan seksama, agar tidak ada pihak-pihak di Indonesia yang merasa terintimidasi atau merasa terancam, apalagi jika Film tersebut berkaitan dengan komunitas marjinal yang ada di negara kita.

Penulis — Sutradara — Produser

Peran penulis, sutradara, dan produser sangat erat dan penting fungsinya bagi proses pembuatan sebuah film. Mengenai penulis, siapa pun bisa menjadi penulis. Pertanyaannya, penulis yang bagaimana? Pertanyaan yang sama juga jatuh kepada sutradara dan produser. Sebuah pertanyaan kritis yang timbul dari benak saya adalah: “Apa prinsip, visi, dan misi serta niat sutradara dan produser sebelum memprakarsai sebuah pembuatan film? Apa latar belakang mereka secara pribadi? Film-film apa saja yang telah mereka produksi? Apa komentar dan kritik dari pemirsa mengenai Film yang mereka produksi?” Saya mengamati bahwa pada dasarnya, pemirsa Indonesia, tidak mencermati atau mempertanyakan siapa individu yang termasuk ke dalam tiga unsur ini. Penulis yang sejati, ketika karyanya di-film-kan, pasti akan sangat terharu, namun, dia tentu akan wanti-wanti, apakah karyanya bisa “diwakili” dan “terwakili” di layar lebar atau tidak. Alasannya, banyak juga kenyataan di mana Pemirsa kecewa menonton Film Layar Lebar yang diangkat dari Novel karena banyaknya bagian cerita yang dipotong. Alhasil, itu akan merugikan kandungan makna Novel si Penulis. Sutradara, pada dasarnya, adalah individu yang memotori dan meracik sebuah film menjadi menarik dan berdaya guna. Baik atau tidaknya penilaian Pemirsa mengenai Film-nya, itu termasuk ke dalam tanggung jawab Sutradara. (Kenapa? Baca terus, ya?) Sementara Produser, atau mungkin bisa juga disebut Sponsor, bertanggungjawab perihal Pembiayaan Film, meski Produser juga tertarik kepada Profit atau Untung dari Film. Di titik Produser ini, perlu juga dilihat, ingin mendapat untungnya tersebut berupa apa? Apakah dengan cara menghalalkan segala upaya untuk meraih untung? Menghindari sisi kemanusiaan?

Film Asing — Lebih Laku — Banyak Ditonton (Film Indonesia?)

Kita sadar kalau Film kita tidak semuanya yang laku di pasaran per-film-an internasional. Ada yang bagus, tapi juga tidak sedikit yang kurang bagus. Sementara, kita sering tergiur dengan lakunya film luar, bahkan terkadang, bisa mengalahkan posisi film tanah air kita. Kita juga ingin film kita mengalami hal yang sama. Lantas, kenapa bisa laku? Wajar saja laku, karena faktor bahasa di film tersebut dan faktor budaya pemirsa internasional serta selera pemirsa internasional.

Mengenai bahasa, tidak selalu film yang laku di dunia internasional itu mutlak menggunakan bahasa Inggris, namun, dengan menggunakan bahasa Inggris, setidaknya cakupan jumlah pemirsanya menjadi lebih luas. Faktor budaya juga mempengaruhi bagaimana sebuah film dinilai di mata dunia internasional. Karena budaya Indonesia yang cukup “kontras” dengan budaya “luar”, wajar film Indonesia sedikit terasa berbeda nuansanya bagi pemirsa internasional. Ujung-ujungnya ini berkaitan dengan selera pemirsa internasional. Tidak mutlak pemirsa internasional suka film yang berbau kekerasan atau animasi yang penuh intrik serta dibarengi dengan kualitas video dan audio yang bagus. Namun, unsur seperti ini sudah sangat menunjang untuk menjadi sebuah film yang bagus. Sebuah film drama yang bertema keluarga saja bisa laku keras di pasaran karena menginspirasi bagi mereka. Kenapa? Karena film yang laku keras tersebut memberikan inspirasi kepada pemirsa sesuai konteks kebiasaan dan “selera” hidup di mana mereka berada. Kalau kita menonton film Hollywood, misalnya, konteks alur ceritanya dibangun dari sudut pandang orang Amerika. Sementara, film Bollywood, juga mewakili bagaimana orang India mewakili berbagai macam cerita yang diinspirasi dari kultur mereka sehari-hari. Bagaimana dengan kita? Apakah film kita sudah mewakili keberagaman budaya kita? Apakah film kita masih berorientasi profit? Kaitannya dengan Agama dan Budaya, film-film Hollywood dan Bollywood juga memiliki tema Agama dan Budaya, tapi tentu sesuai konteks Amerika dan India. Namun, apakah kita melulu meniru bagaimana orang lain membuat film? Lantas, apa yang menjadi ciri khas film kita? Nah, pada titik ini, kita kaitkan dengan selera pemirsa Indonesia secara garis besar. Saya masih ingat ketika rekan kuliah saya dulu bilang begini, “Hollywood itu identik dengan pistol, sex, dan teknologi. Bollywood itu identik dengan nyanyi, tari, dan aneka masalah sosial di India. Kalau Jepang, ada Samurai. Kalau China, dengan Ninja” Sementara, Film kita? Banyak ide yang bisa dijadikan film. Cuma, dari mana ide tersebut? Dan, apa ide tersebut baik atau jahat? Itu dulu, baru pikirkan soal profit. Kalau Film menarik, ada unsur pembelajaran di dalamnya, dan unsur audio-visualnya mendukung, siapa sih yang tidak akan menonton? (Lho, kok bisa gitu? Kan harus nonton dulu?) Kan ada sinopsis, dear one… Kan bisa baca sinopsis itu.

