Kenangan Itu: Tari Rantak di Amerika Serikat saat Studi S2


Tulisan ini adalah sebuah cerita. Tentang pengalaman. Tentang kepercayaan diri. Tentang sebuah kebanggaan pribadi yang dipersembahkan untuk bangsa dan tanah air tercita.

Kenangan Itu ~

Saat ini, tanggal 7 Maret 2019. Telah lama, memang. Masih terngiang suasana di ruangan itu, pada malam itu, saat aku akan tampil di sebuah Malam Internasional di kampus tempatku menuntut ilmu. Suasana begitu ramai, tapi formal, dan teratur. Kampus Southern Illinois University Edwardsville di Amerika Serikat.

Kulihat di depan, ada sebuah panggung. Tempat di mana aku akan menampilkan tari itu. Tari Rantak. Tari tradisional yang berasal dari dan dikenal luas di kalangan masyarakat Minangkabau. Entah apa yang membuatku begitu semangat untuk menampilkan tari ini. Ada semacam semangat. Gelora. Keberanian. Itu semua terasa olehku pada saat tampil di sana. Ah, ini telah 7 tahun lamanya.

Setiap kali kupandang dan kulihat video itu, aku bertanya dalam pikiran, “Hey, maukah kamu seperti itu lagi?” Jawabku, “Entahlah…” Meski waktu itu aku beranikan diri untuk belajar otodidak menampilkan tari Minang. Jujur, aku tak pernah belajar menari. Biasalah, dulu itu, bila kamu laki-laki dan belajar menari, kamu dipanggil banci. Ternyata, tidak sama sekali. Bullying yang kalah. Untuk apa aku dengarkan?

Mungkin bila boleh aku share, kok bisa aku naik ke panggung itu? Aku bukan penari khusus untuk acara internasional. Aku bukan anak muda yang mungkin tidak dipersiapkan untuk itu. Namun, kuakui, daya pendorong utama adalah ini: “Ma, Pa, lihat… San tampil di dunia! Membawa harum budaya Minangkabau! Dari sudut kecil di Indonesia!” Di hatiku, rasa itu begitu kuat dan kencang.

Dan sekarang, telah 7 tahun lamanya. Suasana yang masih terasa di hati dan terngiang di telinga. Lucunya, meski di hati ada rasa bangga ber-Minangkabau, ada juga yang menggeledek, “Iko di Minang ko!” Kutatap matanya, seperti ia tidak pernah mengenal orang lain saja. Di KTP, mungkin aku terlahir di Bandung, tepatnya Garut, Jawa Barat, namun ibuku adalah orang Minangkabau asli. Sungguh, sebuah kesemena-menaan bila tempat lahir dijadikan patokan untuk menilai sesama. Bila itu di Indonesia, maka ia adalah orang Indonesia. Hanya saja, cintakah ia ke Indonesia?

Bila diingat lagi, waktu terasa begitu singat kala itu. Terima kasih buat Ruth, Jake, Illona, Doddy, dan semua teman-teman internasional yang ada di SIUe. Ahmad, Nadeem, dan semuanya yang tak tersebutkan satu per satu. Thank you so much, guys! Your presence is so precious at those times.

Akankah aku tampil seperti di atas lagi? Aku tidak tahu, tapi mungkin aku ingin anak-anak muda lainnya yang menampilkan seni tari dan musik tradisional Indonesia di panggung dunia.

Ah, aku ini siapa. Ada beribu cerita yang hendak ingin kusampaikan. Yuk, merapat. Akan kuceritakan padamu arti dari Cinta yang Tak Biasa 🙂

Cinta yang menggelora, meski dalam wujudnya tak pernah ada, karena hanya mata hati yang bening, yang selalu memahaminya…

Tetap, apapun itu, aku masih cinta Indonesia.

Aku ingin membawa Indonesia ke mata dunia. Akankah itu terwujud? Wallahua’lam bi shawab. Hanya Tuhan yang Maha Esa yang lebih tahu. Aamiin.

Padang, 7 Maret 2019.

Syayid Sandi Sukandi

 

 

Advertisements

Comments or Feedback

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s