Film — Novel

Banyak film-film besar yang diangkat dari Novel. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Anda pasti sudah tahu akan hal ini. Pertanyaannya, apakah mutlak novel yang laku keras bisa laku pula setelah di-film-kan? Belum tentu. Apakah novel yang biasa-biasa saja bisa membuat filmnya laku keras? Bisa jadi. Seperti argumen saya di atas, sebuah Film, laku atau tidak, bergantung kepada Konteks dan Pemirsa. Kalau Film nya sudah menawarkan kontroversi bagi Pemirsa, saya khawatir akan keberadaan Sutradara dan Produser. Mereka bisa dipertanyakan oleh Pemirsa, dan itu tentunya adalah hak Pemirsa. Novel, pada dasarnya, sama dengan Film, cuma perbedaannya terletak pada cara kita “mengonsumsinya”. Untuk Novel, kita seringkali membangun imajinasi dari susunan kata yang ditulis oleh penulis novel tersebut. Sementara Film, kita hanya duduk, diam, dan menerima apa yang disuguhkan secara visual. Nah, pada bagian ini, manakah yang lebih berbahaya? Novel atau Film? Jawabnya, Film. Mengapa? Jika kita analogikan dengan Makanan, Film sama dengan Makanan Cepat Saji. Tersedia dengan cepat kepada kita. Kita tidak punya andil di dalam “menyaringnya” kecuali setelah “dikonsumsi” terlebih dahulu. Sementara Novel, bagus atau tidaknya jatuh kepada pembaca dalam skala individu, bergantung kepada sejauh mana Imajinasi si Pembaca di dalam memahami karya yang dibacanya. Sementara Film, sekali ditayangkan di layar lebar, ratusan Pemirsa akan mengonsumsinya ke dalam alam bawah sadar mereka. Apa yang digunakan oleh akor dan aktris di film tersebut, akan secara tidak sadar ditiru oleh Pemirsa, seperti Anda, apalagi kalangan anak Remaja yang belum bisa menyaring akan apa yang mereka lihat dan “konsumsi” dari sebuah Film. Coba sekarang saya tanya, “Sebutkan artis paling cantik di Indonesia menurut Anda? Artis Pria Mana yang Paling “Hot”? Film Mana yang Membekas di Hati Anda?” (Tulis Jawabannya di Komentar Bawah ini ya?)

Film Indonesia — Moral Bangsa

“Lagi-lagi, Moral. Bisa enggak sih kita tuh berhenti ngomongin soal Moral? Masalah bangsa tuh udah lebih banyak dari ini”, protes salah satu mahasiswa saya waktu saya mengajar Cross Culture Understanding (Pemahaman Antar – Budaya). Jawab saya, “Oh, Tidak Bisa. Bukankah Indonesia itu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, juga karena bobroknya Moral? Dalam Islam, bukankah Moral itu yang namanya Akidah dan Akhlakul Karimah? Dan bukankah Moral itu berkaitan dengan Pancasila?” Alasannya begini: “Moral, tidak berbentuk, dan abstrak, alias tidak bisa dilihat. Tuhan pun tidak bisa dilihat. Tidak suka membicarakan Moral, berarti tidak suka akan keberadaan Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita. Bukankah Agama itu fungsinya untuk menjadikan manusia lebih manusia?”

Apa kaitannya dengan Film? Pengalaman saya ketika saya mau berangkat ke Amerika, saya menonton film Hollywood, mulai dari yang ada “esek-eseknya” dengan yang banyak adegan perkelahian serta yang penuh dengan nuansa science dan teknologi. (Anda tahu kok, yang mana aja). Nah, ketika saya sampai ke Los Angeles, terus ke Atlanta, dan kemudian ke Detroit, terus singgah ke Minneapolis, dan St. Louis, saya perhatikan kok kehidupan di Amerika itu jauh sekali dengan apa yang disampaikan oleh Film-nya ya? Memang sih, film tidak mencerminkan dunia nyata. Saya tahu itu. Namun, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah saya “disuguhkan” secara tidak sadar untuk melihat Amerika itu bagaimana, terutama perihal “selera film” mereka, dan unsur-unsur budaya lainnya, seperti gaya bicara dalam Bahasa Inggris, cara memakai baju, dan berbagai macam kebiasaan hidup sehari-hari. Ketika saya lihat yang nyata, kok berbeda? Ternyata kehidupan di Amerika Serikat itu lebih kompleks daripada yang saya bayangkan (karena saya belajar Topik ini di negara tersebut). Nah, ketika saya sudah berada di Amerika, baru jelas “konteks” film Hollywood tersebut. Saya pun mengerti akan “selera” orang Amerika Serikat dengan “selera” orang Indonesia berbeda dari segi dimensi psikologis, sosial, dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Ingat, Konteks Film berkaitan dengan Siapa Pemirsa dan Latar Belakang Film tersebut ditayangkan. Bagaimana kalau itu terjadi dengan Film Indonesia? Kita punya Film Berbau Hantu, Pocong, dan Kuntilanak (dominan), apa kita mau orang luar itu menilai kehidupan kita dari sana? Kita malah akan menjadi generasi paranoid. Bukannya takut kepada Sang Pencipta Alam (Allah SWT), malah takut ke Hantu, Pocong, dan Kuntilanak. Bayangkan kalau Film kita tidak mencerminkan Moral Bangsa kita, atau tidak mengajarkan Moral yang baik-baik, apa jadinya bangsa kita di mata dunia? Meski sih, banyak “penyakit-penyakit” yang perlu diperbaiki sana-sini, nggak cuma “Film”, namun, setidaknya, membuat Film yang mendidik dengan baik dan benar kan termasuk salah satu upaya untuk kita agar bisa membawa kita ke upaya kemajuan Indonesa yang baik dari segi aspek spiritual (di mana aspek ini memang kurang di berbagai belahan dunia). Kepekaan Penulis, Sutradara, dan Produser sangat diperlukan dalam hal ini. Contohnya? Banyak yang bisa dijadikan Film. Tinggal, kejelian Penulis, Sutradara, dan Produser membaca keinginan Pemirsa Indonesia (yang jumlahnya Jutaan) jika ingin Film-nya laku keras, bukan sekedar membuat Film yang diniatkan mendapat Profit, namun isinya biasa-biasa saja, malah membuat kontroversi. Itu kan, sia-sia, namanya. Di mana letak etika perfilman kalau begitu?

Film Asing — Politik dan Ideologi

“Wah, apa pula ini? Berat kali kata-kata kau, bah!”, katanya. Kataku, “Kalau begitu, kapan kamu mau belajar?” Oke, sekarang kita lihat ke Film Asing dan apa kaitannya dengan Politik dan Ideologi. Kok bisa? Seperti yang saya jelaskan di atas, sebuah Film diproduksi dan dipengaruhi oleh “konteks” di mana Film tersebut akan diproduksi, ditayangkan, dan diedarkan. Logikanya, jika Suhu Politik dan Ideologi di negara di mana Film tersebut dibuat tidak kondusif, besar kemungkinan Film yang akan ditayangkan berisi kritikan terhadap negara itu sendiri, namun perlu juga diingat, di Indonesia sudah ada Badan Perfilman Indonesia tidak? Di negara lain, mereka memiliki konsep “hukum” mereka sendiri, yang cukup berbeda dengan kita. Misalnya, konsep kebebasan atau “freedom”. Dinamika kehidupan mereka juga berbeda dengan kita, yang seringkali dinamika ini dipengaruhi oleh kultur mereka yang turun temurun, kemudian iklim, kondisi geografis, dan pengaruh budaya baru dari imigran yang ingin menjadi warga negara di negara tersebut. Namun, ketika kita lihat proses disetujuinya sebuah Film untuk layak edar ke publik, kita lihat dulu, konteks “mengapa” film tersebut bisa layak edar. Kita lihat film Hollywood, apakah mereka memproduksi film setelah mencermati budaya negara lain? Kan tidak. Bollywood? Apakah mereka memperhatikan budaya Pemirsa dari negara lain? Kan tidak. Boro-boro. Mereka tentu juga punya “selera” mereka masing-masing. Selera ini pun dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi politik dan ideologi di mana mereka tinggal dan dibesarkan. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Itu sebabnya, ketika kita menonton film buatan luar negeri, kita cenderung menikmatinya sebatas menikmati, meski pada hakikatnya, cara kita berfikir dan memutuskan sesuatu dalam hidup, juga bisa dipengaruhi oleh apa yang kita “lihat”. Salah satunya, ya, dari Film. Mungkin saat ini kita sekedar menonton saja sebuah Film, tapi coba ketika seseorang menyebut sebuah kata saja yang berkaitan dengan Film yang kita tonton tersebut, apakah pikiran kita otomatis ingat kepada “sesuatu”? Lalu, apa bedanya dengan Iklan, coba? Bagaimana Iklan di Indonesia? Bukankah Film juga bisa digunakan sebagai Media Informasi Politik dan Ideologi melalui Alam Bawah Sadar? Kalau Anda ke Mall, misalnya, Anda cenderung membeli Produk yang ada Iklannya, atau sekedar beli-beli doank? Penonton awam mungkin tidak “ngeh” akan hal ini sebab ketika menonton Film, tidak dilandasi dengan pengetahuan yang ada, sekedar menonton, atau on the surface. Bagi penonton aktif dan kritis, dia seringkali suka mempertanyakan: “Kenapa begitu?; Kok bisa sih?; atau Maksudnya apa Film ini?” Biasanya, yang kritis seperti ini tentu yang memiliki Wawasan di dalam Memahami Film dan mendalami Makna Film tersebut dibuat. Kalau kita bisa menikmati sebuah Film, sekaligus meng-kritisi nilai-nilai yang ada di dalamnya, Kenapa tidak? Sebagai penonton Kritis, tentu sudah kewajiban kita untuk berbagi makna apa yang kita peroleh dari Film yang kita tonton. Bisa jadi penonton lain sekedar nonton doank, dan kita tahu jelas makna Film-nya secara positif dan negatif?

Film Indonesia — Mencerdaskan Bangsa

“Bangsa Indonesia sudah cerdas, kok, mereka udah tahu apa yang mereka lihat dan kerjakan”, kata seseorang pada saya. Saya jawab, “Waduh, jangan percaya. Kalau percaya, berarti elo sama aja dengan enggak mau maju, dan mendekati sifat Ujub, bangga diri, yang akhirnya enggak membawa elo ke mana-mana, selain menjadi stagnan, atau itu-itu aja. Akhirnya, elo dan bangsa elo kagak bakal mau belajar, karena sudah ngerasa cerdas”. Sekarang, kita kembalikan ke Film kita. Apa perlu Film itu harus mencerdaskan bangsa? Lalu bagaimana Film yang mencerdaskan bangsa itu? Begini, tadi di atas kita kan sudah membahas mengenai kaitan antara Konteks dan Pemirsa, sekarang, kita lihat kepada konsep kata “cerdas”. Menurut saya, Cerdas itu tidak sama dengan Pintar. Seseorang yang memiliki nilai Matematika misalnya, berarti ia Pintar di dalam Matematika. Seperti saya misalnya (ceilah), saya bisa Berbahasa Inggris, itu namanya Pintar Berbahasa Inggris (meski saya akui, Bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat kayak native speakers itu. Lol.). Cerdas itu, menurut saya, bisa menggunakan Ilmu yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang ada dan yang sedang dihadapi dengan benar dan baik tanpa ada penyesalan di kemudian hari. Coba kita lihat ke bangsa kita? Masalah macam apa yang enggak ada coba? Banyak kan? Nah, apakah kita mau Film Indonesia juga menciptakan masalah baru di tengah-tengah pemirsa?

Bukankah Cerdas namanya jika melalui Film kita menyajikan ke Pemirsa Indonesia akan sebuah Masalah atau Realita yang ada (bukan dari masalah pengalaman pribadi seseorang yang seringkali bias dan terlalu subjektif), lalu kita sampaikan sebuah Solusi akan permasalahan yang ada dengan bingkai agama dan budaya Indonesia yang baik dan benar, bukan dibuat-buat. Perlu diingat, Solusi yang diberikan harus dari sudut pandang agama dan budaya kita, bukan dari apa yang baik dan bagus menurut Sutradara dan Produser. Jika tidak, itu tadi, bisa melanggar Konteks, dan pada akhirnya Pemirsa akan merasa terintimidasi dan tersinggung dengan penayangan Film tersebut. Sekali Film dibuat, sekalipun dihapus, akan ada-ada saja pihak yang mengait-ngaitkan Film tersebut dengan konsep-konsep ini itu, yang pada akhirnya akan membuat beberapa kelompok masyarakat akan termarjinalkan. Lebih dalam dari ini, kita lihat ke bangsa kita. Tidak semua orang yang pernah mengelilingi Indonesia, itu Fakta. Nah, ini juga bisa dijadikan Film, bukan melulu soal Agama dan Budaya saja, bisa juga bertema tentang Alam Indonesia, agar orang Indonesianya lebih peduli lagi dengan alamnya. Kerja sama antara Dinas Pariwisata dengan Dunia Perfilman Indonesia, juga oke kan? Selain Film seperti ini memuat Realita Alam Indonesia, Film ini juga akan bernilai jangka panjang bila ditonton oleh generasi Indonesia yang mempelajari Karya Seni bangsanya nanti di tahun-tahun mendatang. Bisa jadi ada mata kuliah berjudul “Perfilman Indonesia”, ya ‘kan? Apakah orang Bali pernah ke Padang, misalnya? Apa yang mereka ketahui tentang kehidupan di Padang, misalnya? Apakah orang Bandung, pernah ke Jayapura, misalnya? Masih banyak kan yang bisa dijadikan bahan materi menjadi Film?

Berikut ini beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepada Penulis Film, Sutradara, dan Produser. Poin-poin ini masih sederhana, namun saya berharap untuk bisa dipertimbangkan dengan seksama.

Sebelum Membuat Film

  1. Pahami Karakter dan Budaya Bangsa dengan Secermat-cermatnya – Ingat Pemirsa : “Siapa Penonton Karya Saya?”, misalnya.
  2. Hindari Membuat Film yang Terlalu Banyak Adegan “Panas” (kalau perlu tidak ada) – Ingat, Industri Pornografi tidak akan pernah berhenti karena itu buatan negara lain, jadi tidak penting kalau Film Indonesia menyuguhkan hal yang serupa. Film Indonesia harus lebih kreatif dari ini. Jangan menyuguhkan hal yang biasa jadi murahan.
  3. Cari Inspirasi dari Kisah-Kisah Orang Indonesia yang Sukses dan Berhasil dalam Hidupnya. Itu lebih Nyata. Sebab, sudah ada Solusinya pada Mereka. – Ingat, Film yang Baik itu adalah Yang Menginspirasi kepada Kemajuan dan Kebaikan, bukan menyisakan Tanda Tanya, di mana Tidak Semua Pemirsa yang Berfikir dengan pola dan struktur yang sama. Alhasil, Film Anda pun sia-sia, dan tidak bermanfaat bagi Pemirsa. Perkejaan yang sia-sia itu, tentu bukan karakter bangsa kita, kan? Kan katanya mau maju? Trus, kan katanya mau jauh dari penjajahan? Kok malah niru gaya orang lain, ya toh?
  4. Sering-sering baca Novel karya Penulis Indonesia – Ingat, Pemirsa Utama adalah Bangsa Indonesia. Kalau Novel yang akan diangkatkan menjadi Film adalah Novel karya Penulis Indonesia, maka besar kemungkinan “selera” Pemirsa Indonesia juga sama. Ini membantu Pemirsa Indonesia untuk memahami “konteks” film tersebut. Dan, tidak perlu membawa tema yang berat-berat, yang ringan-ringan saja, tapi menarik, dan bisa dijadikan pembelajaran. Tidak usah difikirkan “selera” Pemirsa luar negeri, sebab mereka juga sudah punya banyak stok Film di negara mereka. Laku di Indonesia saja sudah membawa Jutaan Rupiah, mengapa Repot-Repot Memikirkan Untung dari Negara Luar? Pada bagian ini, tentu penting kita lihat Konteks Film kita. Kalau masalah sensitif Budaya dan Agama kita diangkat, sebaiknya jangan. Masih ada wadah dan media yang lebih proporsional untuk hal ini.
  5. Pahami Dampak Film Tersebut bagi Anda – Ingat, Tidak Semua Pemirsa akan Berfikir seperti Anda. Kalau Film yang Anda buat itu berkisah tentang Realita dan Masalah Kehidupan, berikan Solusinya yang Konkret, Jelas, dan Masuk Akal serta sesuai dengan Konteks di mana Pemirsa Hidup dan Tinggal, apalagi disesuaikan dengan Konteks Agama dan Budaya mereka. Bukankah Anda akan bahagia jika Film Anda bisa membawa kedamaian di hati Pemirsa? Bagaimana rasanya bagi Anda, bila beberapa Pemirsa Anda mengungkapkan rasa senangnya setelah menonton karya Film Anda? Dan bagaimana pula rasanya jika Anda mendengar dan membaca caci maki Pemirsa Film Anda?
  6. Diskusi dengan Pakar-Pakar yang Menguasai Ilmu Perfilman, Budaya, Seni; dan Belajar dari Film-Film Box Office Indonesia, bukan Box Office Negara Lain. Ini penting, karena berkaitan dengan Konteks. Dari seluruh Film kita yang laku keras, coba dianalisa Film seperti apa yang masih “disukai” Pemirsa, kalau memang niat Anda ingin mendapat Profit. Pertahankan ke arah demikian. Sepertinya, Pemirsa kita, pilih-pilih di dalam menonton Film. Dan, sistem pemasaran Film biasanya dari mulut ke mulut, dan dari blog ke blog, serta dari status di FB mereka, atau Twitter, dan bahkan radio, serta pamflet yang disebarkan di kampus-kampus. Kalau saja satu orang kritis terhadap Film Anda, maka, besar kemungkinan teman-temannya yang lain juga tidak akan suka. Jadi, sebaiknya perhatikan betul konsep Konteks dan Pemirsa jika Anda ingin Film Anda laku dan diminati oleh Pemirsa Indonesia.
  7. Selalu Ingat Pemirsa – Ingat, Pemirsa itu Individu, bukan Khalayak Ramai, tidak bisa dipukul Rata. Bisa jadi karya Film Anda sangat berarti bagi seseorang yang Anda kenal, (atau Anda ketahui di dunia maya, misalnya), namun bukan berarti Anda membuat Film untuk dia seorang, kan? Apa manfaatnya bagi orang banyak untuk mengetahui dan menyaksikan Film ini? Diskusikan dengan teman dan rekan-rekan Pakar Ilmu Budaya, Sastra, Film, dan Bahasa, serta Pendidikan, yang duduk manis di kantor mereka di berbagai Universitas di Indonesia mengenai inspirasi yang Anda dapat. Dan juga, tanyakan juga kepada anak-anak muda yang sedang nongkrong, Film seperti apa yang bagus buat mereka. Apalagi kalau tema Film Anda adalah Agama dan Budaya. Tema ini sangat-sangat berat untuk diangkat. Kalau tidak punya landasan yang jelas mengenai Agama dan Budaya apa yang akan Anda angkat, Anda hanya akan menghasilkan kekisruhan. Hal yang sensitif tidak perlu disajikan, sebab, bukankah budaya bangsa Indonesia, yang suka menjaga perasaan sesamanya? Kalau kita membuat Film dengan tujuan dan target Pemirsa yang jelas, pasti Film kita, paling tidak, bernilai manfaat bagi Pemirsa kan? Film yang bagus itu, menurut saya, adalah yang bila kita tonton berulang-ulang, akan selalu ada makna dan nilai yang ada di dalamnya, tidak hanya sekedar sebatas mengangkat isu terkini atau hal-hal yang sudah jelas garis pembatasnya di tengah kehidupan kita. Orang awam pun, jika mereka suka dengan sebuah Film, pasti akan dibeli Copy-nya yang asli, dan dipinjamkan ke teman-temannya. Alhadil, Pemirsa Anda akan lebih banyak ketimbang yang duduk di bioskop. Secara jangka panjang, pasti akan mengikuti karya-karya Anda kembali ke kemudian hari. Jadi, mana yang penting, unsur Profit, atau unsur manfaat jangka panjang dari Film Anda itu?

Pada saat membuat Film:

  • 1. Apakah Pemain Film sudah terkenal atau pemula?

Ini perlu diperhatikan dengan baik karena “image” pemain Film akan mempengaruhi Pemirsa di saat menonton Film. Kalau pemain Film-nya sudah kadung memiliki image yang baik di mata masyarakat, berikan kesempatan kepada pemain Pemula, agar mata orang Indonesia segar dengan apa yang mereka saksikan di Film Anda. Namun, tidak salah juga mempertahankan selebritis yang bagus dan baik kepribadiannya di tengah masyarakat. Sekalipun dia bermain antagonis, toh, orang akan tetap suka padanya. Kalau pun selebritis itu berperan baik-baik, atau protagonis, misalnya, orang tetap tidak akan suka kalau kenyataannya si dia punya perilaku buruk dan tidak patut dicontoh.

  • 2. Apakah Lokasi atau Setting Pembuatan Film memiliki Sejarah atau Intrik Khusus dengan Film yang akan Dibuat? Kira-kira, reaksi warga Indonesia mengenai lokasi tersebut bagaimana?

Kalau kita Arif dan Bijaksana, kita tentu seharusnya tahu apa kaitan antara Film kita dengan lokasi syuting. Jangan salah lho, Film-Film Barat itu sangat mementingkan Lokasi. Lokasi berbicara secara tidak langsung kepada Pemirsa. Karena lokasinya di “New York”, maka terkesan Oke kan? Coba tengok Film-Film yang berlokasi di kota-kota besar Amerika Serikat, misalnya. Makanya banyak yang suka karena kata “New York” saja sudah membuat orang lain suka. Coba kalau kita menonton Film yang lokasinya di daerah kumuh, atau tempat-tempat di negeri dongeng, apa ingatan kita tertuju pada suatu tempat di sekeliling kita? Setiap Pemirsa, memiliki ingatan tersendiri lho, soal lokasi syuting dan setting di mana cerita Film tersebut dimainkan. Dan, yang lebih lagi, Film juga bisa digunakan untuk memasarkan nama dari suatu kota atau negara, misalnya, Australia. Oleh sebab itu, sensitifitas Sutradara dan Produser di dalam membaca situasi ini penting. Buat saja Film yang  disukai Pemirsa sesuai Konteks, pasti kemungkinan laku sangat besar. Jadi, enggak perlu berbelit-belit, kan? Apalagi yang kontroversi, mereka juga bakal menonton, tapi jika setelah menonton karya Anda, Pemirsa Anda malah mengutuk pekerjaan Anda, apa manfaatnya, coba? Tentu kedamaian di hati Anda, akan terusik. Jika tidak, yah, Tuhan Maha Tahu.

  • 3. Apakah Alur Cerita Masuk Akal?

Pemirsa akan bertanya-tanya di saat menonton Film. Apa iya, bisa begitu? Misalnya, dari itik menjadi kuda zebra. Kok bisa? Ya, itu masuk ke wilayah animasi. Bisa aja, karena memang beranjak dari dunia tidak nyata. Kalau dunia nyata? Ya tentu buat Film yang Alur Ceritanya Masuk Akal. Jangan sampai Pemirsa ketawa cekikikan pas tahu, kalau Judulnya Serius, eh, alurnya seperti perubahan dari sebuah batu menjadi burung elang. Kalau animasi, ya animasi, segala hal bisa terjadi. Tapi kalau Film dari dunia nyata, tentu kita bisa mengukur, sejauh mana sih “ke-tidak-masuk-akal-an” yang disuguhkan? Kalau Filmnya tidak Masuk Akal, seperti Super Hero, jangan tanggung-tanggung, meski tetap sisi kemanusian harus tetap ada. Lalu tanya juga, “Masuk Akal, nggak? Apa kira-kira orang lain akan mengalami Hal yang sama? Kira-kira, bagaimana ya?”

  • 4. Apakah Unsur-Unsur Kebudayaan Sudah Direpresentasikan dengan Baik?

Ini penting lho. Bayangkan kalau seandainya sebuah kata kasar di daerah Batak, misalnya, digunakan sebebas mungkin di Film Anda yang justru malah menghina orang Batak karena tidak sesuai dengan Konteksnya. Film Anda sudah terlanjur dibuat dan diedarkan. Lalu bagaimana? Kan kita sudah tahu pepatah orang Indonesia, “Sedia Payung Sebelum Hujan”, yang sama dengan konsep, “Better Safe than Sorry” di mata dunia. Itu sebabnya, sensitifitas akan kebudayaan bangsa kita itu penting. Jika tidak, tentu Film yang Anda buat itu malah menjadi Titik Api, yang malah mengobarkan masalah baru di khalayak Pemirsa? Sebaiknya, alangkah baiknya jika Film kita itu, dibuat untuk memberikan penerangan akan Solusi dari sebuah Permasalah Hidup yang ada, dan Solusi tersebut harus sesuai dengan, kembali, Agama dan Budaya kita, serta Hukum dan Aturan Negara kita. Kata siapa membuat Film itu, gampang? Susah lho. Capek juga. Yang gampang itu membuat Film Sampah, seperti Pornografi itu. Isinya itu-itu aja, tidak ada penambahan (bagi Anda yang dewasa, pasti mengerti akan hal ini). Maka dari itu, kita tentu tidak ingin menjadikan karya kita sia-sia, ‘kan?

  • 5. Apakah Kostum yang Digunakan pada Film ini akan Menyinggung Sekelompok Etnis di Indonesia?

Perlukah bagian ini? Perlu. Bukankah budaya kita terkenal dengan pakaiannya yang baik dan rapi? Kalau Film Anda bertema Agama dan Budaya, usahakan Anda mengerti dulu, mana yang boleh dan tidak boleh di agama dan budaya tersebut, termasuk perihal pakaian atau Kostum. Jika Anda sembarangan membuat karya yang tidak sesuai dengan Agama dan Budaya, berarti Anda sudah berniat jahat terhadap Agama dan Budaya tersebut. Sederhana, tapi memang demikian adanya, kan? Penjual yang baik itu, yang menjual barang dagangan berkualitas tinggi, dan tentu, kalau Pembeli Komplen, itu hak si Pembeli. Kita tentu pernah menjadi Pembeli kan? Tentu mengerti kenapa Pembeli bisa Komplen. Mengenai Budaya Etnis, lebih baik kita angkat etnis tersebut ke Film kita, sembari kita berikan Solusi yang baik dari permasalahan yang mereka hadapi melalui Film kita dengan sudut pandang yang sejelas-jelasnya. Itu baru namanya, Seni, bukan sekedar Gambar Bergerak. Coba bayangkan, misalnya, pakaian tradisional Bali, digunakan untuk tema pelacuran di kota Jakarta, kan enggak nyambung, malah itu menghina budaya Bali, kan? Ingat lagi konsep Konteks dan Pemirsa.

  • 6. Apakah Totalitas Akting Pemain Film sesuai dengan Bagaimana Dirinya di Dunia Nyata?

Media Informasi dan Teknologi berkembang pesat di Indonesia, termasuk Televisi, Koran, dan Majalah. Peran Pers di dalam membuat berita mengenai selebriti juga bisa mempengaruhi bagaimana Pemirsa “menilai dan melihat” sebuah Film. Jika saja ada selebriti yang reputasinya buruk di media massa Indonesia, sudah tentu Pemirsa sedikit enggan menyaksikan Film Anda, kecuali jika memang Film Anda pantas dan layak ditonton oleh Pemirsa. Pemirsa yang kritis dengan Film akan berfikir, Manfaat Film ini buat Gue Apaan ya? Gue enggak mau buang-buang duit dan waktu cuma buat Film ini doank. Begitu.. Kan, bangsa Indonesia, sudah mulai cerdas? Apa iya?

  • 7. Apakah Unsur Seni disini Berupa Keindahan Bahasa dan Cerita atau Keindahan Tubuh Belaka?

Seni yang baik itu, adalah Seni yang menggugah hati, rasa, dan indera, bukan hanya nafsu. Melihat foto-foto pose selebritis wanita atau pria yang telanjang atau pun hampir telanjang, tidak akan membawa apa-apa selain dangkalnya unsur Seni. Lagi-lagi, kita lihat Konteks Seni di sini. Seni di Indonesia itu, seperti apa? Apa nonton orang bertelanjang di depan layar atau yang sedang bersetubuh? Tidak, kan? Trus, video lagu dangdut itu, bagaimana? Itu sih, biasa, cuma goyang-goyang aja. Kalau sudah menayangkan video manusia yang berpose hampir bugil, sama artinya dengan menggunakan seorang manusia demi objek seks. Apa bedanya dengan menonton penari bugil di bar? Bagaimana rasanya jika Anda sedang berpose seperti itu dipublikasikan ke khalayak ramai? Apa Anda mau? Saya sih, enggak, meski dengan bayaran jutaan pun. Bukan karena saya jelek atau tidak secakep artis lainnya, cuma karena saya tahu akan jati diri sebagai orang Indonesia. Buat apa sekolah kalau pada titik ini, masih mau dibodohi orang. Ya, kan?

Setelah Membuat Film:

1. Serahkan semua penilaian tentang Film Anda kepada Pemirsa. Bukankah Anda membuat Film, sebagai sebuah karya, untuk Pemirsa Indonesia agar mereka bisa menjadi lebih baik menurut pandangan Anda? Jika mereka tidak suka, itu kan bagus, bisa dijadikan bahan untuk membuat Film yang lebih baik lagi di kemudian hari?

2. Berikan Penjelasan Mendasar pada Bagian Awal Film tersebut agar Pemirsa Mengerti “Konteks” bagaimana Film tersebut Harus Dilihat supaya Tidak Ada Kontroversi Mengenai Film Anda dan Anda tidak perlu dilaporkan ke Pengadilan karena Alasan Pencemaran Nama Baik, Baik Nama Baik atas Nama Individu, Suku, Agama, Ras, dan atau Kebudayaan Daerah di Indonesia. Ini penting, lho.

3. Buat Trailer Film Anda semenarik-menariknya dan Sesuaikan dengan Alur Cerita Film secara Keseluruhan. Anda tidak mau, kan, calon Pemirsa lari atau membenci Anda hanya karena menonton Trailer Anda yang jelek? Sekalipun hanya dari Trailer, adalah hak Pemirsa untuk menilai kualitas Film yang Anda buat. Jika Trailernya jelek, mana mungkin Pemirsa akan membuat duit dan waktunya untuk menonton Filmnya secara keseluruhan?

Kesimpulan:

Silahkan ambil sendiri-sendiri ya.

Saya cuma menjelaskan saja. Boleh diambil dan dicerna baik-baik. Jika ada yang kurang pas di hati, silahkan komentar di bawah ini ya. Jika setuju, jelaskan juga mengapa Anda setuju.

Salam.

Sukses selalu perfilman Indonesia! Jadilah yang unik dan kreatif. Bukan jadi pengikut gaya Film orang. Be yourself as the way who you are, if you find something good that people say for your achievement and you, deeply inside you know that, please don’t deny it ~ 

Merdeka Indonesia! Indonesia Raya! 🙂

(Ditulis di Edwardsville, Illinois, Amerika Serikat, January 5, 2013)